Assalamualikum wr wb, sehat selalu bagi pembaca. Tak terasa sudah berada di akhir pekan saja, sabtu ini 21 Mei 2022 Nyakbaye disibukkan dengan pekerjaan yang tidak jauh dari profesi Nyakbaye sebagai seorang pendidik tentunya.
Setiap bulannya ada agenda untuk mengikuti MGMP untuk menambah wawasan ataupun berbagai ilmu dengan guru – guru hebat yang bergabung dalam MGMP IPS B terdiri dari Mata Pelajaran Ekonomi dan Geografi.
Bagi seorang pendidik pertemuan MGMP tentu menjadi wadah untuk berbagai trik jitu dalam menghadapi masalah mengajar, walaupun dengan kondisi yang berbeda tapi ada beberapa hal yang bisa dilakukan bersama.
Contohnya pertemuan hari ini, workshop kami mengenai masalah penilaian. Sebagai seorang pendidik, masalah penilaian menjadi ujung tombak keberhasilan peserta didik. Mengenali peserta didik sangat penting sehingga penilaian yang diberikan juga tidak membuat berat peserta didik.
Tapi celoteh Nyakbaye hari ini bukan mengenai penilaian hasil dari workshop MGMP IPS B tapi lebih kepada celoteh Nyakbaye bagaimana harus sampai pada sekolah yang menjadi tujuan MGMP. Walaupun jarak yang ditempuh hanya memakan waktu satu sampai satu setengah jam, tapi karena menaikan bot alias perjalan laut ini yang akan menjadi cerita Nyakbaye hari ini.
Berdasarkan informasi kapal yang berangkat menuju tanjung batu ke SMAN 1 Kundur pada pukul 7.15 wib. Sehingga Nyakbaye berusaha sebelum jam 7. 10 sudah berada di pelabuhan, dikarenakan padat maka mobil tidak bisa pakir dekat dengan pelabuhan, akhir terpaksa agak berlama – lama di parkir. Setelah sampai di tempat tunggu, sempat pula Nyakbaye duduk melihat kiri kanan memperhatikan kenapa tidak ada teman – teman MGMP yang seharus sudah sampai di pelabuhan. Agak sedikit curiga akhirnya Nyakbaye membuka gawai ternyata teman – teman sudah pada menaiki kapal. Dengan tergesa Nyakbaye menuju poton, dengan napas tersegal ternyata kapal pertama menuju Tanjung Batu sudah jalan, dengan terpaksa Nyakbaye harus menunggu sekitar 45 menit untuk menunggu kapal berikutnya. Untung saja ada teman yang juga terlambat sehingga ada juga teman untuk berangkat bersama.
Walaupun perjalan ini bukan yang pertama ke Tanjung Batu, tetapi setelah hampir dua tahun tidak menginjakkan kaki ada rasa tidak nyaman, apalagi Nyakbaye belum pernah ke Tanjung Batu hanya berdua saja. Belum lagi gelombang laut yang juga menjadi pemikiran, apalagi dua hari sebelumnya ada teman sekolah yang mengadakan MGMP ke Tanjung Batu mengatakan gelombang lumayan kuat. Sambil berdoa Nyakbaye berharap selama perjalanan yang memakan waktu satu jam lebih sedikit tidak ada gelombang kuat yang menyertai kami.
Walaupun anak pulau yang perjalanannya banyak menggunakan laut, bukan berarti Nyakbaye kuat jika harus berhadapan dengan gelombang laut, perjalan laut biasanya Nyakbaye lakukan bersama suami atau bersama rombongan dalam jumlah yang besar sehingga jika terjadi gelombang laut yang kuat ada pengalihan suasana sehingga tidak terasa gelombang yang kuat itu berlalu.
Alhamdulillah perjalanan menuju Tanjung Batu, gelombang bersahabat. Tapi ketika pulang menuju pulang, gelombang sepertinya tidak bersahabat. Untung saja sewaktu pulang tidak seperti waktu pergi kami hanya berdua. Untuk pulang ini, Nyakbaye sudah bergabung bersama teman – teman guru lain yang berjumlah 15 orang, walaupun gelombang sempat membuat kami gelisah tapi karena dibawa bersenda gurau akhirnya tak terasa kami sudah sampai pelabuhan yang tadi pagi kami tinggalkan untuk menuju Tanjung Batu.
Inilah salah satu dilema tinggal di Provinsi yang terdiri dari pulau dimana tranfortasi lebih banyak menggunakan kapal laut, jika musim gelombang kuat untuk melakukan perjalanan pasti ada rasa was – was, tapi yang namanya anak laut suka tidak suka hanya tranfortasi laut sajalah yang menjadi penghubung kami.***









