Cinta Tak Berujung(part 1)

Cerpen, Fiksiana361 Dilihat

Dia bukan tipeku banget, bagaimana tidak kehidupan kami sangat berbeda. Aku dari keluarga yang ketat dalam displin, bagaimana tidak Ayahku seorang perwira angkatan darat, ibu seorang guru yang selalu menjujung tinggi yang namanya peraturan. Dari kecil aku sudah terbiasa dengan yang namanya peraturan dan berjalan diatas relnya walaupun pada awalnya akan terasa sakit tapi alah bisa karena biasa. Tapi semuanya berubah 2 tahun kebelangan ini, bagaimana tidak semua karena pilihanku.

“Na, sudah kau pikirkan masak – masak keputusanmu?” Sahabatku Sri  dari masih dalam kandungan, kok bisa dari dalam kandungan. Ibuku dan Ibu Sri sudah berkawan sejak sama – sama menikahi perwira angkatan darat. Perkenalan mereka menjadi sahabat mulai sejak saat itu sehingga kemudian dalam waktu yang sama mereka mengandung, ya akhirnya aku dan Sri menjadi sahabat sejak itu.

“Aku sudah memilih jalanku, bosan tinggal di lingkungan yang taat peraturan sampai aku jenuh tingkat dewa aku ingin lepas dari semua itu.” jawabku santai

“Kau kan tahu bagaimana kita dari kecil, semua penuh dengan peraturan aku sudah lelah Sri.”

“Aku pingin bebas, dan Aku sangat menyukai gaya hidup Adam.” Itu dulu ketika aku memilih untuk menikahi Adam.

***

Muhamamad Adam, umurnya 2 tahun diatasku. Sarjana Ekonomi, tapi hobi mendaki gunung. Gayanya yang santai membuatku jatuh hati padanya. 4 tahun yang lalu ketika aku mendaftar masuk di kampus biru, entah mengapa aku memilih ikut club mendaki gunung di kampus hanya karena dirinya. Begitu santai gayanya membuatku betah berlama – lama memandang dan memperhatikannya.

Ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan,

“Ana, sudah punya pacar.” Tanyanya kala itu ketika kami lagi mendaki gunung

“Belum.” Karena sudah terbiasa bicara tanpa basa – basi akhirnya dengan santai aku mengatakan belum.

“Mau jadi pacarku.” Aku melihat sekilas padanya

“Pacar yang keberapa?” Dia melotot, marah padaku

“Memangnya mau yang nomor berapa?” dengan ketus dia berkata

“Maunya langsung nikah, malas pacaran kayak anak SMA saja.” santai aku menjawab.

“Siap, kalau siap menikah besok aku datang melamar.” Aku tersenyum mendengarnya

“Aku serius.” Katanya menyakinkanku

“Datanglah,” Candaku(bersambung)

***

Tinggalkan Balasan