Maafkan Aku Membuatmu Derita (part 17)

Cerpen, Fiksiana392 Dilihat

Sudah 2 minggu aku di rumah sakit. Lima hari di ruang ICU. Ibu dan paman sudah selamat dikebumikan, Hari ini aku sudah boleh pulang. Hidupku terasa kosong. Aku tidak menggingat apa – apa. Kejadian 2 minggu yang lalu tidak dapat aku ingat walaupun aku sudah berusaha mengingatnya. Setiap aku mengingatnya pasti serasa ada  godam besar yang menghatam kepalaku yang membuat pusing yang tidak tertahankan. Semakin kuat aku berusaha mengingat tapi hanya sakit kepala yang ku dapat.

Wajah itu, sudah dari beberapa hari ini datang berkunjung merawatku dan melayaniku. Gurat kesedihan jelas terlihat di matanya, tapi aku tidak bisa mengingatnya. Bibi mengatakan bahwa dia adalah calon istriku “ Cahaya”. Tapi aku tidak bisa mengingatnya. Andi teman baikku juga mengatakan dia Cahaya adalah calon istriku, tapi aku tidak pernah merasa mengenalnya.

Dengan setia dia berusaha melayaniku, mengajakku berbicara dan menyuapi aku makan memberikan obat. Setiap habis magrib dia akan datang menjagaku sampai jam 10 malam.

“ Maaf Cahaya tidak bisa menemani Indra di siang hari, ada proyek yang harus Cahaya kerjakan.” Katanya padaku beberapa hari yang lalu.

Hari ini, aku sudah bisa pulang. Bibi sudah mengemasi barang – barangku.

“ Kita menunggu Cahaya menjemput” kata bibi

“ Bukankah Cahaya bekerja, Bi?”

“ Cahaya sudah berjanji untuk menjemput dan mengantar Indra, Indra masih belum bisa mengingat Cahaya?”

“ Berusaha mengingatnya, Indra yang dulu beriya – iya untuk melamarnya.”

Aku berusaha mengingatnya tapi sekali lagi kepalaku terasa sakit. Tok tok tok, terdengar ketokan di pintu. “ Assalamualaikum “

Wajah sendu itu terlihat dari balik pintu, melangkah menghampiri bibi meraih tangannya, mencium beralih kearahku meraih tanganku dan menciumnya.

“ Indra siap untuk pulang?” tanyanya kepadaku

Aku hanya mengangukkan kepala kepadanya, melihatnya dengan penuh kasih sayang memapah tanganku membantuku untuk duduk di kursi roda.

“ Wah pak Indra sudah dijemput rupanya? “ Seorang suster masuk ke kamarku

“ Beruntung lho bapak dapat calon istri yang sangat menyanyangi bapak.”

Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya, memandang sekilas ke arah dia yang katanya calon istriku.

“ Sabar mbak Cahaya, saya yakin tidak butuh waktu lama pak Indra akan mengingat mbak kembali.” Aku mendengarkan perkataan suster kepada Cahaya.

“ Senyum yang selalu tersunging di wajah manisnya, tapi aku masih belum bisa mengingatnya. Hanya wajah sendu yang beberapa hari ini menenami aku dan bibi.

***

Sepanjang perjalan menuju rumah aku fokus melihat dia. Cahaya tidak mengeluarkan suara kecuali ketika bibi bertanya

“ Ibu dan adik – adik sehat?”

“Sehat bibi, ibu kirim salam dan meminta maaf tidak dapat ikut menjemput dan mengantar Indra. “ suara yang sarat dengan derita, entahlah aku mendengarnya demikian.

Sudah sampai di rumah, benarkan dia calon istriku? Jika bukan, bagaimana dia tahu alamat rumahku, parkir tempat biasanya aku memakirkan mobilku. Bergegas berlari membuka pintu rumahku dan kembali lagi ke mobil membantu aku untuk turun dari mobil menuju rumahku. Ah rumah ini semakin sepi hanya tinggal aku, ibu sudah tiada. Aku memandang kebun bunga ibu, semuanya terawat rapi seperti ibu masih hidup.

“ Cahaya yang merawatnya” Kata bibi melihat aku memandang kebun bunga ibu. Aku memandang sekilas kepadanya.

“ Ibu menitipkan kebun bunganya kepadaku, Indra ingat?” Cahaya mencoba mengingatkanku pada hal yang tidak bisa aku ingat. Aku membalas perkataan Cahaya dengan senyumku saja, karena aku tidak mengingatnya.

Dia Cahaya membuka pintu, mendorong kursi rodaku menuju kamarku. Tapi aku berkata, “Indra mau ke kamar Ibu.” (bersambung)

 

Tinggalkan Balasan