Helaan napas panjang sudah dua hari ini terdengar dari mulut suamiku, bagaimana tidak sudah seminggu pemasukan kami berkurang menyebabkan tabung harus diambil untuk mencukupi kebutuhan sehari – hari jika terus begini niat untuk pulang kampung menyambut ramadhan pertama tentu tidak terwujud.
Pulang kampung hanya menyebarang saja, menggunakan kapal pancung yang hanya butuh dana sebesar kurang dari lima puluh ribu seorang tapi karena kami empat beranak tentu lumayan dana yang dibutuhkan, tidak mungkin pulang kampung untuk melihat emak dengan tangan kosong sejak Abah meninggal Emakn hanya tinggal dengan adik suami yang terkecil karena belum berkeluarga.
Sejak covid dinyatakan mereda sudah lebih empat tahun kami tidak pulang untuk menyambangi makan Ayah serta melepas rindu suami, anak – anak kepada Nenek dan Makcunya.
Hanya tinggal sepekan lagi, anakku yang bungsu terserang demam berdarah sehingga harus dirawat.
Lingkaran hitam sudah terlihat di wajah suamiku, dadaku sesak jika melihatnya ada sesal kenapa aku lebih memilih menjadi Ibu rumah tangga setelah menikah.
“Astafirullah.”seakan tersadar aku mengusar wajahku sehingga jilbabku bergeser dari tempatnya untung saja tidak ada orang di dalam kamar rawat inap tempat anakku di rawat.
Tidak ada kata yang bisa membuat suamiku tenang, aku tahu itu. Senyum tak ikhlasnya selalu tersemat di bibirnya ketika aku mencoba menghiburnya, ada beban berat yang tak lepas dari pundaknya aku tahu itu.
“Sepertinya kita tidak bisa pulang kampung untuk sekedar menyenangkan Emak sementara untuk Abah kita bisa mengirim doa setelah sholat.” Ucapnya suamiku dengan nada sedih.
“Abang saja yang pulang biar Minah dengan anak – anak.” Aku berusaha membuat dirinya senang dengan menawarkan hanya dirinya yang pulang.
“Emak rindu kita semua.” Tapi lagi – lagi aku usulku dipatahkan oleh suamiku.
Akhirnya kami terdiam tidak ada lagi yang bisa kami bincangkan malam ini setelah tadi siang anakku diperbolehkan untuk pulang ke rumah.
***
“Aminah.” Tergopoh aku berlari ketika mendengar suara suamiku meneriaki namaku.
Tidak pernah suamiku memanggil namaku dengan nama penuh seperti ini, jangan katakan ada lagi masalah yang harus kami hadapi menjelang dua hari lagi ramadhan.
“Ada apa Bang?” Ucapku terengah ketika sampai di depan suamiku yang baru saja masuk ke dalam rumah.
(Bersambung)






