Bujang melangkah lemah, pintu rumah ibu sudah jauh di tinggalkanya. Kemana lagi aku harus mencari, tanggal tua begini pasti tidak ada yang punya dana lebih. Aku tidak tahu harus mencari kemana lagi. Nasib memang selalu sial, aku tidak bisa hidup enak seperti orang lain. Hidup serba kekurangan, kais pagi untuk makan siang kais sore untuk makan malam. Cuba aku ini ayam, cukup mengkais makan pagi saja untuk makan hari ini, aku mentertawakan diriku sendiri memangnya aku ayam. Padahal sudah 10 tahun bekerja
Belum berumah tangga saja aku sudah selalu kekurangan apalagi jika aku menikah nanti, apakah ada perempuan yang mau bersuamikan orang dengan penghasilah yang pas – pasan saja. Bisa – bisa setiap hari aku harus bertengkar dengan istriku karena uang yang ku dapat tidak cukup untuk satu minggu. Seperti apa rumah tanggaku nanti.
Aku menyesal tapi sudah terlambat, sewaktu ibu menyuruh aku sekolah aku selalu malas. Lebih memilih untuk bolos sekolah bersama teman – temanku, akhir ya aku di berhentikan pihak sekolah. Dengan hanya tamat SMP, tentu pekerjaan yang bisa aku dapatkan hanya buruh kasar yang penghasilannnya cukup untuk satu minggu saja. Apakah aku jadi perampok saja, tapi kayaknya aku tidak punya nyali besar untuk merampok. Pusing apa yang harus aku lakukan, akhirnya aku menyesali tapi seperti kata pepatah nasi sudah menjadi bubur. Itulah nasibku saat ini, harus membanting tuluang empat kerat untuk bertahan hidup.






