Seperti dicucuk hidung aku mengekor di belakang Bang Anwar menuju salah satu sudut yang tidak terlalu ramai.
Kami duduk bersebelahan, untung saja di pesta pernikahan jika tidak aku tidak akan mampu duduk berdua dengan Bang Anwar seperti saat ini.
Suara hiruk pikuk pesta tak membuat suara degup jantungku lemah, bahkan saat ini aku merasa cukup keras sehingga aku berdoa semoga Bang Anwar tidak mendengarnya.
“Sudah lebih tiga bulan kita tidak bertemu seperti permintaanmu, bagaimana kabarnya Fat?” jantungku bertambah kencang mendengar ucapan Bang Anwar.
Terkenang pertemuan kami dua bulan yang lalu, bagimana Bang Anwar menawarkan satu hubungan yang dulu pernah terputus ketika aku memilih untuk melanjutkan pendidikan di kota Yogyakarta.
Dulu Aku menganggap Bang Anwar hanya sebatas Abang saja, bagaimana tidak sedari kecil aku sudah mengenalnya.
Belum mengenal istilah peknggo kata orang jawa, ‘peknggo‘ atau singkatan dari ‘ngepek tonggo’. Ngepek tonggo sendiri adalah situasi di mana kita berpacaran atau menikah dengan tetangga kita sendiri.
Sehingga Aku menolak ketika Bang Anwar mengatakan suka kepadaku, akhirnya aku tidak pernah memikirkan Bang Anwar setelah aku kuliah.
Benar pertemuan dua bulan lalu sungguh membuat aku dilema, bagaimana tidak dilema Bang Anwar menyatakan rasa sukanya lagi kepadaku padahal kami sudah lama tidak berjumpa, sejak saat itu entah dari mana aku tidak tahu Bang Anwar mendapat nomor kontakku.
Dua bulan ini Bang Anwar gencar mendekatiku dari cara yang paling halus sampai ke cara yang sungguh tidak terpikirkan olehku, datang menjemputku kesekolah padahal Bang Anwar tahu aku selalu membawa motor jika ke sekolah, wal hasil terpaksa aku menerimanya daripada drama kedatangannya memancing keruh suasana yang akan memalukanku sebagai seorang pendidik.
Dan hari itu kami beradu pendapat sehingga aku mengatakan tidak akan menerima Bang Anwar jika dirinya terus memaksa diriku.
Dan akhirnya Bang Anwar seperti ditelan bumi, taka da kabar darinya dan aku menyesal setelah dirinya tidak lagi mengejar diriku.
“Menikahlah dengan Abang, jika Fatimah masih menolak mungkin ini pertemuan terakhir kita.” Bang Anwar menjeda kalimatnya.
“Abang akan menerima tawaran untuk bekerja di Dubai, rasanya tidak sanggup harus terus melihat Fat akan merusak hati Abang.” Hatiku sontak sakit mendengar Bang Anwar akan pergi meningalkan diriku.
“Fatimah Ahmad Hal Tatazawajani?” aku tidak mengerti apa yang dikatakan Bang Anwar hanya menatap dirinya setelah dia berkata.
“Maaf Fat, maksud Abang Maukah Menikah dengan Ku itu arti kalimat yang baru saja abang ucapkan.” Senyum Bang Anwar tersenyum ketika mengartikan kata yang diucapkannya yang membuatku bingung.
“Abang memang tidak bisa romantis tapi kalimat ini sudah Abang hafal untuk meminta Fatimah menjadi istri Abang.” Kesungguhan terlihat dari mata Bang Anwar ketika mengatakannya.
Debaran di hatiku semakin kencang, sebenarnya malu mengatakan bahwa aku sudah meminta petunjuk – Nya atas kata suka Bang Anwar.
Dan aku tidak rela jika Bang Anwar harus berangkat ke Dubai dan meninggalkan aku.
“Sekali lagi Abang Bertanya Fatimah Ahmad Hal Tatazawajani?” hanya anggukan kepala yang bisa menjawab pertanyaan Bang Anwar.
***
Hari ini aku bukan sebagai pengapit pengantin, tapi pengantin yang menunggu Bang Anwar mengucapkan ijab atas namaku, bergema suara sah di ruang tengah rumah.
Senyumku mengembang ketika aku menganggukkan kepala, Bang Anwar berlari mendapatkan orang tuanya dan meminta mereka melamarku ke esokkan harinya.
Sebulan, hanya sebulan waktu yang diberikan Bang Anwar untuk kami mempersiapkan pernikahan tidak ada pertunangan, kata Bang Anwar sudah terlalu lama menungguku dan dia tidak mau menunggu lagi.
“Sah.” Suara mengema dari ruang tengah rumahku.
Mak Andam mengapit tanganku menuntunku menuju keruang tengah, dimana Bang Anwar sudah menungguku.
Netra kami bertemu, senyum malu ku menatap Bang Anwar yang intens menatapku.***







