“Abang tidak jadi pulang hari ini, masih 1 hari lagi di Batam.” Chat dari suamiku.
6 bulan terakhir selalu saja ada alasan untuk kemunduran pulangnya dari dinas luar kota.
Batam dan Pinang rasanya selalu mengikat suamiku dengan ketat.
Aku mencari nomor yang sudah 2 kali ini membantukan mengecek apakah benar ada penambahan kerja sehingga menunda kepulangan suamiku dari dinas luarnya.
Aku menemukkan, dengan bismillah aku menekan tombol hijau.
“Assalamualikum.” Suara manja terdengar olehku.
“Walaikumsalam Hana, ini Ibu Mala. Bapak pulang jam berapa Ya hari ini. Saya mau memberikan kejutan untuk Bapak.” Ucapku berdrama ria.
“Maaf Bu, seharusnya Ibu kompromi dulu dengan Hana untuk membuat kejutan buat Bapak, bapak berangkat pagi, katanya tidak enak badan mau istirahat di rumah besok baru masuk kerja sebentar lagi kapalnya sampai kalau menurut jam keberangkatan dari Batam.” Hana sekrestaris suamiku di kantornya.
“Hana tidak ikut dinas luar.” Ucapku tegang.
“Bapak hanya berangkat sendiri Bu.” Ucap Hana lagi.
“Ya sudah, saya siap – siap dulu ya. Terimakasih atas infonya.” Ucapku berusaha bicara manis.
Tidak ingin membuang waktu, aku bergegas keluar dari ruang majelis guru.
Sepertinya waktu berpihak padaku, jam masuk kelasku pukul 10 nanti.
Setelah permisi dengan kurikulum dan piket aku melajukan kendaraanku menuju pelabuhan.
Dengan napas ngos – ngosan aku mencari tempat yang strategis supaya suamiku tidak melihat keberadaanku di terminal kedatangan Pelabuhan.
Deg jantungku berpacu ketika aku melihat sosok suamiku, berjalan sambil tertawa renyah dengan orang yang aku kenal baik.
Tetangga kami, pikiranku langsung berputar mengingat momen kami selalu berkumpul.
Tidak ada interaksi yang mencurigakan antara suamku dengan Intan tetanggaku.
Langkah mereka ringan menuju parkiran mobil yang berada di Pelabuhan.
Bisa dipastikan Intan akan naik ke mobil suamiku.
Pantas saja jika dinas luar kota suamiku tidak pernah mau aku antar dengan alasan tidak ingin aku kelelahan menjemputnya.
Kendaraan mobil empat memang bisa di titip di parkir Pelabuhan jika hanya berangkat 2 hari saja.
Aku berlari menuju kendaraanku yang terpakir manis di parkiran motor.
Perlahan aku mengikuti mobil suamiku dengan jarak yang tidak terlalu dekat.
Keningku berkerut, bagaimana tidak mobil suamiku tidak mengerah kea rah rumah kami.
Jalan yang di pilih menuju costal arena dimana hanya ada 1 hotel di sana.
Karena tidak mungkin mereka menikmati costal area karena masih terlalu pagi tidak ada apa – apa disana kecuali sore hari menjadi pusat kumpul untuk Masyarakat kami dari berbagai kecamatan.
Persis seperti dugaanku, mobil suamiku memasuki area hotel.
Setelah 15 menit aku menyusul, tidak ada lagi penampakan suamiku di lobi hotel.
Santai mengatur hatiku yang bergejolak panas, senyumku menghiasi bibir.
“Maaf saya mencari Pak Ridwan yang baru saja cek in. saya ingin meminta tanda tangan beliau.” Ucapku mantap.
Aku melihat rawut curiga dari resipsionis.
“Adik bisa memintakan tanda tangan Pak Ridwan saya tunggu di sini.” Ucapku ramah memperkuat dramaku.
“Beliau menelepon kami untuk meminta tanda tangan di sini, jika tidak percaya silakan telpon Pak Ridwan.” Ucapku lagi.
“Maaf Bu, no kamar Pak Ridwan 202.” Ucapnya ramah.
“Terima kasih.” Ucapku tidak kalah ramah.
Setelah membalikkan diri aku menyumpah dalam hati, teganya Bang Ridwan kepadaku.
Intan tetangga kami yang mempunyai suami tidak kalah sukses dan mempunyai anak yang manis tidak seperti kami yang belum di karunia anak.
Ah jangan – jangan, aku mengusir pikiran buruk mengenai anak Intan.
Semoga apa yang aku pikirkan tidak kenyatannya.
Pernikahan kami masuk tahun ke dua, calon anak yang seharusnya menjadi pemeriah rumah kami tidak bertahan dalam dalam rahimku.
Hanya berumur 5 bulan, aku harus kehilangannya.
Saat itulah kami berkenalan dengan Intan sekeluarga yang sama – sama dirawat di RSUD.
Suami Intan terlalu dingin, banyak juga aku berkenalan dengan orang yang bekerja kapal tapi tidak sedingin suami Intan.
Ternyata kami sudah hampir setahun bertetangga tapi aku tidak menyadarinya.
Rumahku berjarak 5 rumah dari rumah Intan, pada dasarnya kami tidak pernah bertemu karena jalan rumahku lebih dekat dari pintu timur sementara rumah intah dari pintu barat jalan.
Langkah semakin berat mendekati kamar 202, menguatkan hati aku membunyikan Bel kamar.
