“Angkat teleponnya diluar.” Suara seseorang menegurku
Dengan langkah tergesa aku keluar dari ruang perpustakan mencari kursi – kursi yang tersedia di depan perpustakaan untuk menerima telepon dari Bang Arsad.
“Walaikumsalam.” Jawabku singkat setelah mendapatkan kursi untuk duduk
Entahlah lidahku teras kelu untuk berbicara, aku membiarkan Bang Arsad yang memulai pembicaraan.
“Abang sudah sejam menunggu Latifah di rumah, kenapa belum pulang.” Suara cemas terdengar dari seberang sana
Senyumku kecut, mengkhawatirkan diriku, hello kemana semalaman Bang Arsad baru sejam menungguku sudah membentak dengan mengatas namakan cemas.
“Baru sejam Bang, ifah sudah lama menunggu Abang.” Tak kurang tinggi suaraku menjawab ucapan Bang Arsad.
“Abang mendapat musibah, untung Abang baik – baik saja, tapi karena yang menabrak Abang anak di bawah umur maka sulit mengali informasi, karena anak itu takut kena marah orangtuanya jadi kami sulit mencari informasi dimana dirinya tinggal. Abang kalut sampai lupa untuk memberi kabar kepada Latifah.” Oceh Bang Arsad panjang lebar.
“Itu kemaren, sebelumnya juga Abang mengacuhkan ifah.” Jawabku datar.
“Latifah Bintu Umar Katap pulanglah kita bicara di rumah.” Suara berat yang jarang Bang Arsad keluarkan, hanya ketika marah aku mendengarnya.
Tut tut tut tanpa mengucapkan salam Bang Arsad memutus percakapan kami, dengan malas aku melangkah menuju pakir motorku untuk menuju rumah.
Butuh setengah jam aku sampai di rumah, sengaja memperlambat jalan motorku malas untuk pulang jika akhirnya kami akan berdebat panjang.
Suasana hening, tidak ada tanda – tanda kehidupan di rumahku, jangan bilang Bang Arsad pergi setelah menyuruh aku pulang. Menekan panel pintu depan setelah memasukkan anak kunci untuk membukanya.
Happy Annivesary, teriakan dari dalam rumah mengejutkan Aku. Ada Ayah Emakku juga Abah serta Ibu mertua Adikku dan Adik Bang Arsad berkumpul diruang tamu.
Menetes air bening melihat Bang Arsad berdiri menatap diriku dengan senyum yang dulu membuatku takluk dengan cinta dan akhirnya menerima lamarannya kepadaku.
“Masih marah, beberapa hari ini Abang mempersiapkan pesta pernikahan kita yang kesepuluh, maaf membuat Latifah merasa di acuhkan.” Makin deras air bening yang keluar meleleh dipipiku.
Malu tentu malu, dengan kasar aku menghapus tetes air bening dan meraih tangan Bang Arsad untuk menciumnya tanda takzimku sebagai istri.***







