Tandus, kering kerontang tak ada yang tumbuh di sana hanya perasaan gersang yang selalu ada di antara hubungan kami. Aku setia dengan kehidupanku sementera dia yang bergelar suamiku juga dengan kebiasan masa bujangnya tidak ada yang berubah diantara kami. Yang menyatukan kami hanya buku nikah, membuat kami tidur pada atap yang sama dan pada kasur yang sama, tapi tetap dengan batas yang mungkin orang luar tidak akan memahaminya.
“Aku terima nikahnya bla …bla…..” Dan akhirnya aku mendengar ucapan sah dengan helaan napas lega dari Ibu yang sedari tadi duduk mendampingiku.
“Cantik sekali, bagaimana tidak cantik tidak pernah berdandan sama sekali, sekali dandan tentu membuat semua orang terkesima.” Ucap beberapa tamu yang memandangku, aku hanya tersenyum tak yang bisa aku lakukan selain berlaku angun dan tersenyum sehingga aku merasa bibirku kaku karena tersenyum lebih dari tiga sejak prosesi akad nikah berlangsung.
Semua tamu sudah pulang, aku duduk dipingir tempat tidur mendengarkan Ibu memberikan nasehat untuk menjadi istri yang baik.
Aku bagaikan Siti Nurbaya zaman modern, bagaimana tidak tahun boleh dua ribu dua puluh satu tapi aku menikah karena ta’aruf yang dilakukan oleh Abi dan Umiku. Dan sinilah aku mendengarkan suara Ibu.
“Cinta akan tumbuh seiring waktu, dalam islam tidak ada yang namanya pacaran. Itu menambah dosa saja. bla … bla…bla.” Banyak lagi yang diucapkan Umi ada yang tersimpan di otakku yang sudah serabut dari dua bulan yang lalu ketika Abi dan Umi mengatakan ada yang ingin menta’arufku. Ada juga yang hilang seperti angin berhembus tidak meninggalkan jejaknya.
“Sekarang bersih – bersih, Umi tingga ya.” Aku hanya mengangguk mendengar ucapan Umi.
Pintu kamar pengantinku di tutup, aku berjalan menuju kamar mandi dan hanya satu keinginanku saat ini mandi menghilangkan semua yang terasa melengkat di badanku. Guyuran air dari shower sungguh membuat aku merasakan kenyaman yang luar biasa. Kepala yang gatal karena sudah tertutup dari pagi membuatku pusing dan akhirnya bisa aku shampoo. Harum sabun dengan aroma lemon membuat sarafku merasa tenang.
Sambil bersenandung aku keluar dari kamar mandi, tatapanku terkunci pada sosok yang sudah menjadi suamiku yang duduk dipinggir tempat tidur sedang mengotak – atik gawai yang dipegangnya tidak tergoyahkan dengan kehadiranku.
“Sudah selesai mandinya, gantian.” Mengatakan itu tanpa melihatku dan langung mengambil alih kamar mandi. Memangnya aku kasat mata, sehingga tidak sedikitpun dia memandangku sungguh mengesalkan. Aku naik ke atas ranjang, mengambil selimut dan menutup seluruh tubuhku kecuali kepala dan membaca doa tidur. Aku memejamkan mata, lama sekali mandinya aku saja tidak mandi selama itu. aku mengintip jam dinding di kamarku, sudah setengah jam dia berada di kamar mandi.
Cklek aku mendengar pintu kamar mandi terbuka, aku berpura – pura tidur. Langkah mendekati ranjang, menepatkan dirinya di sampingku dan tak lama aku mendengar dengkur kecil menandakan dia sudah tidur.
“Alhamdulillah.” Batinku dan menyusul dirinya ke alam mimpi dengan lelah yang sungguh membuatku tidur dengan nyenyak.(bersambung)
***