Badanku sengaja aku sembunyi dari lobang pintu, supaya Bang Ridwan tidak bisa mengintipku dari lubangnya.
“Room service.” Aku berucap dengan suara yang dibuar serak untuk mengelabui Bang Ridwan.
Gagang pintu dibuka dari dalam, aku berdiri tegak dengan hati yang kacau.
Pandangan kami bertemu, keterkejutan jelas di wajah Bang Ridwan.
Aku menatap nanar melihat penampilan Bang Ridwan, tubuhnya hanya terbalut handuk saja.
Aku melangkahkan kami dengan menguatkan hati masuk ke dalam kamar.
Bang Ridwan masih terpaku di depan pintu tidak bergerak.
Tidak ada penampakan Intan di tempat tidur, suara air dari kamar mandi membuatku melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
Aku berdiri tegak di depan pintu menunggu Intan keluar dari sana.
Tidak perlu menunggu lama Intan keluar dengan berbalut handuk badannya.
Terpekik kecil melihat aku berdiri tegak menatapnya tajam.
Aku membalikkan badan, semua sudah jelas aku memilih pergi.
Melewati Bang Ridwan yang masih mematung di depan pintu masuk kamar.
Sekali lagi aku melewatinya, berjalan pergi meninggalkan mereka.
***
Seperti biasa aku harus bisa menenmpatkan diri.
Saat hatiku luka tidak boleh satu orangpun tahu aku luka, apalagi anak didikku.
Tawaku tawar menghadapai mereka yang tidak mengetahui Lukaku.
“Bu, Ibu sakit.” Ucap salah satu muridku.
“Ibu hanya terlalu banyak tertawa jadi lelah.” Ucapku sambil memasang senyum semanis mungkin.
Untung saja hari ini pembelajaran mereka dengan metode presentasi materi.
Cerita mereka ketika mengunjungi bank dan non bank membuatku bisa menyembunyikan lukaku.
Video singkat wawancara belum lagi bak ahli mereka juga memasukkan video dibelakang layar melihat tingkah mereka lukaku bisa terobati dengan pola tingkah mereka.
Aku menatap hpku yang sengaja aku matikan setelah melihat apa yang seharusnya tidak aku lihat sebagai seorang istri.
Bang Ridwan tidak akan berani datang ke sekolah, ego serta martabatnya sebagai lelaki tidak akan membuat dirinya datang kesekolah.
Aku jadi berpikir sebuta itukan rasa cinta dan sayangku kepada Bang Ridwan sehingga aku melupakan betapa ego dan keras kepalanya Bang Ridwan.
Aku pernah mengirimkan surat izin karena Bang Ridwan memintaku menemaninya dinas luar dibatan di awal pernikahan kami.
Aku pikir bisa berjalannya waktu sifat Bang Ridwan akan berubah,
Enam bulan kebelakangan ini aku memang sering tidak mengikuti kemauan Bang Ridwan.
Seharusnya Bang Ridwan faham karena sebelum menikah dengannya aku sudah mengabdikan diriku untuk mendidik anak bangsa.
Pertengkaran kecil sering terjadi, tapi itu tidak menjadi pemikiranku.
Dan hari ini aku melihat betapa egois dan keras kepalanya Bang Ridwan.
“Jangan salahkan Abang jika membawa Wanita lain.” Ucap Bang Ridwan.
Sehari sebelum keberangkatannya dinas ke Batam, Bang Ridwan memintaku untuk mengikutinya ke Batam selama 2 hari.
Tapi kerana aku jam mengajar yang padat tidak mungkin aku meninggalkan peserta didikku.
Kesal, memang kesal Bang Ridwan terlihat jelas.
Tapi sampai membawa tetangga kami untuk menjadi teman selama dinas luar kota rasanya itu sudah keterlaluan.
***
Saat ini aku lebih memilih mengistirahatkan badanku di masjid dekat rumah kami.
Rasanya aku belum sanggup untuk bertemu muka dengan Bang Ridwan.
Aku mengaktifkan hpku, melihat banyak sekali panggilan dari Bang Ridwan.
Chat terakhir darinya aku buka.
“Mala sudah malam pulanglah, Abang sekarang di rumah Mak. Abang tahu Mala marah dan tidak akan pulang kerumah orangtua Mala. Abang akan menepi pulanglah, Abang tidak akan kemana – mana. Telepon ke rumah Mak, Abang pasti disana.” Chat Bang Ridwan.
Aku menghela napas berat, sebegitu tahunya Bang Ridwan akan sifatku.
Selama kami berumah tangga tidak sekalipun aku mengadukan masalah yang kami hadapi.
***
“Assalamualaikum.” Ucapku pelan setelah pintu rumah terbuka.
Tidak mengharap ada yang menjawab salamku, hanya kebiasan mengucapkan salam pelan jika sampai di rumah.
Ruang Tengah menyala, begitu juga dengan ruang tengah.
Langkahku waspada tidak berharap Bang Ridwan mengikari janjinya untuk membiarkan aku sendiri dulu.
Menatap pintu kamar kami, rasa kecewa yang besar menghantam dadaku.
Ternyata kamar ini tidak memberikan kehangatan kepada Bang Ridwan, kamar hotel lebih memberikan kehangatan yang menebar dosa.
