
Keindahan Suara Gamelan
Suara klenengan gamelan itu menimbulkan nuansa hati yang damai, teduh, tentram dihati, apalagi kalau dalam sunyi kita sungguh menyadari dan menikmati irama gamelan itu dari kejauhan.
Entah mengapa saya merasakannya seperti itu. Mungkin saya terbiasa sejak kecil jika libur sekolah, saya diajak Bapak ke Sekolahnya, naik sepeda, menyusuri persawahan dan dari jauh terdengar suara gamelan yang ditabuh. Hatiku merasakan ketentraman tersendiri dan jiwaku menari menikmatinya.
Atau mungkin karena saya waktu kecil belajar menari di Mbah Mangku ( tempat kursus Tari jawa yang terkenal di kotaku) Biasanya kalau kami belajar menari, langsung diiringi dengan gamelan, bukan dari Tipe recorder. Sehingga gerakan juga harus menyelaraskan hentakan Kedang atau gemerincingnya canang. Setiap instrument itu mesti diperhatikan oleh seorang penari.
Nuansa suara Gamelan juga bisa dinikmati kalau sedang di Tawangmangu, ketika retret atau kunjungan biasa, dalam hening meditasi, kepekaan telingaku mendengar suara gamelan yang mungkin ada di balik gunung, begitu indah memikat.
Seperangkat Gamelan
Suara gamelan yang terdiri dari Bonang, Peking, Saron, Demung, Gambang, Kempul dan Gong dalam kombinasi Pelog dan Slendro itu sungguh memikat. Setidaknya bagiku, atau bagi mereka yang suka seni karawitan dan wayang.
Maka tidak mengherankan sewaktu saya di England saya bangga ketika tahu bahwa ada 24 perangkat gamelan yang tersebar di Universitas ternama. Dan salah satunya ada di Queen Hall. Serta dibuka kursus gamelan untuk umum, dan sering diadakan pagelaran serta Lomba gamelan.

Gamelan Masuk Notre Dame
Jika di Negara lain Gamelan begitu memukau dan dicintai bangsa lain, mengapa tidak kukembangkan di negeriku sendiri? Itu yang selalu mengusik pikiran dan nuraniku. Maka ketika saya mendapat perutusan baru, sebagai kepala SD Notre Dame waktu itu, saya minta kepada Yayasan untuk membeli seperangkat gamelan.
Yayasanpun mengijinkan, kami juga mempunyai Guru seni yang piawai melatih anak-anak untuk bermain gamelan. Setelah kami masukkan dalam program Extra Kurikuler ternyata banyak anak yang tertarik. Dibimbing oleh Bp Nurmat dan kemudian dilanjutkan oleh Bp Tarcisius Bambang Cipto Santoso anak-anak giat dan bersemangat untuk berlatih.
Group gamelan tidak hanya memainkan lagu dolanan, tembang Mocopat namun juga memainkan lagu Pop serta lagu -lagu kerohanian gereja. Apalagi di dalam buku ‘ Madah Bakti ‘ terdapat lagu-lagu perayaan Ekaristi yang berlanggam Jawa dan bagus jika diiringi Gamelan.
Beberapa kali tampil di gereja, untuk mengiringi paduan suara, irama musik gamelan dipadu dengan Organ, menimbulkan decak kagum para orang tua murid dan umat yang hadir.
Dalam misa inkulturasi itu, suasana sakralpun tercipta dengan alunan musik dan nyanyian yang apik. Selain itu anak-anaak juga sering diminta untuk pentas diacara natal, menyambut tamu dari dalam dan luar negeri dan acara-acara besar sekolah.
Yang membuat decak kagum ketika sekolah kami menerima para asesor Akreditasi, sebelum rombongan Assessor berkeliling untuk menilai administrasi dan melihat keberadaan sekolah kami. Tentu kami sambut dengan meriah di aula dengan Gamelan dan nyanyian anak-anak.

Apa yang membuat para Assessor berdecak kagum, yang memainkan gamelan adalah anak-anak Thiong Hwa yang memang menjadi mayoritas siswa siswi kami di Notre Dame. Nah mungkin karena terpesonanya parra Assessor itu lebih menyukai anak-anak bermain gamelan dari para memeriksa administrasi kami yang tergelar diatas meja he..he..he.
Mereka biasanya melihat juga dan kami memang siap untuk di audit, namun mereka percaya bahwa kami melaksanakan tugas administarsi dan praktek dengan baik.
Kami tidak hanya menonjolkan gamelan saja, tapi ada Band, Kulintang, Drum Band, Angklung, Gitar, Organ, bahkan untuk anak-anak SMU ada Exkul Musik tradisional China.
Untuk seni Tari juga diajarkan Tari dari pelbagai daerah di Indonesia dan modern dance. Seni menjadi bagian irama hidup manusia yang menyegarkan perasaan serta menggairahkan jiwa, maka kami berusaha agar anak-anak belajar seni sejak dini, agar mereka tumbuh sebagai pribadi yang berkarakter dan dibalut dengan keindahan Seni sebagai orang yang esthetic. ***
Oleh Sr. Maria Monika SND
Artikel ke :39 YPTD







