Hadirnya Teman-temanku di Negeri Asing

Enam bulan sudah saya tinggal di Negeri ratu Elisabeth, sebagai orang yang paling muda. Sangat girang hatiku ketika mendengar akan ada 1 Suster dari Korea dan 1 lady dari Brasil yang seusia denganku, sewaktu saya diajak menjemput tentu sangat cepat reaksiku untuk bilang Ok, ibarat dalam Bahasa Jawa “ Rindik asu digitik” seperti anjing yang dipukul itu larinya akan kencang sekali, namun itu terlalu lambat dengan hasratku yang menggebu, untuk menjemput teman baru.
Siang seusai makan, saya diajak Sr Tress, ke Hoddesdon di mana ada biara kami yang dekat dengan London. Kami menginap di sana dan paginya kami menjemput Suster dari Korea di bandara Heathrow ,sebagaimana dulu saya datang, sekarangpun pesawatnya tiba pagi hari.
Di England masyarakatnya selalu tepat waktu, sudah diperkirakan berapa lama di perjalanan, jadi tidak menunggu lama, yang kami nanti datang. Susternya kecil, Sr Petra namanya. Begitu kami bertemu, kami sarapan pagi di bandara sambil menunggu Lory, yang akan datang dari Roma. Lory asli Brasil tapi sudah lama tinggal di Roma, pegawai di Villa Maria Regina, milik kami waktu itu.
Mereka berdua akan belajar Bahasa Inggris tentu akan menambah suasana komunitas ramai, dan bertambah orang mudanya. Jika liburan tiba, 3 cottage kami penuh kedatangan tamu dari pelbagai negara yang ingin berlibur dan melihat keindahan England. Sekarang tambah tenaga untuk mempersiapkan Cottage itu, mempersiapkan tempat, tidur yang supper doble penataannya, makanan, minuman di kulkas, dan aneka perlengkapan, 1 cottage letaknya dekat biara dan yang dua agak jauh, karena lingkungan biara sangat luas, cukup mengeluarkan tenaga untuk mondar mandir ke 2 cottages yang lainnya.
Lory sangat cekatan dalam bekerja, maklum dia pegawai hotel milik kami yang khusus untuk para peziarah. Jadi soal mengatur ruang dan tempat tidur sudah ahlinya.
Kami ber tiga kompak dalam belajar, bekerja, dan praktek berbicara. Ketiganya orang asing, jadi lebih asyik dan penuh humor dalam berbicara Bahasa Inggris. Bahkan suatu kali Lory saya ajari “ Bahasa maling “ yakni Bahasa Inggris namun ditambah huruf tertentu, sesuai kesepakan, sehingga hanya kami yang tahu artinya. Sampai para Suster menyangka saya bisa berbahasa Portugis , yang adalah Bahasa ibu bagi Loryne, lucu kan, mereka tidak ada yang tahu kalau kami berbahasa maling.
Jika matahari bersinar, kami berdua keliling kota, keluar masuk toko,biasa disebut Charity Shop hanya melihat-lihat, istiahnya “shopping window” yang sering melakukan ini kami berdua ditambah Sr Bernadette, Sr Petra yang dari Korea senang tinggal di Rumah saja.

Apa yang kami lakukan jika masuk mall, he..he..he mencoba parfum, yah hanya mencoba dan tidak beli, karena semua disediakan untuk di test atau dicoba ya dicoba saja. Alhasil jika sampai di biara bau wangi badan kami semerbak, trus para suster berkomentar dan kami cerita apa yang kami lihat, perjalanan kaki yang mengasyikkan dan geeer disambut tertawa para suster. Begitulah kalau hadir orang muda ada-ada saja kiprahnya.
Dalam menempuh study juga makin asyik,kalau dulu saya sendiri sekarang bertiga , pernah kedatangan lady dari Ukraina yang ikut memperdalam Bahasa Inggris beberapa bulan saja, pernah juga ada assisten Jendral sebuah Tarekat di Brasil juga belajar Bahasa Inggris, sehingga situasinya makin asyiik. Jika ada orang baru, pasti ada program untuk mengenal daerah di England, senang juga sih, kami pergi piknik kemana-mana, apalagi saya dan Lory yang cukup lama tinggal di England, bagi yang lain paling lama 6 bulan.
Komunitas kami selalu terbuka, suatu saat kedatangan juga Sr Puspha asli India untuk liburan musim panas, dia kuliah di Roma, nah kebiasaan di Roma jika liburan, para penghuni asrama dipersilakan keluar untuk mencari tempat sendiri. Sr Puspha kenal dengan para suster kami yang di Rumah Induk Roma, maka disarankan untuk libur ke England, beberapa kali kami berdua kliling London dan menginap komunitas kami yang di Hoddesdon, karena jarak London dan Hoddesdon hanya 30 menit naik train.
Saya bisa melihat dan merasakan banyak hal yang menarik dan membahagiakan bagi Sr Puspha, serta punya kenangan indah di England dan tinggal di komunitas kami dan ternyata Tuhan mempertemukan kami kembali, sewaktu saya diutus ke Roma, selepas study di England. Yach maksud hati saya ingin pulang dan sangat rindu Tanah Air Indonesia, apa daya pimpinan mengutus saya untuk ikut program Formator Course selama 9 bulan di Universitas Gregoriana, Roma.
Bagiku di mana saya taat menjalankan perutusan di situ berkat Tuhan melimpah, berangkatlah saya ke Roma untuk ke dua kalinya, karena pada tahun 1990 saya juga tinggal di Roma untuk menjalani Tersiat ( persiapan Kaul Kekal ) selama 7 bulan. Tuhan senantiasa menyertai dan melimpahkan berkat-Nya pada hamba yang selalu siap sedia. Roma..oh Roma saya datang lagi, apakah ini gegara dulu saya melempar candy di Trefi Fountain? Karena saya tidak punya coin receh, maka candy sebagai gantinya?, saya tidak tahu, tapi kenyataannya saya kembali lagi ke Kota abadi ini, bahkan suatu saat nanti saya juga ke Roma lagi pada tahun 2013, meskipun hanya 1,5 bulan. Semua kusyukuri sebagai anugerah Tuhan, Amin ***
Oleh Sr. Maria Monika SND
Artikel ke YPTD ke 27