Menatap isi kamar yang dulu menjadi tempat aku melepas lelah hanya dengan menunggu dan menatap wajah Bang Ridwan ketika dirinya pulang ke rumah.
Kamar ini terasa asing, begitu juga dengan barang – barang Bang Ridwan yang terlihat disetiap sudut kamar ini.
Aku berjalan meletakkan semua barangku, pukul sudah menunjukkan angka 9 malam.
Aku mengambil pakian ganti menuju kamar mandi untuk melepas lelah semoga saja air bisa membuat segala rasa yang menyesakka dadaku terbawa olehnya.
Rasa sesak bertambah bukan berkurang, aku memilih mengistirahatkan badanku tidak dikamar yang selama ini kami tempati.
Kamar tamu yang selalu digunaka jika orangtuaku atau mertua menginap.
***
Subuh terasa lama, mataku hanya mampu aku pejamkan selama 4 saja,
Aku sudah memutuskan untuk mengekos saja, aku mulai memasukkan barangku pada koper yang sudah aku siapkan sebelum memilih untuk tidur di kamar tamu.
Ada 2 koper dan satu kotak semua barang pentingku sudah terbungkus rapi hanya tinggal di bawa saja.
Pukul setengah tujuh maxim yang aku pesan sudah membawa koper dan kotakku ke Alamat yang aku berikan.
Aku dengan menggunakan motorku menuju sekolah terlebih dahulu untuk meminta izin kepada piket dan kurikulum.
Hari ini aku mengajar setelah sholat zuhur.
***
Aku menatap kamar yang akan mulai aku tempati hari ini, semua barangku masih dalam koper dan kotak.
Aku hanya mengepel untuk menghilangkan kotoran, Syukur dalam kekalutan ku semalam aku masih bisa menemukan rumah untuk tempatku berlindung guna mewaraskan pikiranku.
Mengunci pintunya, aku harus Kembali ke sekolah.
Sekali lagi aku harus bersandiwara di depan mereka peserta didikku.
Setengah hari di mulai dari zuhur sampai jam terakhir aku bisa mengalihkan perhatianku dari rasa luka yang ada.
Senyum dan tawaku tidak menutup lukaku, hanya membuatnya reda seketika.
Bunyi bel panjang tanda berakhirnya proses pembelajaran hari ini.
Aku menata bawaanku, memilih untuk sholat asar di masjid daripada di sudut majelis guru yang kami jadikan tempat sholat.
Tergesa aku menuju parkir sekolah berebut dengan mereka peserta didikku yang juga mau cepat meninggalkan sekolah entah untuk keperluan apa.
Setibanya di masjid aku langsung menuju tempat wudhu.
Mengantung tasku pada pintu kamar mandi, mengambil wudhu untuk memberishkan diri dan hatiku.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima ketika aku sampai di tempat kostku.
Memasuki kamar yang berukuran 5 x 6 miris sekali hatiku.
Tidak ada rasa hangat yang menyambutku hanya rasa sepi yang mencekam sehingga membuat hatiku beku.
Aku membersihak diri sebelum mengemas barang yang belum sempat aku keluarkan dari dalam koper dan kotak bawaanku.
Untung saja sebelum pulang aku sudah membeli beberapa pop mie dan telur asin untuk santap malamku nanti.
Azan magrib berkumdang, aku memandang layar kaca TV yang memang disediakan oleh pemilik Kost.
Kost untuk orang bekerja akan berbeda dengan kost anak kuliah tentunya dengan harga yang berbeda pula.
Suara hp mengusik ketenanganku yang sedang membaca alquran setelah sholat magrib.
Melihat layar hpku, nama Bang Ridwan terlihat.
Sampai dengan nada dering berakhir tidak ada niatku untuk mengangkatnya.
Notifikasi chat masuk, pasti dari Bang Ridwan tidak ada yang menghubungi di waktu malam kecuali Bang Ridwan setelah kami menikah.
Aku membuka aplikasi wa dan membuka chatnya.
“Assalamualikum, abang pulang untuk mengambil berkas. Rumah kosong, lemari pakaian kita juga sudah kosong dari baju – baju Mala. Abang menelepon ke rumah Mak tapi Mala tidak kesana. Mala kemana? Abang salah tapi kita perlu bicara. Tidak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan.” Isi chat Bang Ridwan.
Masalah kami bukan gelas atau piring yang pecah tapi masalah hati yang rasanya sulit untuk disatukan kembali.
Aku tidak melanjutkan membaca chat Bang Ridwan, lebih memilih menulis kata.
“Masalah kita bukan gelas/piring yang pecah tapi hati. Abang pohon pisang yang punya jantung tidak punya hati. Jika Abang punya hati pasti Abang tidak akan merusak kepercayaan Mala kepada Abang.
Semuanya sudah jelas, tidak ada yang bisa dijelaskan, Abang memilih jalan yang mungkin tidak memikirkan Kesehatan jantung dan hati Mala.
Jantung Abang tidak punya hati lagi untuk Mala.
Sebaiknya kita berpisah daripada merusak hati masing – masing. Buat sementara waktu biarkan kita seperti ini, setelah siap Mala akan memberi tahu keluarga, menunggu waktu itu Abang atau Mala yang mengurus perceraian ktia?” Balasan chatku untuk Bang Ridwan.
Setengah berlalu tidak ada tanggapan dari Bang Ridwan.
