Natal Pertama di England

Persiapan Natal
Sejak bulan September, semua pertokoan dimanapun seantero England, baik di kota kecil pun kota besar seperti London, sudah siap menyambut Natal, segala ornament natal nan indah gemerlapan, lagu-lagu Natal dikumandangkan.
Sebagaimana pernah kuceritakan di tulisan sebelumnya, sesudah musim gugur, mulailah musim dingi, salju mulai turun, yang membuatku girang luar biasa, karena belum pernah melihat salju yang turun lembut begitu indahnya.
Sebagai suster yang paling muda, saya diajak Sr Bernadette untuk mengeluarkan pernak-pernik Natal, dari gudang bawah tanah, untuk membuat dekorasi Natal. Bulan November, kami sudah menyiapkan membuat Gua Natal dan pohon terang, saya di bantu oleh Mrs Maura, dan Deby, perawat yang biasa merawat para suster yang sudah tua , yang tidak bisa merawat dirinya dan membutuhkan pertolongan.
Disini ada 6 perawat yang selalu jaga pagi, siang, sore, malam, juga ada dokter yang dating 2 minggu sekali untuk melihat dan mengontrol kesehatan para suster tua. Kurasa orang Inggris sangat ramah, juga perawat yang dating ke tempat kami mereka begitu ramah sehingga kami menjadi akrab satu, sama lain, juga Christ & Jaqueline yang bertugas di dapur sangat humoris dan suka menyanyi.
Si Christ,sangat aktif di lingkungannya, suatu saat kami para suster mendapat undangan untuk menyaksikan pertunjukkannya, bahwa dia akan menyanyi. Kami datang, diluar dugaan kami Christ tampil begitu lincahnya dengan suara merdu menyanyikan lagu-lagu the Corrs, memakai wig seperti anggota the Corrs. Crist memang sangat licah dan ramah dalam kesehariaannya, sudah lama dia menjadi pegawai kami, dia punya putri kembar yang sangat cantik
Pernah suatu hari dia cerita, bahwa suaminya, di kenal sejak dari Taman Kanak-kanak, waktu Christ menangis, calon suami yang masih anak itu menghiburnya, demikian sebaliknya, dia juga menolong jika sang calon suaminya itu dalam kesulitan. Rupanya cinta mereka terus bertumbuh hingga dewasa dan menjadi suami istri yang rukun dan harmonis.
Ada juga 2 pegawai kebun kami Andrian dan Nathan, mereka juga sangat ramah dan suka bercerita. Kata Sr Hermelinda, Si Nathan ikut kami sejak masih SD, membantu menyiram dan memperhatikan tanaman, akhirnya menjadi pegawai kami.
Mereka sering bertanya pada saya :” sudah krasan di England atau belum?”
Selalu saya jawab sudah,
“Kalau memilih, senang di England, atau di Indonesia ?”, lanjutnya
“ Ya senang di Indonesia dong”, jawabku
Mengapa?, tanyanya lagi
Indonesia tanah airku yang tidak bisa kulupakan, lagian makanannya enak-enak tidak ada duanya, beraneka ragam suku, budaya, agama , semua kuceritakan kepada mereka.
Yah mereka memang hanya tahu dengan melihat TV, atau membaca, bahkan mereka lebih mengenal Bali dari pada Indonesia. Maka saya sering bercerita, dan menunjukkan foto foto yang kubawa.
Jika saya masak ala Indonesia, yang sering sih masak Mie/Bihun, goring, pencel dengan saya variasi sendiri bumbunya, dan saya beri juga mereka. Dan mereka sangat suka , bilang enak sekali.
Terus terang makanan di sini menyehatkan tapi tidak ada rasa, setiap hari sayur dikukus / rebus, dengan saos buatan sendiri yang hambar, untuk ganti nasi yaitu ketang direbus atau di buat puree ( dihaluskan ) begitu setiap siang. Pagi dan malam makan roti dan sayur mentah.

