Dinginnya pagi di Telaga Sarangan menusuk tulang yang sudah mulai rapuh. Rintik hujan menerpa wajah bijak yang hingga tahun pernikahan setengah abad setia mendampingi. Sesekali diusapkan kewajah, tangannya yang basah setelah menadah air hujan.
Hari itu sengaja dipilih untuk menginap di Sarangan. Mereka berdua ingin mengulang saat pertama bulan madu. Mengapa tidak pada tanggal perayaan pernikahan, yang masih beberapa bulan lagi. Ternyata mumpung ada barengan gratis kendaraan rombongan pensiunan.
“Adinda penyejuk jiwa kakanda, kenapa senyum canda tak nampak jua, apa gerangan penyebabnya?”. Istri menunduk terdiam membisu seribu basa. Baru menyadari tas berisi dompet dan koper mereka ternyata ketinggalan di mobil yang mereka tinggal di lokasi pemberangkatan.
Berfikir keras, bagaimana menyampaikan ke belahan jiwa, yang tengah asyik menadahkan tangan bermain tetesan air hujan di teras penginapan. Mobil pensiunan yang memberi tumpangan gratisan sudah melanjutkan perjalanan, meninggalkan sepasang pengantin lansia yang tengah kebingungan. Sungguh nostalgia Sarangan tak terlupakan.