Azan isya berkumandang, aku memilih tidak lagi menunggu balasan chat dari Bang Ridwan memilih menenangkan hatiku dengan berkeluh kesah kepada Sang Pencipta.
Setengah Sembilan ada yang mengetuk pintu kamar kostku, rasa heran mengelayuti pikiranku.
Siapa yang bertamu, sementara aku tidak memberitahu kepada siapapun tentang tempat kostku.
Mengintip dari jendela dekat pintu, wajah tamunya tidak kelihatan hanya pasti yang datang bertamu adalah lelaki.
Aku membuka pintu, takut Pak RT atau yang punya kost.
Wajahku menegang melihat Bang Ridwan yang berdiri tegap di depanku saat ini.
Helaan napas berat jelas terdengar dari hidungku.
Percuma menghindar lagi, dengan berat hati aku menutup pintu kamar dan mengambil tempat pada salah satu kursi tamu di depan tempat kostku.
“Abang khilaf, Mala terlalu mementingkan sekolah. Mak terus mendesak Abang dengan cucu.
Intan bukan hanya tetangga kita, tapi madu Mala. Sengaja Abang mengarang cerita supaya Intan menjadi tetangga kita sementara lelaki yang mengaku suaminya adalah sepupu Abang yang benar bekerja sebagai pelaut yang pulangnya 6 bulan sekali.
Intan juga sepupu Abang, sebenarnya Mak sudah menjodohkan Abang dengan Intan.
Tapi Abang telah jatuh hati dengan Mala.
Mak semakin cerewet sejak Mala kehilangan anak kita, mak sampai mengancam mau mengurus perceraian kita dengan alasan Mala tidak bisa memberikan keturuanan.
Abang sudah menikahi Intan, Intan ada reuni bersama teman – temannya.
Sebenarnya tadi abang mau langsung pulang ke rumah, tapi karena r.
Selama ini prioritas Abang adalah Mala, Intan tidak pernah mengeluh karena Intan tahu Mala yang menjadi ratu hati Abang.
Sudah lama Abang ingin memberitahu Mala, tapi Intan selalu mencegah tidak mau menyakiti hati Mala.
Sungguh Abang tersiksa selama setahun setengah ini Mala.
Ada Raya diantara kami, karena itu abang kadang mengambil waktu sepulang dari dinas luar untuk menginap di rumah Intan.
Rasa cemas serta was – was sering menghinggapi hati abang, jantung Abang rasanya berpacu 1000 x lipat setiap Abang menginap di rumah Mala yang tidak jauh dari rumah kita.
Abang takut ada tetangga kita yang melihat dan mengatakannya kepada Mala.
Pasti hancur hati Mala mengetahuinya, itu semua menjadi pikiran Abang.
Karena itu sewaktu berangkat ke Batam Abang mengajak Mala untuk menolak permintaan Intan untuk ikut reuni bersama teman – temannya.
Intan merayu kepada Abang, Intan ingin sekali memperkenalkan Abang kepada teman – temannya yang selalu bermulut usil mengatakan dirinya istri simpanan sehingga tidak pernah mengenalkan suaminya,
Intan mengatakan lingkungan kerja dirinya dengan Mala berbeda tidak mungkin Mala mengetahui pernikahan kami.
Ternyata firasat istri tidak bisa abang abaikan, dan menjadi kenyataan Mala melihat Abang dan Intan.
Sebenarnya Abang sudah merasa tidak enak hati ketika permintaan Intan untuk menggunakan voucher gratis menginap itu.
Abang lebih memilih menginap di sana dengan Mala, tapi mala mengatakan sejak menikah dengan Abang tidak pernah abang memanjakannya seperti Abang memanjakan Mala.
Ada rasa bersalah kepada Intan, tapi Abang lebih merasa bersalah kepada Mala.” Suara Bang Ridwan terdengar memelas.
Cerita tentang Bang Ridwan dan Intan pernah aku dengar, tapi tidak sedikitpun menjadi pemikiranku bahwa Mak Mertuaku yang terlihat menyayangi menginginkan anaknya memberi madu yang pahit dalam pernikahanku.
Setelah Aku harus kehilangan calon anak kami, ada perubahan dari diri Mak Mertuaku, jika umur menjadi patokan bukankah umur manusia tidak ada yang tahu buktinya Ayah Mertuaku lebih dulu meninggalkan kami untuk bertemu Sang Pencipta. Sungguh aku tidak mengerti dengan pemikiran Mak Mertuaku, apakah gelar nenek sangat sacral sehingga tidak bisa menunggu aku hamil Kembali.
Pantas saja 6 bulan ini Ibu Mertuaku tidak lagi datang menginap di rumah kami.
Dan selama itu aku tidak menyadari setiap malam minggu Bang Ridwan selalu ada kerja dan pulang setelah pukul 21 Wib.
Aku terlalu naif dengan keadaan tidak pernah curiga terhadap Bang Ridwan.
Seperti kata Bang Ridwan aku terlalu mencintainya sehingga tidak ingin berfikiran jelek terhadap perubahannya.
Kepercayaan adalah kunci rumah tangga dan aku percaya itu.
Kepercayaan ternyata yang merusak rasa dalam rumah tanggaku.
Helaan napas tak henti keluar dari mulut kami, aku menghela napas keras merasa pernikahan ku bak sinetron ikan terbang saja.
Sedangkan pemikiran Bang Ridwan aku tidak bisa menebakknya.