Saya makan supaya tidak masuk angina he..he..he, kalau soal rasa jauh dari euuunnnaknya makanan Indonesia yang beraneka dan lezat. Paling senang kalau hari Jumat, mereka makan pantang makan daging tapi makan ikan yang di goreng dengan tepung roti.
Dalam hal makanan di sini sangat ketat, tidak pernah ada sisa makanan. Kalau pas saya tugas masak, ya saya memasak dengan bahan yang ada di England. Betapa terkejut melihat harga kecap manis yang botol kecil, harganya sama dengan harga 2 ayam besar, tapi toh saya beli untuk menambah cita rasa mie, bihun goring andalan saya, kadang saya juga buat yang rebus terutama untuk malam hari dan musim dingin.
Buat meet ball ( bakso ) karena bahannya juga mudah dicari, setelah saya masak, mereka ketagihan cita rasa masakan Indonesia. Waktu itu belum dijual bumbu jadi ala masakan Indonesia, tapi kalau mencari di Toko India, ada bumbu kare yang mirip cita rasa Indonesia. Soal bumbu, lebih mudah mencarinya di Belanda karena ada toko Indonesia.
Nah karena para suster tahu saya bisa memasak, maka sering saya mendapat giriran untuk makan malam, karena siang sudah ada yang masak, kadang juga saya menolong di dapur jika pas libur sekolah, memberi keasyikkan tersendiri.
Di sini setiap siang ada 3 pastur yang makan di tempat kami, memang ini semangat kongregasi kami untuk memperhatikan dan memelihara kehidupan para pastor / Imam. Tugas Sr Bernadette dan saya untuk mempersiapkan dan membereskan meja makan, saat mereka santap siang. Suatu pengalaman baru, meski hanya 3 orang tapi alat makan yang dicuci banyak sekali maklum setiap ganti acara makanan ganti alat makannya.
Mulai dari sup, menu pokok, dessert ( buah,pudding, mus appel ),minum kopi. Menunggu mereka makan dan ngobrol, kami nonton TV tentang sejarah England, dan Sr Bernadette banyak cerita tentang daerah di Britania Raya ini.Jadi setiap waktu terisi dengan hal -hal yang berguna.
Ketika Natal tiba
Suasana Natal sungguh kami rasakan ketika memasukki bulan Desember, pertengahan November gua natal dan pohon terang sudah kami pasang namun belum dihias. Nah bulan Desember kami baru memasang segala pernak -pernik hiasan Natal.
Maklum disini komunitas para suster lansia, waktu itu ada 8 suster yang usianya diatas 80 tahun, dan 5 Suster usia diatas 70 tahun, saya yang paling muda seperti cucu mereka. Maka di manapun butuh pertolongan selalu siap sedia. Tanggal 6 Desember ada pengumuman St Claus akan datang, maka kami menyiapkan sepatu kami yang kami isi rumput dan meletakkannya diluar kamar, apa yang terjadi, esok paginya kami menemukan sepatu kami penuh dengan coklat dan permen, dan hadiah lainnya, tisu, sbun mandi.
Jauh sebelum Natal kami menulis surat kepada Kanak Yesus, biasa disebut Kinche Yesus, ini merupakan tradisi dalam Tarekat kami, surat itu berisi ucapan selamat hari lahir kepada yesus dan malah kami minta hadiah heu..heu..heu,hadiah kecil, semisal sisir rambut, sampul buku, jarum pentul, paying. Namun karena kemurahan hati Yesus ( yang diwakili oleh pemimpin komunitas ) maka kami sering mendapat hadiah kejutan.

Biasanya diundi, dan kami bertugas mendoakan dan membungkus hadiah suster saudara yang namanya kami terima. Natal yang membahagiakan kami juga mengundang para karyawan, mamanya suster Tress yang tinggal sendirian di Kota Nothingham kami jeput untuk tinggal beberapa hari dan merayakan Natal bersama.
Sungguh ramai, semua karyawan & karyawati dengan anak-anak anak mereka dating sehingga kami kenal dan akrab, diadakan atraksi sukarela, dan tukar kado. Lucunya kami mesti memakai hiasan kepala tanduk rusa, atau mahkota sepanjang hari selama Natal, bisa dibayang betapa semaraknya.
Sr Mary Eden selalu membuat Kue special yang bisa menyala jika dibakar, setiap kali ada pesta besar, kue itu seperti bolu yang legit, penuh dengan plum, almond dan kismis ( dari buah anggur yag dikeringkan ) diatasnya diberi anggur yang kental yang membuat kue itu bisa menyala rasanya amat sangat manis.
Nah itulah kisah Natal pertamaku di England, sungguh sangat meriah dan membahagiakan, ditengah dinginnya salju yang turun, maka sangat mengesankan kami merayakannya dan menyalakan tungku api di ruang tamu yang besar. Sungguh tidak pernah terjadi di Indonesia, saya merayakan White Christmas. Doaku dalam syukur “ Tuhan berilah saya Natal sepanjang tahun, hadirlah dan kuasailah hati dan jiwaku .****
Oleh Sr. Maria Monika SND
Artikel ke : 38 YPTD








Salah satu natal yang berkesan pastinya ya, Suster. Bahagia selalu.
Shalom Bu Dian betuls Natal yang sangat mengesankan.Salam sehat penuh berkat Tuhan. Salam dan doaku