Napasku terengah, tak ku dengar suara Ibu yang memanggilku ketika kaki ini menginjak pintu rumah. Hanya salah yang tergesa aku ucapkan sebelum masuk ke rumah.
Menarik jilbab penutup kepala, meletakkannya di samping bantal dengan lemah aku berbaring menatap langit kamar yang menjadi kebiasan baru setelah menikah.
Helaan napas menyesakkan dada, dengan beribu air mata yang aku tahan akhirnya aku menyemput mimpi tidak memperdulikan baik atau tidak tidur di waktu setelah azar.
Azan magrib menyentuh pendengaranku, dengan malas aku mengerakkan badan, berdiri berjalain menuju gantungan handuk melangkah lemah menuju kamar mandi. Ritual mandi yang terlambat tidak seperti biasanya.
Setelah sholat magrib baru aku tersadar jika suamiku belum pulang, “suami” aku tersenyum miris menyebut dia suamiku di dalam hati.
Langkahku lemah menuju keluar kamar, ketukan di pintu menandakan Ibu dan Ayah mengajak untu” aku tersenyum miris menyebut dia suamiku di dalam hati.
Langkahku lemah menuju keluar kamar, ketukan di pintu menandakan Ibu dan Ayah mengajak untuk makan malam.
Sesampainya di meja makan, aku melihat Bang Zikra sudah duduk dengan baju rumah, apakah tidurku terlampau nyenyak singgah aku tidak sadar akan kepulangannya tadi.
Dengan senyum dipaksakan aku memandang satu persatu ahli keluargaku yang menungguku di meja makan.
“Al, sudah sehat.” Pertanyaan Ibu membuatku memandang sekilas ke arah Bang Zikra, apa yang dikatakannya kepada Ibu
“Lumayan Bu.” Ucapku singkat.
“Mungkin isi, semoga perempuan.” Aku tersedak air liur mendengar perkataan Ibu, meraih gelas, meminumnya untuk menghilangkan rasa sakit ditenggorokanku.
Semua mata menantapku, aku tersenyum kecut, mengambil piring Ayah mengisi nasi setelah itu aku mengambil piring Bang Zikra melakukan hal yang sama, kami makan dalam suasana hati yang hanya kami tahu apa yang kami pikirkan.
***
Aku mematikan laptop setelah membuat tugas di classroom, daripada menyulam lara lebih baik aku mengerjakan hal yang bermanfaat, lelahku menjadi lillah. Aku memandang ranjang yang sudah dipenuhi oleh Bang Zikra, napas teratur sesekali dengkur kecilnya terdengar, begitu nikmatnya setelah satu hari membuat duniaku menjadi porakperanda, hanya senyum pahit melihat lelaki yang sudah menjadi suamiku tapi tidak menjanjikan surga dunia buatku.
Langkah lelah aku hayun mendekat sisi ranjang yang hanya tinggal sedikit, menilik sepertinya tidak ada tempat untukku melepas lelah jiwa dan raga. Aku membalikkan arah dari ranjang setelah mengambil bantal dan guling milikik, permaidani yang akan menjadi temanku mala mini untuk menjemput mimpi.
Tubuh lelah ini tidak butuh waktu lama untuk beralih ke alam bawah sadar yang sedikit membuatku lebih tenang. (bersambung)