“Kita pulang Ya.” Ucap lembut Bang Ridwan.
Setelah semua ceritanya Bang Ridwan berharap aku pulang.
“Pulanglah Bang, Mala ingin sendiri. Biarkan Mala mencerna semua yang terjadi. Terlalu banyak cerita yang Mala lewati, Mala belum sanggup untuk pulang. Izinkan Mala menepi buat sejenak, jangan laknak Mala karena memilih untuk menepi.
Nikmati kebersamaan keluarga kecil Abang bersama Mak.
Sekali lagi helaan napasku terasa berat, salam ribuan maaf untuk Mak karena Mala belum menjadi menantu seperti yang Mak inginkan.” Ucapku sambil masuk ke kamar kostku dan menutup rapat pintunya.
***
Ketukan dipintu kamar kostku terdengar lagi sudah sebulan berlalu aku masih belum bisa menerima ada wanita lain dalam pernikahan kami, ilmu Ikhlas dengan ganjaran surga rasanya terlalu berat untukku.
Sebulan ini rutin setiap malam Bang Riswa memujukku tapi aku masih betah menepi.
Dengan malas aku membuka pintu siapa lagi kalau bukan Bang Ridwan yang menjadi tamu tetapku.
Dugaanku ternyata salah, wajah Mak Mertuaku bersama Intan dan anaknya berdiri memenuhi pintu kamar kostku.
Tidak menunggu aku mempersilakan mereka masuk dengan lancang Mak Mertuaku masuk seperti anak ayam Intan mengekor dibelakang Mak Mertuaku.
Helaan napas berat lagi – lagi terdengar, aku membuka lebar pintu kamar kost tanpa aku izinkan Intan sudah membaringkan anaknya yang tertidur pulas pada ranjangku.
Kemudian Intan menyusul duduk di karpet yang tergelar di depan ranjangku duduk di sebelah Mertuaku.
“Jemput Mak dan Intan dari kostku sekarang Bang.” Chatku kepada Bang Ridwan.
Aku masih berdiri memandang kedua orang yang telah menyakiti hatiku.
Hening, tidak ada yang membuka mulut.
Aku menunggu Mak Mertuaku berbicara, apa maksud ke datanganya.
Sementara Intan terlihat gelisah dalam duduknya.
15 menit berlalu, tidak ada suara hanya keheningan yang menjadi pengisi ruang kamarku.
“Asslamualaikum.” Salam dari suara yang kami kenal pasti.
Aku menatap pintu kamarku yang terbuka lebar, sosok Bang Ridwan berdiri tegap dengan wajah gugup melihat keberadaan Mak dan Maduku.
“Mak kenapa kesini?” suaara Bang Ridwan mengema.
“Mak ingin bicara dengan Mala.” Akhirnya suara Mak terdengar.
“Mala ikhlas berpisah dengan Bang Ridwan, Mak tidak perlu mengucapkan apapun. Bukan maksud untuk kurang ajar, sebaiknya Bang Ridwan bawa keluarga Abang balik sekarang.
Mala ingin sendiri” ucapku tegas.
“Mala.” Pekik Bang Ridwan
Semua kami yang berada di dalam kamarku terkejut dan memandang Bang Ridwan bersamaan.
“Maaf Bang bukan Mala tidak mau bertahan, dalam rumah tangga bukan hanya ada kita berdua tapia da keluarga yang harus dijalin silaturahminya.
Mala tidak mau memutus silaturahmi dengan orang yang Mala tuaku.
Mungkin kita lebih cocok jadi saudara seiman daripada suami istri.” ucapku.
Aku tidak ingin keduluan cakap dari Mak dan Bang Ridwan.
Akan bertambah sakit hatiku kalau sampai Mak Mertuaku membela Intan di depanku saat ini.
“Mala dengarkan Mak dulu.” Aku memandang wajah Mertuaku yang sedari tadi aku hindari.
“Sudah cukup Mak, tidak perlu ada yang dijelaskan. Semua sudah terang dan jelas. Mala sudah ikhlas, Mala mohon untuk semuanya meninggalkan mala sendiri. Mala tidak ingin kewarasan Mala terganggu.” Ucapku sambil menangkupkan tanggan didadaku memohon dengan sangat.
“Mak salah, Mak Akui. Ridwan sudah menolak Intan, tapi Mak Paksa.”
“Cukup, Mala tidak meminta penjelasan dari sesiapun. Dalam rumah tangga tidak ada yang Namanya pembenaran dalam melakukan kesilapan. Seharusnya Bang Ridwan jujur saja dari awal mungkin ini tidak akan menyakitkan.” Ucapku berusaha tenang.
Kalimat Mertua sedikitku tidak keluar dari mulutku karena sakit hatiku yang mendalam.
Terdengar kurang ajar, tapi hilang sudah semua rasa hormatkku pada wanita bergelar Mertua kepadaku.
“Bang tolong, jodoh kita sampai di sini. Jika Abang masih sayang sama Mala tolong bawa keluarga Abang Balek. Mala masih menjaga kewarasan Mala dengan meminta baik – baik kepada Abang.” ucapku lelah.
“Kak, maaf Intan yang salah. Naia bukan anak Bang Ridwan. Mak Ngah hanya tidak mau aib keluarga menjadi konsumsi umum. Kami menjebak Bang Ridwan dengan pernikahan yang Bang Ridwan tidak inginkan.
