Maafkan Aku Membuatmu Derita (part 14)

Cerpen, Fiksiana941 Dilihat

Belum juga 5 jam aku mengantar Cahaya pulang ke rumahnya, rasa rindu sudah merayapi hatiku. Aku memegang handphoneku, telepon tidak, telepon tidak, kataku dalam hati.

Ingin menelepon tapi malu, malu tapi hatiku rindu. Lama aku mempertimbangkan apakah aku menelepon atau tidak. Akhirnya aku memutuskan menelepon Cahaya.

 

Telephone sudah tersambung tapi belum diangkat Cahaya, sudah 3 kali nada sambung terdengar akhirnya aku mendengar suara yang aku rindukan.

 

“ Assalamualaikum, Indra belum tidur?”

“ Boleh Indra video call?”

“ Jangan. Cahaya sudah  mau tidur,

“ Tapikan belum tidur?”

“ Indra jangan yang aneh – aneh.”

Aku tersenyum mendengar suara Cahaya yang terdengar jengkel dengan permintaanku.

“ Indra hanya mau melihat wajah Cahaya sebentar sebelum tidur.”

“ Cahaya tidak memakai jilbab Indra, repot memakai jilbab lagi .”

“ Boleh Indra melihat Cahaya tanpa memakai jilbab?”

“ Tidak, belum waktunya.” Dengan tegas Cahaya menolak permintaanku. Tiba – tiba sambungan telephon terputus, aku bingung kenapa sambungannya mati. Belum juga aku menelepon, handphoneku sudah bergetar ada video call yang masuk dari Cahaya. Secepat kilat aku mengeser tombol hijau di handphoneku. Wajah Cahaya terlihat lagi tersenyum di layar handphoneku.

“ Ada apa?”

“ Kangen.” Aku memandang wajah yang memberikan kedamaian di hatiku,

“ Kok pakai jilbab?”

“ Memangnya kenapa”

“ Nakal”

“ Indra yang nakal”

Aku tersenyum, Cahayapun tersenyum, tak ada kata – kata yang keluar dari mulut kami.

“ Ya sudah sana tidur, besok Indra jemput Cahaya lagi.”

“ Kok dijemput lagi?”

“ Kenapa? Tidak suka?”

“ Bukan, tapi tidak enak sama tetangga saja.”

“ Malu sama tetangga apa tetangga.”

“ Tinggal 6 hari lagi kita bertunang Indra harus sabar.”

“ Besok Indra jemput, assalamualaikum”

Aku langsung mematikan video call dari Cahaya, aku sudah tidak sabar menunggu datangnya pagi. Sambil memandang foto Cahaya yang ku jadikan foto profil pada handphoneku aku berusaha memejamkan mata. Aku harus tidur. .(bersambung)

***

 

 

Tinggalkan Balasan