Jam sudah menunjukkan pukul 17.30 ketika mobilku sampai di rumah, Ibu sedang menyiram taman bunganya sambil mengalihkan padangannya dari bunga melihat kedatanganku. Belum sempat ibu berkata apa – apa, aku langsung berkata
“ Indra sudah punya calon menantu buat ibu,” sambil meraih tangan ibu dan menciumnya.
“ Alhamdulillah, kapan ibu bisa bertemu dengan calonmu ?’
“ Secepatnya bu” jawabku terus melangkah ke dalam rumah.
Kamar menjadi tempat tujuanku, mandi dan rebahan sebentar sambil menunggu azan magrib. Selesai mandi dan berganti baju aku menuju tempat tidur untuk beristirahat belum juga aku duduk dengan sempurna di tempat dudukku, aku sudah mendengar suara ibu dari ruang tengah memanggilku
“ In, kesini dulu ibu sudah buatkan kopi susu dan ada sedikit cemilan enak lho”
Modus pasti ibu mau bertanya lebih lanjut kepadaku, karena kalimat yang tadi ku lontarkan sebelum masuk ke dalam rumah.
Lebih baik aku keluar sebelum ibu yang datang ke kamarku dengan mercon di bibirnya yang akan membuat kupingku sakit mendengarnya.
***
“ Anak mana? Kerja apa pengangguran? Orangtuanya sudah setuju dengan hubungan Indra dengannya?”tu kan benar belum juga Aku duduk Ibu sudah bertanya panjang lebar.
“ Ibu, Indra baru saja melihatnya belum mengenalnya. Siang tadi Indra baru minta bantuan seseorang untuk mencari informasi tentang dirinya.” Kataku kepada Ibu
“ Anak nakal, kamu itu ya jangan suka mempermainkan ibu. Katanya calon mantu masak belum kenal yang benar saja.” ibu memukul pundakku, wajahnya tampak sekali kesal kepada diriku.
“ Lagi di usahakan, katanya doa orangtua itu mujarab, jadi sebelum jadi menantu ibu Indra doa ibu dulu supaya mulus jalan Indra mendekatinya.” Ocehku kepada ibu.
“ Ya sudah Ibu doakan, tapi kamu harus berusaha bersungguh – sungguh pasti dia punya keistimewaan sampai Indra meminta doa Ibu.” Kata ibu sambil menyuruh aku minum dan makan makanan yang sudah disuguhkannya.
***
Jam sudah menujukkan pukul 21 aku lagi menungu informasi dari orang yang ku minta untuk mencari informasi tentang wanita yang aku temui tadi siang di restoran. Terus memadang handphoneku berharap cepat berbunyi.
“ Alhamdulillah” ucapku mendengar handphoneku berbunyi dan mengangkatnya.
“ Malam pak Andi, Ibu Cahaya bekerja pada perusahaan AZ sebagai manajer, masih single tinggal bersama Ibu dan kedua adiknya. Sementera Ayahnya sudah lama meninggal dunia. Bu Cahaya tulang punggung keluarga, orangnya sangat ramah, menurut informasi umurnya sudah 28 tahun rumahnya di jalan X.” orang suruhannya memberikan informasi yang lengkap kepadaku dan akhirnya telepon aku tutup karena merasa sudah cukup infomasi yang aku perlukan tentang wanita tadi siang yang membuatku terpesona.
Iseng – iseng aku membuka aplikasi biro jodoh yang aku daftar betapa terkejutnya aku melihat ada gambar wanita yang tadi siang membuatku terpesona. Salah satu wanita yang disodorkan kepadaku oleh biro jodah, pucuk dicita ulampun tiba aku tidak perlu repot – repot mencari alasan untuk berkenalan denganya. Ternyata yang di Ataspun berpihak kepadaku.
Membaca informasi yang diberikan oleh biro jodah, membacanya sampai beberapa kali sepertinya aku tidak puas menatap fotonyan. Foto separuh badan dengan jilbab berwarna coklat serasi dengan blazer yang dikenakan, make-up yang menurutku terlalu natural sehingga kesannya seperti tidak bermake-up sungguh menambah kecantikannya. Ada 3 foto lagi yang menurutku malah mengumbar sesuatu yang sepertinya berlebihan tidak dapat mengalihan mataku pada pesona sederhana yang ditampilkan oleh Cahaya, ya namanya Cahaya seperti namanya memberikan Cahaya dalam hidupku.
Sambil memegang fotonya dan meletakkannya dihatiku, aku berdoa semoga dia memeng dikirim untukku mengisi hari – hari sampai maut memisahkan kami, aku tersenyum sendiri mendengar doaku, untung saja tidak temanku Andi ikut mendengarkannya kalau ada pasti aku sudah menjadi bulan – bulanannya Andi.(bersambung)
***