Dengan terpaksa selama 6 bulan ini Bang Ridwan menengok Naia karena Naia sakit, mungkin ini karma untuk Intan.
Saat ini Intan ingin mengembalikan Bang Ridwan kepada Kakak.
Kami sudah resmi bercerai seminggu yang lalu.
Bang Ridwan sudah putus asa melihat kakak tidak mau pulang.
Intan mengeluarkan surat cerainya dengan Bang Ridwan.
“Mak salah, mak terlalu menurutkan hati. Orang nak bercucu mak juga ingin cucu. Iman Mak tipis, padahal semua sudah diatur oleh Pemilik Kehidupan Mak minta maaf Mala.” Lirih Mak.
Kepalaku pusing, sudah beberapa hari ini aku merasakan tidak enak badan.
Kepalaku semakin pusing, dengan ucapan Mak dan Intan.
Pandanganku kabur, gelap tiba – tiba menyergap mataku.
***
Aroma menyengat menusuk hidungku, perlahan aku membuka mataku.
Silau, aku Kembali memejamkan mataku.
Tanganku terasa hangat, dejavu diawal pernikahan jika aku sakit Bang Ridwan akan mengenggam tanganku untuk memberikan kekuatan.
Hayalanku terlalu tinggi sudah lama Bang Ridwan tidak mengenggam tanganku.
Perlahan aku mencoba melepaskan tanganku.
“Alhamdulillah Mala sudah sadar.” Pendengaranku menangkap suara Bang Ridwan.
Aku membuka mataku kembali, mencari sumber suara.
Wajah Bang Ridwan menatapku dengan tatapan memuja yang rasanya lama tidak pernah lagi ditunjukkan Bang Ridwan kepadaku.
“Lepaskan tangan Mala Bang.” Ucapku pelan.
“Biarkan Abang memegangnya Mala, terima kasih.” Ucap Bang Ridwan setelah itu mengecup tanganku.
Aku terkejut mendengar ucapan terima kasih dari Bang Ridwan, rasanya aku tidak melakukan hal baik yang membuat Bang Ridwan berterima kasih kepadaku.
Sebentar lagi ada suara bayi di rumah kita, senyum Bang Ridwan lebar sambil mengusap tanganku yang masih betah digemgamnya.
Deg, jantungku seakan berhenti ketika mendengar ucapan Bang Ridwan.
Tangisku pecah, bagaimana tidak dalam badai yang melanda rumah tanggaku kehadirannya membawa suka cita untukku.
“Maafkan Mak Mala” suara Mertuaku terdengar.
Aku mencari keberadaan Mertuaku, yang berdiri didekat pintu kamar rawat inapku.
“Mak berdosa, dan Mak sudah mendapatkan hukuman Mak. Cucu yang Mak sayang ternyata bukan darah daging Ridwan jangan salahkan Ridwan, Mak yang salah sehingga Ridwan berbuat salah juga.
Intan sudah mengakui kesalahannya, membuat Mak bertambah rasa bersalahnya.
Seandainya tidak ada kecelakaan yang menimpa Alya mungkin Ridwan dan Mak sampai saat ini masih terperangkap dalam dusta yang diciptakan Intan.
Karma Mak, Mak mohon maafkan kesalahan Ridwan menikahi Mala.
Jangan pisahkan Ridwa dengan calon anak kalian, Mak mohon.” Isak Mak terdengar.
Perlahan mak menurunkan badannya, dari berdiri ringkih menjadi duduk bersimpuh di tempat berada saat ini.
“Bang bantu Mak untuk duduk di kursi.” Ucapku melihat Mak terpuruk dalam penyesalanya.
Entah, saat ini hatiku abu – abu.
Rasa Bahagia karena aku dipercayakan untuk menjadi seorang ibu, rasa marah karena disakiti sesame wanita baik Mak maupun Intan.
Rasa dikhianati Bang Ridwan walaupun dalam keterpaksaan.
“Mala butuh istirahat, tolong Abang teleponkan Mak Mala sekarang. Abang dan Mak pulanglah, Mala hanya ingin ditemani Mak Mala saja.” Akhirnya kalimat itu yang terucap dari mulutku.
***
Sudah 5 hari aku dirawat, tadi setelah di cek oleh dokter aku diizinkan pulang.
Setiap hari Bang Ridwa datang setelah pulang kerja, kami bertingkah tidak terjadi apa – apa di depan keluargaku.
Mak ku sempat bertanya kenapa tidak Ridwan saja yang menjagaku sepulang kerja.
Senyum manis, untuk menenangkan Mak.
Untung saja calon anakku memihak kepadaku, setiap Bang Ridwan datang mual sampai muntah berlebihan menyerang jika Bang Ridwan menjauh mual serta muntahku berhenti.
Tanpa aku harus menjawab pertanyaan Mak Ku, calon anakku sudah menjawabnya.
Hatiku gelisah, hari ini aku tidak menemukan alasan untuk tidak pulang kerumah.
Mak Ku menelepon Bang Ridwan setelah mendengar aku diperbolehkan untuk pulang.
Tidak menunggu lama Bang Ridwan sudah sampai di rumah sakit dan melunasi administrasi.
Sebisa mungkin aku tidak menunjukkan kegelisahanku di depan Mak.
Harum Bang Ridwa tercium, rindu menguak.
