Winter Perdana Menggugah Jiwa dan Hatiku Memuja
Bagi orang yang belum pernah melihat turunnya salju,tentu mengharapkannya dengan sangat, bagaimana bentuk dan turunnya salju yang seperti kapas itu. Sebagian orang, utamanya yang tinggal di negara beriklim tropis, seperti saya salju hanyalah sesuatu yang hanya bisa saya bayangkan, tanpa bisa dirasakan.

Tapi tidak demikian bagi mereka yang tinggal di negara 4 musim. Meski musim salju menjadi saat paling dingin, namun tetap saja selalu dinantikan. Itu kudengar dari ungkapan hati para susterku yang mengharapkan Natal nan bersalju. White Christmas.
Keberadaanku di Kettering England sudah dua bulan waktu itu. Udaranya sangat dingin cuacapun tak menentu, pagi pukul 08.00 pagi masih remang remang gelap. Sesekali saya berkesempatan untuk turun ke kota,di setiap toko dan rumah sudah mulai terpajang hiasan Natal yang gemerlap,juga lagu – lagu Natal berkumandang dimana- mana.
Mulai tanggal 6 Desember Pesta Santo Nikolaus yang lebih terkenal dengan Sinter Claus. Malam menjelang tanggal 6 Desember kami meletakan sepatu kami yang diisi jerami,kami letakkan didepan kamarnya PIKO = Pimpinan komunitas.
Eeee paginya sudah terisi kacang dan coklat didepan kamar kami masing- masing. Kebiasaan disini sering ada kejutan yang membuat para suster gembira. Saya juga pernah diajak ke London mengunjungi tempat penting dan melihat hiasan Natal yang luar biasa di Trafalgar Square yang ada pohon Natal yang besar.
Pohon Pinusnya (sejenis Cemara) disumbangkan ke alun-alun dari Norwegia sejak 1947 untuk dijadikan Sebuah pohon Natal biasanya didirikan selama dua belas hari sebelum dan sesudah Hari Natal.
Tentu hatiku mengharapkan turunnya salju. Cuaca di England tidak menentu tak heran kalau bicara soal cuaca menjadi topik yang penting bagi mereka.Apalagi di musim dingin suasananya gelap,kelabu sepanjang hari,minggu,sehingga orang enggan untuk keluar rumah.
Suatu siang tetiba turun hujan Es bentuknya seperti kapsul ,saya spontan keluar ke lapangan dengan tangan menengadah,saya pikir itu salju ternyata itu hujan Hael.
Ada perawat yang memanggil saya untuk kembali dengan teriakkan bahaya.
Mendengar kata dangerous saya cepat lari masuk rumah dan bertanya memangnya bahaya apa? Mereka menjelaskan disaat hujan Hael sewaktu waktu ada petir,ternyata benar sebentar kemudian kilat yang kuat menyilaukam dan suara gemuruh menggelegar memekakkan. Itulah fenomena alam di England jika terjadi hujan Hael.
Jadi yang kukira salju ternyata bukan. Sayapun sabar menanti. Kata mereka salju itu jatuhnya lembut tak ada bunyi. Suatu saat di awal senja yang gelap turunlah salju ,maka para Suster mempersilakan saya untuk keluar halaman menengadah salju.
Pengalaman yang luar biasa,ada rasa senang,bahagia,kagum campur aduk jadi satu. Saya berputar putar menangkap salju yang jatuh,sementara para Suster tertawa bahagia melihat ulah saya di halaman.maklum saya seperti cucu mereka.Satu satunya orang muda yang tinggal di komunitas itu.
Sr Tress mengambil camera mengabadikan peristiwa itu. Saya tidak merasa kedinginan karena hati riang kali ya. Setelah puas memegangi Salju kami makan malam. Di luar sudah gelap jika musim dingin,setelah rekreasi malam kami biasa berdoa malam terus tidur.
Hatiku masih melekat pada salju,kubuka gorden kulihat di luar diantara sinar lampu,salju turun pelan begitu indahnya. Terima kasih Tuhan untuk pengalaman yang indah ini.
Paginya salju makin menebal menutupi kolam,yang biasa untuk mandi itik itik liar,pepohonan jadi putih,dingin sudah terasa.sehingga kami butuh mesin pemanas ruangan. Sr Bernadete mengajak saya keliling halaman dan mengambil foto dengan latar belakang salju.
Pengalaman pertama itu membuatku ingin tahu tentang salju,maka ketika saya di perpustakaan biara kucari buku yang mengisahkan Salju. Salju terdiri atas partikel uap air yang kemudian mendingin di udara, lalu jatuh ke Bumi. Salju bisa diartikan sebagai bentuk padat air yang jatuh ke bumi dari atmosfer atau awan yang telah membeku menjadi kristal padat.
Uap air tersebut jatuh dalam bentuk kepingan empuk, putih, dan seperti kristal lembut. Pada suhu tertentu (disebut titik beku, 0° Celsius, akhirnya salju bisa meleleh dan hilang, jika matahari bersinar. Pagi itu kupandangi sekeliling Rumah tetangga yang berbatas pagar dengan biara kami berwarna putih, bersih sungguh mempesona.
Pagi itu salju masih turun perlahan, sangat lembut, bagiku merupakan rahmat putih yang baru saja jatuh ke bumi. Dalam hening kunikmati pagi ini Salju menyerap gelombang suara, membuat segala sesuatu terdengar tak berbunyi, suasana yang lebih sunyi terdengear setelah hujan salju berhenti, semua serba putih. Kata susterku Salju saat ini tidak begitu tebal sehingga beberapa pohon dihalaman masih nampak.
Biasanya, temperatur udara butuh titik untuk membentuk salju. Tapi jika hujan turun cukup lama, udara di dearah itu dapat turun drastis dan akhirnya menciptakan lingkungan yang tepat untuk produksi butiran salju. Jadi temperatur bisa saja 6-8 derajat celcius di permukaan tanah, tapi salju tetap berjatuhan dari langit.
Konon Salju dapat jatuh ke permukaan bumi secara perlahan, lembut seperti kapas yang terbang, namun juga bisa dengan kecepatan tinggi, semisal 8-9 meter per jam, tergantung kondisi udara saat itu.
Butiran salju mengumpulkan air saat mereka jatuh dari langit dan arah angin dapat mempercepat proses jatuhnya. Proses salju lepas dari awan dan mencapai permukaan tanah butuh setidaknya satu jam. Jika salju mencair lalu membeku kembali, es itu dapat memantulkan gelombang suara yang terdengar lebih jauh dan jelas.
Desember saat itu beberapa kali salju turun, apa yang kuharapkan sekarang kualami, saya merayakan Natal saat itu dengan penuh salju, meskipun dingin namun penuh kehangatan cinta , perhatian dan kegembiraan para suterku yang usianya 75 hingga 89 tahun. Doaku singkat Tuhan terima kasih untuk salju yang kurindukan. Biarkan hatiku seputih salju sepanjang hidupku, Tuhan berilah aku Natal sepanjang tahun ***
Oleh Sr Maria Monika SND
3 September, 2021
Artikel ke : 6








