Andi mengomeli diriku dengan mulut penuh nasi
“ Kamu itu kalau pacaran ingat Ibu, udah tahu Ibu sakit bukannya jaga Ibu malah pacaran” aku hanya memandang Andi dengan senyam – senyum saja.
“ Sudah makan dulu Andi, bicaranya nanti saja.” ibu mengingatkan Andi. Bukanya diam Andi masih terus mengoceh. Akhirnya Aku dan Ibu mendengar Andi terbatuk karena tercekik makanan yang dimakannnya.
“ Tu, apa Ibu bilang, kalau makan jangan bicara dulu.” Sambil Ibu menyerahkan gelas minuman kepada Andi.
“ Syukurin, siapa suruh makan sambil makan.”
“ Lho sukakan melihat aku tersedak begini.” Kata Andi membuatku tertawa dan akhirnya aku juga tersedak nasi yang lagi aku makan. Secepat kilat aku meraih gelas di meja dan meminumnya. Akhirnya Aku dan Andi di marahi Ibu. Kami saling pandang karena dimarahi Ibu.
Selesai makan Andi memapah Ibu masuk ke kamar, sementara aku membersihkan piring dan gelas bekas kami gunakan. Setelah selesai dengan dapur aku menyusul Ibu dan Andi di kamar.
“ Pasti lagi ngerumpikan?”
“ Emang lho selebriti di gosipkan” suara Andi, aku menghampiri Ibu dan Andi. Duduk di ujung kaki ibu,
“ Ibu mau dipijit” ibu mengeleng
“ Tadi Cahaya di bawa kemana dulu, kenapa lama sekali. Bukannya janji sama ibu mau langsung ngatar tidak singah dimana – mana.” Aku tersenyum mendengar kalimat Ibu.
“ Langsung di antar pulang, sengaja mobilnya di pelankan biar puas memandang wajah Cahaya “
“ Dasar otak mesum” aku mendengar suara Andi
“ Jangan iri, sana cari cewek. Tahunya ngiri saja.” aku mencibir ke arah Andi.
“ Bu lihat baru kenalan saja sudah sombong, biar Andi sumpah biar cepat kawin” Aku dan Ibu tertawa mendengar sumpah yang diucapkan Andi.
“ Kamu itu ada – ada saja Andi”
“ Terima kasih doanya Sahabat.” Kami akhirnya tertawa bersama.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 21.30, Andi baru saja mau pamit.
: “ Tidak tidur disini saja.”
“ Besok aku harus ke luar kota 2 minggu.”
“ Ok, hati – hati”
“ Ibu mau dibawakan apa “
“ Tidak usah, yang penting Andi sehat dan sering main kesini bawa calonnya sekalian”
“ Ahh … Ibu, Andikan belum ada calon.”
Andi meraih tangan Ibu mencium dan berlalu keluar dari kamar Ibu, aku menemani Andi ke pintu depan.
“ Hati – hati Bro” Andi melambaikan tangan dan menuju mobilnya. Aku mengunci pintu berjalan kearah kamar Ibu, menjengah ke dalam
“ Ibu Indra Istrirahat dulu, Ibu masih perlu sesuatu?”
“ Tidak, istrirahatlah. Ibu juga mau istrirahat.” Aku menutup pintu kamar Ibu dan berjalan menuju kamarku.
Duduk bersandar pada ujung tempat tidur, memandang foto Cahaya membuat hati ini bahagia. Aku meraih handphone dan membuka aplikasi whatsapp mencari nama Cahaya mengirim pesan kepadanya
“ Assalamualaikum, sudah tidur?” pesan terkirim, aku berharap Cahaya belum tidur. Sudah 15 menit pesan whatsapp-ku tidak dibalas. Sambil membuang napas aku mendesah ternyata gadis pujaan hatiku sudah tidur. Menurunkan bantal yang tadi ku jadikan sandaran untuk duduk di ujung tempat tidur. Baru saja aku mau meletakkan handphone di lemari kecil di samping tempat tidurku, aku mendengar notifikasi masuk. Aku mengembalikan posisiku, duduk disandaran kepala tempat tidur, berdoa semoga saja Cahaya yang mewhatshappku. Alhamdulillah ternyata benar Cahaya yang mewhatsappku.
“ Walaikumsalam, belum tidur. Indra?” aku tersenyum membaca chatnya Cahaya
“ Lagi memikirkan Cahaya.”
“ Siapa juga yang nanya indra lagi apa?” Indra belum tidur?”
“ Kalau lagi tidur, mana bisa chat sama Cahaya” Balasku
“ Ya, udah tidur sana, Cahaya juga mau tidur.”
“ Benar mau tidur?”
“ Iya mau tidur.”
“ Trus yang balas Chat Indra siapa? Kalau cahaya tidur?” lama tidak ada balasan dari Cahaya.
“ Boleh Indra telephon?”
“ Mau membicarakan apa?”
“ Banyak?”
“ Boleh.”
Aku langsung mendail nomor Cahaya, belum juga hitung 3 suara telephon diangkat, suara yang selalu membuatku rindu terdengar dari seberang sana.
“ Assalamualaikum”
“ Walaikumsallam,” jawabku
“ Kok Cahaya yang member salam bukannya Indra yang menelopon.”
“ Indra sukanya begitu” aku mendengar suara merajuk diseberang sana. Aku tersenyum membayangkan wajah Cahaya yang memerah karena aku mengodanya.
“ Mau bicara apa? jangan lama – lama sudah malam”
“ Indra hanya mau mendengar suara Cahaya saja sebelum tidur” kataku
“ Ih gombal, ya udah kan sudah dengar suara Cahaya. Assalamualaikum.” Belum juga aku menjawab. Telephon sudah di tutup Cahaya, aku pasti sekarang Cahaya pasti mukanya seperti keeping yang lagi direbus, merah semua. Ada notifikasi masuk,
“ Selamat istirahat.” Aku membalasnya dengan menjawab
“ Selamat istirahat calon istriku” sambil mengirim gambar love love kepada Cahaya.(bersambung)
***