Mual mulai menyerangku, calon anakku sepertinya ingin membalas dendamku kepada Bang Ridwan yang tanpa sengaja mengecewakanku.
“Aneh, mual bukanya tersiksa malah senyummu mengembang Mala.” Ucapan Mak menyadarkanku.
Malu aku tapi aku sungguh ingin lebih lama menyiksa Bang Ridwan.
“Mak, Mala di rumah Mak saja sampai mual dan muntah ini berkurang.
Kasihan Bang Ridwan akan tersiksa dengan keadaan Mala, aku tahu betul Bang Ridwan sangat tersiksa dekat – dekat dengan orang mual apalagi sampai muntah.
Kenangan sewaktu kami mengikuti tour, salah satu peserta yang tidak pernah naik bus terlalu lama terserang mual dan muntah berat.
Akhinrya Bang Ridwan memilih Kembali ke hotel dan membatalkan perjalan hari itu yang seharusnya kami ke kebun teh di negara tetangga Malaysia.
Bang Ridwan panik melihatku, sengaja aku mendramitis keadaanku dengan berpura – pura muntah walaupun yang keluar hanya air bening, karena aku hanya merasakan mual sebentar saja.
“Ridwan biarkan Mala Mak yang urus, ini hanya 3 bulan pertama.” Suara Mak terdengar.
Panik, itu yang aku lihat dari wajah Bang Ridwan.
Aku terkejut ketika Bang Ridwan melangkah mendekatiku dan mengelap mulutku dengan lengan bajunya.
“Maaf, anak kita menyusahkan Mala.” Ucap Bang Ridwan sambil menatapku sendu.
“Mala tanggung jawab Ridwan Mak, Mak saja yang di rumah Ridwan, pagi Ridwan akan jemput Mak, sore Ridwan antar pulang jika Mak tidak mau menginap di rumah Ridwan.
Ridwan ingin merawat Mala dan calon anak kami” Ucapan Bang Ridwan benar – benar membuat aku terkejut.
“Baiklah Mak akan menginap di rumah kalian sampai keadaan Mala bisa Mak tinggal.” Ucapan Mak membuatku mengerucutkan bibirku.
“Bibirnya kenapa, ada yang sakit.” Ucap Bang Ridwan menambah kesalku.
Dalam hati aku mengutuk Bang Ridwan yang sengaja mengodaku.
***
Kami sudah sampai di rumah, perlakuan Bang Ridwan membuatku luluh.
Bagaimana tidak sejak dari rumah sakit mual dan muntah membuat tubuhku lemah.
Bukannya mengambil kursi roda, Bang Ridwan lebih memilih mengendongku.
Mak berulang kali mengatakan badanku berat, tapi tidak dipedulikan Bang Ridwan.
Untung saja keadaan rumah sakit tidak ramai kalau tidak kami jadi tontonan gratis.
Sesampainya di rumah sekali lagi adengan mengendong dilakukan Bang Ridwan, aku terpaksa pasrah.
Saat ini Bang Ridwan sedang mengelap mulutku yang berlumur muntah karena semua makanan yang disuap oleh Bang Ridwan sebentar tadi berlomba keluar dari mulutku.
Tidak ada tatapan jijik, malah tatapan cemas terlihat jelas di wajah Bang Ridwan melihat aku mengeluarkan semua makanan yang aku makan.
“Maaf, maaf Abang membuat Mala tersiksa. Nak jangan siksa Mama sasyang, Ayah sudah banyak membuat Mama terluka.” Ucap Bang Ridwan.
Terlihat jelas di wajah Bang Ridwan penyesalan yang mendalam.
“Sudah Bang Mala mau istirahat, biar Mak saja yang mengurus Mala.” Ucapku ketus.
Rasa bersalah menghinggapi hatiku, tak sepantasnya aku meninggikan suara kepada Bang Ridwan.
Entah mengapa mulutku tidak bisa diajak kompromi ingn marah – marah terus dengan Bang Ridwan.
Dengan Langkah lemah Bang Ridwan meninggalkanku sebelum menutup pintu Bang Ridwan masih menanyakan apa yang dapat diperbuat untukku.
***
Umur kandunganku memasuki bulan ke 4, Bang Ridwan sudah memesan catering sebanyak 100 kotak untuk dibagikan kepada panti asuhan.
Bang Ridwan memilih memberikan makanan ke panti asuhan, daripada membuat hajatan di rumah.(bersambung)
Kondisi masih saja mual jika berdekatan dengan Bang Ridwan padahal sudah lewat trisemester pertama.
Rasa iba sebenarnya melihat Bang Ridwan yang selalu ingin berdekatan denganku tapi entah mengapa rasa mual dan mudah selalu saja datang jika berdekatan dengan Bang Ridwan.
“Mala, pasti ada rasa tidak Ikhlas di hati Mala. Hilangkan rasa itu kasihan Mak melihat Ridwan yang tersiksa tidak bisa berdekatan dengan Mala dan calon anak kalian.
Walaupun Mala tidak menceritakan, Mak yakin ada masalah diantara kalian.
Jangan siksa Ridwan, sabar ada batasnya.
Jangan buat batasnya habis yang rugi Mala sendiri.” Nasehat Mak sebelum pulang kerumahnya.
Sudah 4 bulan Mak menemaniku masuk bulan 3 mulai bertanya kepada Bang Ridwan selalu meminta maaf kepadaku jika ada kesempatan.
