Merekam Hari (End)

Cerpen, Fiksiana, KMAB343 Dilihat

Tepukkan di bahu, membangunkanku. Rasa sakit yang menyerang kepala akibat menangis sampai tertidur tidak dapat terelakkan lagi. Aku mengumpulkan nyawaku, memandang Bang Putra yang berdiri tegak dihadapanku.

Tatapan yang baru aku sadari saat ini, bahwa aku tidak berarti dalam kehidupannya. Aku mengalihkan pandanganku, berusaha mengatur kekuatan. Berusaha bangun tapi ternyata aku kehilangan kekuatan sehingga aku terduduk lagi di tempat aku berusaha berdiri.

“Minumlah.” Dingin suara Bang Putra menyuruhku minum

Bukannya minum tapi netraku melirik jam dinding, sudah terlalu lama aku aku meninggalkan 2 kewajibanku sebagai umat-Nya.

Tertatih, hanya Dia tempat aku harus mengadu. Dengan semangat aku tetap berusaha melangkah menuju kamar mandi mengabaikan uluran tangan Bang Putra untuk membantuku.

***

Selesai sudah, semua sudah aku adukan kepada – Nya, lega ada rasa yang lepas. Walaupun aku tidak mengadunya pada seperempat malam tapi aku tahu semua tak lepas dari mata – Nya.

Seakan mendapat kekuatan setelah mengadu kepada – Nya, aku melangkahkan kaki menuju keluar kamar. Netraku menangkap sosok Bang Putra yang duduk di ruang tamu. Langkahku mendekati ruang tamu mengambil posisi berseberangan dengan tempat duduk Bang Putra. Melirik sepintas ke wajahnya, datar seperti biasanya.

Kenapa aku sampai lupa merekam semua gerak – gerik Bang Putra yang tidak pernah menganggap aku ada.

“Sebaiknya kita akhiri semuanya Bang.” Ucapku mantap

Aku tidak ingin lagi menambah rekaman hari yang kosong bersama Bang Putra, lebih baik kami saling melepaskan daripada saling menyakiti.

“Delima dengarkan Abang dulu.” Ucapnya tidak mantap, tidak seperti biasanya nada ketus setiap aku berusaha menjadi istri yang terbaik kepadanya atau malah diam bak batu saja.

“Sudah Bang, biarkan Delima tetap menyimpan rekaman indah walau itu hanya Delima yang merasakannya. Jangan tinggalkan rekaman buruk untuk kita, walau bagaimanapun kita tetap masih saudara.” Ucapku mantap.

“Maafkan segala kekurangan serta ketidak pekaan Delima atas semua yang terjadi diantara kita. Biarkan rekaman kita selama beberapa bulan ini tetap indah walaupun kita tidak bersama lagi.” Ada luka mendalam dalam suaraku saat ini.

Perlahan aku berdiri dari dudukku, aku harus terlihat tegar walaupun saat ini ragaku tak bermaya, lemah tulangku seperti tidak bertenaga. Untung saja aku masih mengingat pasti ada skenario indah buatku dari – Nya dibalik semua yang terjadi padaku saat ini.

Tak kudengarkan suara Bang Putra yang berusaha menjelaskan, langkah lemahku terus melangkah. Rekaman kebersamaan kami sudah berakhir, tak ada lagi rekaman hari esok buat kami.***

 

 

Tinggalkan Balasan