KMAA 12. Menulis Itu Bukan Bakat

Terbaru507 Dilihat

Menulis Itu Bukan Bakat

Suharto

Penggiat Literasi Madrasah

#Menepis Kesulitan Menulis

Sering kita mendengar banyak orang berkata bahwa kesuksesan seseorang dalam suatu bidang disebabkan karena bakat yang luar biasa. Di mana bakat itu sudah ada dengan sendirinya pada setiap diri manusia. Dan bakat itu sudah dibawa sejak lahir.

Seolah-olah bakat itu jatuh dari langit, dan memang sudah dari sananya. Padahal bakat juga berawal dari sebuah proses yang cukup panjang. Bakat terjadi karena dibentuk dengan sadar sejak dini. Bakat terwujud melalui proses pelatihan yang ekstra super.

Contoh, Bill Gates, merupakan seorang programmer kelas dunia, beliau seperti itu bukan tiba-tiba, butuh waktu yang panjang. Sejak SMP beliau mati-matian untuk mempelajari program tersebut, sementara teman-teman seusianya sedang asik-asiknya berpacaran gonta-ganti pasangan.

Jadi bakat itu bisa dipelajari dan semua orang bisa untuk membentuk bakat yang diinginkan. Begitu juga dengan menulis. Menulis itu bukan bakat atau pembawaan sejak lahir, tetapi disebabkan oleh proses pembelajaran dan pelatihan yang  terus-menerus dilakukan. Menulis sebuah keterampilan yang bisa dipelajari dan dilatih oleh semua orang.

Suatu contoh yang sangat sederhana terjadi pada diri penulis sendiri. Bagaimana dahulu untuk menulis satu kalimat saja butuh waktu, itu pun terkadang tidak jadi. Maka ketika duduk di bangku sekolah, dipinta guru untuk mengarang penulis kebingungan. Kenapa hal itu terjadi? Karena tidak pernah berlatih untuk menulis.

Seiring bergantinya waktu, setelah penulis terus berlatih memaksakan diri untuk terus berlatih menulis, maka apa yang terjadi pada diri penulis? Alhamdulillah, walaupun tidak seindah para pakar, penulis setidaknya  sedikit banyak sudah menghasilkan sebuah karya dari menulis.

Ini artinya bahwa menulis bukan bakat yang turun dari langit, tetapi bakat yang terwujud dari hasil proses belajar yang terus-menerus.

Pernah penulis berkumpul dengan teman-teman, lalu mengajak untuk menulis. Mereka bilang penulis tidak ada bakat, penulis tidak bisa, dan sejuta alasan. Ya, itulah anggapan mereka, seolah-olah mereka berkata bahwa untuk menjadi penulis, karena memang sudah ada bakat atau pembawaan sejak lahir atau juga keturunan penulis. Padahal realita yang terjadi tidak seperti itu.

Zulhasriil Nasir (2010) dalam bukunya Menulis untuk Dibaca; Feature & Kolom, mengatakan:”Aspek bakat, keturunan, lingkungan sosial yang sering digambarkan pada masa lalu tidak lagi menjadi alasan utama. Dewasa ini orang-orang dari kalangan mana saja dapat menjadi penulis yang rajin dan baik. Tidak lagi yang berdarah seni atau berilmu pengetahuan budaya dan sosial, tetapi siapa saja yang berkemauan untuk menulis.” Artinya menulis itu bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak mesti punya bakat. Asal mempunyai kemauan kuat dan berlatih intensif, pasti bisa menulis dengan baik.

Ternyata mereka keliru, bahwa bakat itu juga berawal dari sebuah proses pembelajaran yang maksimal hingga mereka yang fokus pada bidang yang digeluti akan menjadi trampil.

Demikian, jika kita ingin menjadi penulis, maka kita, harus terus berlatih untuk belajar menulis dengan tekun dan konsisten, hingga menulis itu menjadi sebuah kebiasaan. Ingat sahabat, jika kita mau belajar, pasti bisa!

Salam Literasi

Tinggalkan Balasan