Tips Seru Menulis Buku dalam Seminggu
Bagian 2
“Saya yakin Bapak dan Ibu sekalian pasti punya hobi, kegemaran, kesukaan, cerita, dan lain-lain. Pilihlah satu topik yang sangat anda SUKAI dan anda KUASAI karena pengalaman anda – namun jangan ceritakan ke orang lain via obrolan (mulut/verbal), tetapi lakukan dengan cara menuliskan apa yang ingin anda omongkan via tulisan” papar beliau melanjutkan motivasi kepada kami. “Jadi yang suka Manchester United silahkan setiap hari bicara apa saja mengenai MU, yang suka kulineran silahkan bicara mengenai makanan, yang suka main catur silahkan cerita mengenai taktik bermain catur, yang suka nyanyi silahkan kumpulkan lagu-lagu nostalgia anda, yang suka bikin puisi monggo buat satu puisi per hari. Intinya sederhana. Kalau setiap hari kita biasa shalat lima waktu bagi yang muslim atau berdoa bagi yang lain, maka ditambahkan sekarang dengan cara menulis satu halaman per hari (seperti yang diajarkan Oom Jay).
Nah biasanya kalau sudah ketagihan, kita naikkan porsinya jadi 2-5 halaman per hari” jelas beliau.
Jadi menurut beliau kalau biasanya setiap hari menulis 1-3 halaman, tapi pas hari Sabtu atau Minggu bisa berpuluh-puluh halaman – isinya macem-mancem, dari mulai cara mengajar, teknik main sulap kartu, update teknologi terbaru, dan lain sebagainya.
Beliau menyanjung kami para peserta dengan kalimat “Yang saya dengar anda adalah para blogger hebat, artinya anda semua sudah memiliki modal untuk menulis – jadi lakukan saja tanpa harus menunggu”.
Prof Eko Indrajit Hambatan berpendapat menulis datang dari diri kita sendiri, yang pasti paling banyak mengatakan tidak ada waktu – padahal justru saat pandemi inilah waktu paling tepat untuk menulis karena semuanya WFH”
“Menulis juga bisa dipicu karena hal-hal lain. Misalnya kita orang tua yang sering sekali memberikan nasehat ke anak-anak remaja tapi mereka cuek atau tidak mendengarkan. Yang saya lakukan adalah nasehat tersebut saya tulis dalam bentuk “surat untuk anakku yang kubanggakan”, saya print, dan saya taruh di meja anak saya. Alhasil, dia justru semakin cinta dengan ayahnya (padahal kalau dinasehati dia tidak mau)” tutur beliau.

Tips Seru Menulis Buku dalam Seminggu
Bagian 2
“Saya yakin Bapak dan Ibu sekalian pasti punya hobi, kegemaran, kesukaan, cerita, dan lain-lain. Pilihlah satu topik yang sangat anda SUKAI dan anda KUASAI karena pengalaman anda – namun jangan ceritakan ke orang lain via obrolan (mulut/verbal), tetapi lakukan dengan cara menuliskan apa yang ingin anda omongkan via tulisan” papar beliau melanjutkan motivasi kepada kami. “Jadi yang suka Manchester United silahkan setiap hari bicara apa saja mengenai MU, yang suka kulineran silahkan bicara mengenai makanan, yang suka main catur silahkan cerita mengenai taktik bermain catur, yang suka nyanyi silahkan kumpulkan lagu-lagu nostalgia anda, yang suka bikin puisi monggo buat satu puisi per hari. Intinya sederhana. Kalau setiap hari kita biasa shalat lima waktu bagi yang muslim atau berdoa bagi yang lain, maka ditambahkan sekarang dengan cara menulis satu halaman per hari (seperti yang diajarkan Oom Jay).
Nah biasanya kalau sudah ketagihan, kita naikkan porsinya jadi 2-5 halaman per hari” jelas beliau.
Jadi menurut beliau kalau biasanya setiap hari menulis 1-3 halaman, tapi pas hari Sabtu atau Minggu bisa berpuluh-puluh halaman – isinya macem-mancem, dari mulai cara mengajar, teknik main sulap kartu, update teknologi terbaru, dan lain sebagainya.
Beliau menyanjung kami para peserta dengan kalimat “Yang saya dengar anda adalah para blogger hebat, artinya anda semua sudah memiliki modal untuk menulis – jadi lakukan saja tanpa harus menunggu”.
Prof Eko Indrajit Hambatan berpendapat menulis datang dari diri kita sendiri, yang pasti paling banyak mengatakan tidak ada waktu – padahal justru saat pandemi inilah waktu paling tepat untuk menulis karena semuanya WFH”
“Menulis juga bisa dipicu karena hal-hal lain. Misalnya kita orang tua yang sering sekali memberikan nasehat ke anak-anak remaja tapi mereka cuek atau tidak mendengarkan. Yang saya lakukan adalah nasehat tersebut saya tulis dalam bentuk “surat untuk anakku yang kubanggakan”, saya print, dan saya taruh di meja anak saya. Alhasil, dia justru semakin cinta dengan ayahnya (padahal kalau dinasehati dia tidak mau)” tutur beliau.
(bersambung)
(bersambung)








