Celoteh Nyakbaye, Cerpen “Tak Selalu Bersama Tapi Ada (3)”

Cerpen, Fiksiana318 Dilihat

“Tidak ada yang tidak mungkin Bang, berhusnudzon kepada Allah Bang.” Ucapku bukan hanya menenangkan dirinya saja tapi juga menenangkan diriku juga.

***

Waktu berlalu, sudah tinggal dua hari lagi Idul Adha semakin sering aku melihat Bang Faisal melamun setelah menyaksikan bagaimana semaraknya ribuan orang melaksanakan serangkaian kegiatan haji sebelum puncaknya di Arapah.

Aku tidak tahu bagaimana caranya menghibur diri Bang Faisal, melihatnya melamun ada yang menusuk hatiku. Semakin sering Bang Faisal melamun ini pasti akan menurunkan lagi staminanya yang sudah turun akibat sakit yang di deritanya.

Suara takbir sudah terdengar, ada senyum tersunging di bibir kering Bang Faisal, hari ini Bang Faisal berkeras untuk puasa Arapah. Ada kegalauan tapi melihat dirinya bersemangat untuk puasa dengan janji jika tidak kuat harus berbuka tentunya.

Setelah memakan tiga buah kurma dan menenguk air teh yang aku buat, ada rasa lega akhirnya puasa sampaikan ke magrib.

Melihatnya terlelap setelah tadi siang kantuk sering menyerang tapi dirinya sibuk dengan berzikir seakan tidak akan sempat jika meninggalkan zikir di puasa arafahnya.

Suara azan isya bergema, aku menatap wajah Bang Faisal yang masih terlelap, sekali lagi aku meperhatikan wajahnya seakan tidak ada beban, senyum yang telah lama hilang sekarang terpasang dibibirnya yang kering tapi masih terlihat manis.

Lenganku menyentuh badan Bang Faisal untuk membangunkan sholat isya’, sekali dua kali aku menguncang pelan badanya tapi tidak ada pergerakan, napasku terasa sesak tak seperti biasanya susah membangunan Bang Faisal untu sholat walaupun dalam keadaan sakit. Kadang aku sering marah jika dirinya memaksakan diri untuk sholat berdiri padahal aku tahu dirinya memaksakan dirinya.

Aku berusaha meraba hidung mancungnya setelah tidak berhasil mengucang pelan badanya. Ada rasa sesak serta takut yang mendalam, semoga apa yang aku fikirkan tidak terjadi Ya Allah. Aku belum sanggup kehilangan dirinya.

Sambil bergetar jari telunjukku ku sodorkan ke arah hidung Bang Faisal,

“Ya Allah.” Pekik kecilku mengundang perawat yang berjalan di depan kamar rawat Bang Faisal

“Ada apa Bu.” Aku hanya bisa menatap nanar ke arah Bang Faisal tanpa bisa berkata – kata.

Perawat mendekati Bang Faisal entah apa yang dilakukannya karena aku sekarang berada dibelakangnya, setelah itu perawat secepat kilat berlari keluar kamar rawat Bang Faisal meninggalkan aku sendiri. Belum juga hilang rasa terkejutku, dokter datang bersama perawat yang tadi memeriksa Bang Faisal, aku diminta untuk menunggu diluar kamar.

Rasanya waktu lama berlalu, ketika aku melihat pintu kamar rawat Bang Faisal terbuka, wajah dokter dan perawat terlihat tidak baik – baik saja, aku terus berzikir berdoa yang terbaik untuk Bang Faisal,

“Maaf Bu, Suami Ibu sudah berpulang kerahmatullah. Saya harap Ibu bersabar.” Bagai godam besar menghantam dadaku saat mendengar perkataan dokter bersamaan takbir idul adha berkumandang dari takbir keliling.

***

Bersambung

Tinggalkan Balasan