“Bang talak saja Mira.” Ucapku datar setelah melihat Bang Farhan melangkah keluar dari kamar mandi.
“Miranti Binti Dahlan, jaga ucapanmu.” Tidak pernah aku mendengar lengkingan besar suara Bang Farhan
“Tak ada yang perlu kita pertahankan Bang, Mira lelah.” Ucapku lirih
“Ambil wudhu kita sholat subuh.” Intonasi suara Bang Farhan berubah dari ucapan sebelumnya
Aku berdiri dari duduk di sajadahku, melangkahkan kaki menuju kamar mandi. setelah berwudhu aku berjalan mendekati Bang Farhan yang sudah ghomat berdiri dibelakang Bang Farham menjadi makmumnya.
Selesai berdoa, bang Farhan membalikkan badannya menghadapku, kami duduk saling berhadapan.
“Maaf.” Ucap Bang Farhan sambil mengulurkan tangannya
“Tidak ada yang perlu dimaafkan Bang.” Ucapku sambil mencium tangannya sebagai hikmat seorang istri kepada suaminya setelah selesai sholat.
“Mir.”
“Bang, Mira serius dengan ucapah Mira tadi. Tidak ada yang memaksa kita untuk mempertahankan pernikahan yang tidak Abang inginkan. Mira sudah berusaha tapi sepertinya usaha Mira tidak berhasil jika Abang tidak menginginkannya, Mira rela daripada kita saling menyakiti.” Ucapku sesak
Hening, akhirnya aku memberanikan diri untuk menatap wajah Bang Farhan. Netra itu selalu saja sama, tak ada binar kebahagian di sana jika bersamaku, aku membuang pandanganku. Pirih di sudut hatiku bertambah.
“Mira juga ingin bahagia, Abang sudah bahagia jadi izinkan Mira untuk bahagia.” Aku memecah keheningan diantara kami.
“Apakah selama ini Mira tidak Bahagia bersama Abang?” ucapnya sambil menatap sinis ke arahku
“Apakah Abang bahagia bersama Mira selama ini?” aku membalikkan pertanyaannya
“Jangan balik bertanya Mira.” Suaranya naik satu oktap
“Mira berusaha bahagia, dan berusaha menciptakan Bahagia buat kita, tapi sepertinya sia – sia.” Ucapku lemah, selemah jiwaku saat ini.
“Siapa bilang Abang tidak Bahagia.” Ucapnya tinggi
“Mira tidak melihat Abang bahagia dengan pernikahan kita, bahagia di rasakan di sini bang.” Ucapku sambil menunjukkan dadaku
“Pernah ada Mira di sini Bang.” Sambil berucap, aku menunjuk dadanya tepat di mana hatinya berada.
“Tidak pernah bukan, jadi buat apa kita saling menyakiti hanya untuk menyenangkan orang lain. Abang dan Mira berhak untuk bahagia, mungkin bahagia kita jika kita berpisah.” Ucapku berusaha menyakinkannya.
“Ibu, biar Mira yang memberikan pengertian, Abang tenang saja.” ucapku tegas di sisa kekuatan jiwa yang tersisa.
“Sudah selesai bicaranya.” Tatapan Bang Farhan mengitimidasiku
“Sudah.” Jawabku lemah setelah semua uneg – uneg keluar dari mulutku yang terasa kaku setelah mengucapkan semuanya.
“Selamat hari perkahwinan, terima kasih sudah berusaha membuat Abang bahagia. Dan perlu Mira tahu Abang bahagia dengan pernikahan kita, maaf akhir – akhir ini Abang mengabaikan Mira, sebenarnya ada ketakutan Abang melihat Mira berubah dingin dengan Abang. Wanita tadi malam teman Abang. Abang meminta bantuanya untuk mengetahui isi hati Mira, memang benar pernikahan kita karena di jodohkan tapi sepertinya tulang rusuk Abang yang hilang itu adalah Mira, tapi Abang tidak tahu bagaimana menunjukkan kepada Mira kalau Abang bahagia dengan pernikahan kita. Maafkan Abang.” Aku terpaku mendengar pernyataan Bang Farhan.
Perasaan yang tidak bisa aku lukiskan, tapi tetap ada rasa pilu yang mendalam setelah aku melepas semua harapanku dan mengalah dengan takdirku untuk berpisah.
Bang Farhan meraih tanganku, mengeluarkan sesuatu dari balik baju kokonya. Kotak beludru warna merah isinya sebentuk cincin, Bang Farhan berusaha memasangkan cincin di jariku.
“Maaf Bang, Mira tak bisa menerimanya.” Ucapku sambil menarik tanganku dari gengaman Bang Farhan. Bergegas Aku berdiri dari duduk, melepas semua perlengkapan sholat, niatku hanya satu aku, aku butuh waktu sendiri.
“Mira, dengarkan Abang Mir.”
***