Aku selalu menjawab, Bang Ridwan merasa bersalah dengan rasa mual dan muntah yang menderaku selama kehamilan.
Tapi perasaan seorang Ibu tidak bisa dibohongi, walaupun aku menutup rapat masalah rumah tangga kami dari Mak.
Besok Mak pulang sudah terlalu lama Mak meninggalkan rumah, selesaikan masalah kalian kasihan Ridwan. Ucap Mak kala itu.
Setelah menunaikan sholat isya aku memilih duduk di depan laptop sebentar lagi penilaian sumatid sekolah. Aku mulai membuat soal dan mengetiknya di word supaya mudah untuk dimasukkan ke aplikasi yang digunakan untuk penilaian sumatif nanti.
Lewat setengah jam, Bang Ridwan belum juga pulang.
Rasanya tidak pernah selambat ini Bang Ridwan pulang dari masjid.
Jika ada acara pasti terdengar pemberitahuan dari toa masjid.
Belum sempat aku meneken no Bang Ridwan untuk menghubunginya aku melihat hp Bang Ridwa tergeletak di meja kecil samping tempat tidur kami.
Hatiku bertambah gelisah, kemana aku harus mencari Bang Ridwan jika hp-nya saja tertinggal dirumah.
Pikiranku mengacau, jangan – jangan Bang Ridwan ketempat Intan.
Setipis itukah kesabaran Bang Ridwan, sehingga mengulang lagi kekhilafannya, batinku merintih.
Perut terasa sakit, aku beristifar tapi sakitnya semakin kencang.
‘Ya Allah apa yang terjadi denganku.” Batinku
Keringat sebesar jagung memenuhi keningku dan punggunku.
Aku meraih hp-ku yang tanpa sengaja aku lempar karena kesal melihat hp Bang Ridwan yang tertinggal di rumah.
“Assalamualaikum.” Suara orang yang aku pikirkan terdengar.
Aku semakin memeluk perutku yang terasa sakit.
“Mala kenapa?” teriak Bang Ridwan
“Sakit.” Keluh dengan merintih.
Bang Ridwan berlari mendekatiku, tubuhku melayang dalam dekapan Bang Ridwan.
“Kita kerumah sakit.” Ucapnya cemas.
***
“Istrinya terlalu tertekan dan cemas, sebaiknya bapak menjaga emosi istrinya tetap stabil. Untung cepat di bawa kerumah sakit, bayinya masih bisa terselamatkan.
“Apa yang Mala pikirkan.” Ucap Bang Ridwan setelah dokter meninggalkan di ruang rawat inap.
“Mak mengatakan Mala ingin makan martabak mesir di costal area. Kalau tahu Mala sakit abang tidak akan pergi untuk membelinya.” Ucap Bang Ridwan cemas.
Keningku berkerut, tapi pagi sebelum Mak pulang aku memang mengatakan menginginkan martabak mesir.
Bercanda Mak mengatakan martabak mesir dijual malam, minta Ridwan membelikannya.
“Maaf.” Ucapku sendu
Pikiranku negative hampir saja aku membahayakan calon anak kami.
“Mala tidak salah Abang yang salah meninggalkan Mala sendiri di rumah.
Padahal Abang tahu Mak tidak lagi menginap di rumah kita, paling tidak Abang pamit dengan Mala, tapi tidak.” Ucap Bang Ridwan lemah.
Aku melambaikan tanganku, meminta Bang Ridwan untuk mendekat.
Setelah Bang Ridwan mendekat aku meraih tangan Bang Ridwan dan mengenggamnya erat.
“Maaf Mala sudah berfikiran buruk tentang Abang, Mala pikir abang pergi ke rumah intan.” Ucapku malu.
“Intan sudah pindah ke Batam, setelah abang menceraikannya. Mala abang tahu abang salah tapi jangan membuat celaka diri Mala dan calon anak kita karena memikirkan Abang” kesal Bang Ridwan.
Bang Ridwan ingin melepas genggaman tanganku, tapi aku tetap mengenggam erat tangan Bang Ridwan.
“Maaf.” Ucapku berulang kali.
Wajah Bang Ridwan yang tadi keruh, berubah cemas mendengar isak tangisku yang tidak bisa aku bendung karena rasa bersalah kepada Bang Ridwan dan calon anak kami.
“Tidurlah sudah malam.” Ucap Bang Ridwan lembut.
“Tapi Abang jangan pergi.” Ucapku manja.
“Nanti mala mual muntah kalau Abang dekat – dekat Mala.” Ucap Bang Ridwan.
“Anak abang rindu dengan Ayahnya, buktinya Mala tidak mual sejak tadi.” Ucapku malu.
Raut wajah Bang Ridwan langsung cerah, senyumnya merekah.
“Terima kasih, mau abang pesankan martabak mesir? Tapi makan martabanya saja cukanya jangan. Mala pasti belum makan ini sudah hampir Tengah malam.” Ucap Bang Ridwan bersemangat.
“Abang juga belum makan, pesan nasi goreng seafood saja satu bungkus untuk berdua.” Ucapku malu.
“Kita pesan 2 saja, Abang tidak mau istri dan calon anak Abang kekurangan makan. Sekalian jus buah naga.” Ucap Bang Ridwan.
Melihat begitu antusiasnya Bang Ridwan memesan makanan kami lega aplikasi gofood membuat hatiku berbunga.***







