Celoteh Nyakbaye, Cerpen RAHASIA DIA (4)”

Cerpen, Fiksiana, KMAB583 Dilihat

 

Tidakkah suamiku tahu bahwa apa yang baru saja diucapkannya membuat luka tak berbekas pada tubuhku tapi luka yang tidak akan pernah hilang dari hatiku.

Netraku memanas, tidak ada lisan yang mampu keluar dari mulutku, tapi air bening terus saja keluar. Isakku tidak usah ditanya lagi, pelan tapi menyayat hati, tapi entahlah apakah hati suamiku tersayat karena isakku.

Aku membalikkan badan, berlalu dari hadapan suamiku tak mau menuai luka jika kami memperpanjang diskusi yang pada akhirnya pasti aku yang terluka karenanya.

Makan malam yang tertunda akhirnya bukan hanya tertunda, tidak ada lagi selera untuk makan. Aku lebih memilih untuk berjibaku di kamar tamu yang jadi mushola jika tidak ada tamu bersembang datang.

Detak jam dinding membuat suasana hatiku bertambah pilu, banyak sekali pertanyaan yang tidak bisa terjawab. Apakah aku harus mencari jawaban atas apa yang dipertanyakan Bang Ilham sementara selama setahun ini kamu sudah bolak balik mendatangi dokter ahli kandungan untuk memastikan tidak ada diantara kami yang mempunyai masalah untuk mendapatkan keturunan.

Nabi ismail saja harus bertahun menunggu kehadiran anak dalam pernikahan mereka, sedangkan kami baru saja tiga tahun.

Aku menghela napas kasar, jika saja calon anak kami tidak diambil saat berada dalam rahimku tentu saat ini umurnya sudah 2 tahun, hal itu pula yang menjadi penyebab Bang Ilham selalu meradang jika aku berlama – lama di sekolah.

Kepalaku terasa berat, akhirnya kantuk menjemput aku tertidur dalam keadaan perut lapar begitu juga dengan Bang Ilham.

***

Ketukan dipintu menganggu tidurku, dengan kepala berat aku membuka netra yang sepertinya masih berat untuk terbuka. Melirik jam dinding membuat pekikku keluar spontan. Pukul delapan pagi, subuh yang tidak pernah tertinggal hari ini meninggalkanku. Secepat kilat aku berjalan menuju kamar mandi menyegerakan sholat subuh tanpa memperdulikan ketukan pintu yang semakin kencang.

Salam baru saja aku ucapkan seiring dentuman pintu yang didobrak dari luar, tubuh menjulang dari Bang Ilham berdiri memandang aku yang masih bersimpuh di sajadah karena belum memanjatkan doa kepada – Nya.(bersambung)

Tinggalkan Balasan