
Suharto
Guru MTsN 5 Jakarta
Penggiat Literasi Madrasah
Setahun yang lalu tepatnya tanggal 19 Agustus 2020 YPTD diproklamasikan, dua hari setelah bangsa ini merayakan hari kemerdekaan yang ke 75. Semangat kemerdekaan ini tentunya yang menjadi alasan berdirinya YPTD.
Semangat berbakti kepada negeri tak pernah berhenti, walau langkah semakin berat untuk diajak berlari. Tapi semangat juang mengisi kemerdekaan tak pernah berhenti. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih dimiliki. Berbakti lewat jalur literasi. Banyak sudah yang dibantu untuk mewujudkan mimpi.
Saya kenal YPTD lewat postingan Om Jay di salah satu group menulis. Inti postingan mengajak para penggiat literasi untuk mengikuti lomba menulis dengan syarat harus di share lewat webblog terbitkan buku gratis YPTD.
Saya tertarik untuk meramaikan lomba, bukan hadiah yang dituju, tapi agar tulisan menjadi buku. Dengan berbekal recommended dari Om Jay saya diterima dengan baik. Lumayan ada orang baik membantu menerbitkan buku gratis. Saya sebenarnya sudah menyimpan beberapa tulisan di blog pribadi. Karena selama saya sakit saya menulis sekitar 100 artikel. Sebagian sudah saya jadikan buku dengan bimbingan pak Akbar Zaenudin.
Zaman sekarang mana ada penerbitan gratis, apalagi bagi seorang pemula seperti saya. Ke penerbit mayor tidak mungkinlah, karena masih banyak kurangnya daripada lebihnya.
Ke penerbit indie kudu mengeluarkan kocek, sementara awak dalam keterbatasan.
Alhamdulillah, saya mencoba memberanikan diri menghubungi pak haji Tamrin Dahlan. Beliau menerima dengan baik, hingga saya bisa menerbitkan dua buku.
Namun, sepertinya ada sedikiti yang mengganjal dalam hati. Saya bingung apa yang saya harus lakukan. Menuntut agar bisa memuaskan hati tidak enak hati, ditolong saja sudah beruntung, hingga hanya diam saja. Keterbatasan ilmu yang dimiliki dan juga keterbatasan pisik membuat hati ingin menyudahi bergabung dengan YPTD.
Berapa bulan saya tidak menulis di YPTD, tapi saya tetap menulis untuk konsumsi Facebook, Instragram, dan blog. Sekali melangkah tiga tema yang saya tulis, yaitu: Lentera Ramadan, Menulis itu gampang, dan novel Betawi.
Ketika novel itu jadi, saya pinta bantuan pak Aji Natha untuk desain cover. Lalu saya posting di Facebook. Eh, pak haji Tamrin Dahlan menyapa. Saya hanya terdiam seribu bahasa. Karena saya sudah menghubungi teman penerbit. Maaf pak haji bukan ingin berlari dari YPTD tapi bingung.
Maka itu, hanya sekedar saran dari para penulis pemula yang masih minim keilmuannya.
1. Perlu adanya kreator khusus. Menghimpun tulisan yang berserakan dan mengikatnya menjadi sebuah buku butuh campur tangan para ahli. Maka itu, perlu adanya editor dan orang yang menangani layout agar buku menjadi renyah dan indah dipandang mata. Adapun pembuatan cover buku sudah bagus dan tertangani oleh pak Aji Natha.
Keikhlasan itu laksana air laut ada pasang surutnya, walau tak semua orang seperti itu. Inilah yang terkadang saya khawatirkan. Ketika kita minta bantuan pertama, masih 💯 % keikhlasannya, berikutnya mulai memudar. Maka itu, saya pribadi lebih cenderung menghargai, karena lebih jelas, lebih enak, dan lebih segalanya.
2. Webinar, untuk lebih membumi perlu perluasan informasi keberbagai media yang tersedia. Selama ini memang belum banyak penggiat literasi Nusantara mengetahuinya. Saya terkadang memposting tulisan dengan keberbagai group dengan label terbitkan buku gratis YPTD. Intinya mengajak rekan-rekan guru untuk menulis dan sekaligus memberitahukan ada wadah gratis yang bisa menerbitkan buku.
3. Workshop, perlu adanya workshop atau pelatihan yang berkaitan dengan penulisan sampai menerbitkan buku. Sehingga akan muncul generasi penurus yang terus melestarikan keberadaan YPTD.
Mungkin ini saja masukan dari saya, mohon maaf jika ada salah kata. Ingin rasa menulis indah dan renyah, namun apa daya hanya ini kemampuan yang saya punya.
Mabruk Alfa Mabruk untuk YPTD semoga terus berkibar sebagaimana berkibarnya sang mera putih.
MERDEKA untuk berbakti.
MERDEKA untuk berkreasi
MERDEKA untuk berliterasi
Salam lestari
11 Agustus 2021







