Cerita Anak | Boleh, ya, Bu?

Terbaru374 Dilihat

“Caca… Jadi kita ke berugak baca Kak Cici?”

Novi turun dari sepeda. Dia berjalan menuju Caca. Caca sudah menunggunya.

Mereka duduk di teras rumah Caca. Keduanya berencana mengembalikan buku. Mereka sudah selesai membacanya.

“Kamu sudah selesai baca, kan, Nov?” tanya Caca.

Novi pun menganggukkan kepala. Dia tersenyum ke arah Caca. Keduanya kemudian tertawa bersama.

“Kalau begitu, ayo kita berangkat!” ajak Caca pada Novi.

Novi pun mengambil sepeda. Tidak lupa membawa tasnya. Demikian juga dengan Caca.

Keduanya mulai menjelajah kompleks. Berdua saling susul menyusul. Tidak lupa mengerem saat melewati turunan.

Akhirnya mereka tiba di berugak baca. Seperti biasa di sana banyak anak-anak. Mereka sedang duduk melingkar.

Di tengah mereka ada Kak Cici. Salah seorang maju. Dia menceritakan buku yang telah dibacanya.

Novi dan Caca memberikan salam. Mereka dipersilakan bergabung. Mereka pun mulai menyimak.

Setelah Caca, kali ini giliran Novi. Novi tidak mau maju. Dia hanya menyerahkan buku saja.

“Maaf, Kak. Novi malu,” jawab Novi sambil menunduk.

Kak Cici kemudian berkata, “Kita tidak akan pernah tahu kalau belum mencoba.”

Novi mengangkat kepala, “Iya, Kak. Tapi Novi tidak bisa.”

Kak Cici pun meminta Novi maju. Novi pun akhirnya maju. Di depan anak-anak lain dia terdiam.

Ini adalah pengalaman pertama kali Novi. Kak Cici pun mengajari Novi. Dengan telaten dia membimbing.

Novi akhirnya mau mencoba. Dia mulai mengucapkan salam. Setelah itu memperkenalkan diri.

“Assalamu’alaikum, Teman-teman! Nama saya Novi. Saya sudah selesai membaca buku. Buku ini berjudul Tim Pencari Pesawat Sederhana,” kata Novi membuka ceritanya.

Kali ini Novi berkata dengan lancar. Apalagi sudah latihan berulangkali. Dia menyadari dengan mencoba dia akan bisa.

“Buku ini bercerita tentang petualangan tiga orang sahabat. Tiga orang ini bernama Olin, Komang, dan Nada. Ketiganya bersepeda ke rumah Kakek Opin. Di sana mereka mencari tahu contoh dan kegunaan pesawat sederhana dalam kehidupan sehari-hari,” cerita Novi panjang lebar.

Anak-anak yang hadir semua bertepuk tangan ketika Novi menyelesaikan ceritanya. Novi pun tersenyum. Tidak lupa dia mengucapkan terima kasih.

“Nah apa Kak Cici bilang. Novi bisa kalau mau mencoba,” kata Kak Cici.

Novi tersenyum, “Iya, Kak. Terima kasih, ya, Kak.”

Novi kemudian mengutarakan keinginannya. Dia ingin belajar kepada Kak Cici. Dia ingin bisa menyampaikan maksud hatinya kepada ibunya.

Novi pun memutuskan belajar lagi. Di minta bantuan Kak Cici. Kak Cici dengan sabar mengajari.

“Nanti Novi kasih tahu baik-baik. Cari waktu yang tepat. Terutama pas ibu lagi tidak sibuk,” kata Kak Cici.

Novi menjawab, “Iya, Kak. Terus bagaimana Novi memulainya?”

Kak Cici menambahkan penjelasannya, “Pertama-tama sampaikan maksud Novi apa.”

“Terus apa lagi, Kak?” tanya Novi sambil menunduk.

Kak Cici menjelaskan lagi. Menurutnya Novi kemudian harus menceritakan alasannya. Setelah itu memberikan penjelasan.

Novi menganggukkan kepala. Dia telah memahami penjelasan itu. Dia pun mengajak Caca pulang.

Setelah berpamitan keduanya mengayuh sepeda. Mereka berkeliling kompleks. Akhirnya mereka sampai rumah masing-masing.

Di rumah, Novi menemui ibunya. Ibunya sedang duduk di halaman belakang. Dia pun mulai membuka percakapan.

“Maaf, Bu. Ibu ada waktu sebentar saja?” tanya Novi sambil duduk di samping ibunya.

Ibunya tersenyum kemudian menjawab, “Ada apa, Novi? Tumben.”

Novi pun mulai menceritakan tujuannya. Dengan hati-hati dia berusaha menyampaikan. Berkat bantuan Kak Cici dia pun lancar berbicara.

“Begini, Bu. Novi mau minta izin sama Ibu,” kata Novi.

“Izin apa, Novi? Selama untuk hal-hal baik pasti Ibu mengizinkan,” jawab ibunya.

Novi pun melanjutkan perkataannya, “Novi mau bergabung dengan kelompok baca Kak Cici, Bu. Boleh, ya, Bu?”

Ibunya tersenyum. Kemudian dia mengelus rambut hitam Novi. Sesekali dia menatap Novi.

“Wah ide bagus itu. Boleh, Novi. Tapi ingat kamu harus aktif sebagai anggota,” kata ibunya.

Novi menganggukkan kepala. Sesaat kemudian dia berdiri. Setelah itu dia memeluk ibunya.

“Pastinya, Bu. Terima kasih, Ibu,” kata Novi mempererat pelukannya.

mo

Tinggalkan Balasan

3 komentar