Hal Tatazawajani (1)

Cerpen, Fiksiana626 Dilihat

Logo KMAC-YPTD“Sinta, Abdul, Anwar.” Nyaring suaraku mengabsen satu persatu siswa.

Menyebut nama Anwar membuatku tersenyum kecil, ada yang mencuit hatiku ketika menyebut namanya.

Anwar bin Khalid melayu sekali, sama seperti diriku anak melayu dengan mendengar namaku saja pasti langsung mengatakan aku perempuan melayu bukan perempuan melayu terakhir tentunya.

Ya, Fatimah Ahmad mungkin menjadi kebiasan orang melayu selalu membubuhkan nama Ayah dibelakang nama anak perempuanya.

Orang rumah lebih suka memanggilku dengan sebutan Fat sementara teman sedari Es Ed sampai kuliah memanggilku Imah katanya Imah lebih cocok dengan wajahku yang ayu seperti orang jawa, Senyum terkembang ketika mereka mengoceh hanya untuk memberikan nama panggilan untukku.

Dulu aku selalu berpikir akan menikah dengan orang jawa mengingat dan menimbang lima tahun aku mengali ilmu di Yogyakarta yang terkenal dengan kota pelajarnya.

Bukan maksudnya ingin gaya – gayaan aku memilih Yogyakarta tempat untuk menimba ilmu lebih kepada murahnya biaya hidup dan pendidikan di sana sewaktu zamanku kuliah dulu, tapi sekarang katanya sama mahalnya dengan kota lainnya.

Imah panggilan yang cocok jika jodohku orang jawa, tapi semua hanya tinggal harapan setelah selesai kuliah aku harus pulang kampung mengabdi pada kota kelahiran Karimun yang lebih membutuhkanku saat itu.

***

Gelar perawan tua bukan hal baru untuk yang melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi, aku salah satunya apalagi setelah mengabdi selama tahun masih sendiri membuat aku seakan tidak memikirkan gelar perawan tua yang selalu menyatu dengan diriku saat ini.

Suara riuh mengema, sejak tiga hari yang lalu indra pendengaranku mendengar pertanyaan kapan menikah, biasalah nasib perawan tua jika merewang diacara pernikahan.

“Fat, jangan pilih – pilih nanti mencapai umur tiga puluh susah dapat anak.” Mak Ngah salah satu adik Emakku yang selalu kepo dengan kesendrianku.

“Belum turun jodoh Fat Mak Ngah.” Jawabku santun.

“Cari Fat, bukan hanya berharap turun dari langit.” Lanjut Mak Ngah lagi

“Nak cari kat mana Mak Ngah, kalau bisa dicari di pasar dah dapat dari dulu.” Ucapku mencoba melawak.

“Kau ye Fat, dicakap orang tua bawa bermain.” Kesal Mak Ngah mendengar aku selalu menjawab pertanyaannya dengan candaan.

Akhirnya aku memilih untuk meninggalkan kumpulan Emak – emak yang sibuk dengan segala menu makanan yang akan disajikan.

Langkahku menuju ruang tengah menuju kamar pengantin, sepupuku yang baru berumur 24 tahun sudah menemukan jodohnya sedangkan aku tahun ini menginjak 27 tujuh masih sendiri.

Senyum manis menyambut kehadiranku di kamar pengantin,

“Duduk sini Kak Fat.” Melambai tangan pengantin yang sudah berinai mengajakku duduk di sampingnya.

“Jangan dipikirkan apa kata orang Kak, Ina tahu tak lama lagi jodoh kakak pasti datang.” Aku tersenyum mendengar petuah dari calon pengantin.

Memperhatikan semua yang menghiasi kamar pengantin, kapan masaku datang duduk menanti seseorang mengijab kabul atas namaku.

***

Suara gaduh kompang yang menjadi tradisi pernikahan di kampung kami sudah terdengar, semua sibuk tugasnya masing – masing termasuk dengan diriku yang didaulatkan untuk menjadi pengapit perempuan.

“Biar cepat datang jodohnya,” Kata Mak Ngah ketika meminta aku menjadi pengapit perempuan dan aku tidak bisa menolaknya.

“Sah.” Bergema suara diruang tengah yang sudah disulap menjadi ruang pelamin oleh Mak Andam.

Aku berdampingan dengan pengantin berjalan dari kamar menuju ruang tengah, deg netraku menatap sosok yang menjadi pengapit suami sepupuku, bukankah itu Bang Anwar batinku.

Berusaha menenangkan diri, senyum tak sempurna terpaksa aku berikan ketika netra kami bertabrakan.

Jantungku berdegup kencang, ketika Bang Anwar menyapaku dan mengajak berbicara setelah selesai tugas kami menjadi pengapit pengantin.(Bersambung)

 

Tinggalkan Balasan