
“Ayo foto Sukma.” Kalimat pendek tersebut tak jarang mampir di telinga saya.
Adalah kalimat yang sering disampaikan Bos YPTD (Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan), Bapak Thamrin Dahlan, di setiap kesempatan manakala ada event yang berhubungan dengan YPTD itu sendiri.
Bahkan tanpa ada perintah dari sang bos, bidik kamera saya langsung menyasar ke sasaran yang saya sukai atau yang menurut saya layak diabadikan dan menjadi momen penting.
Seperti saya katakan pada tulisan saya sebelumnya yang berjudul, “Foto dan Tulisan Mengingatkan Momen Yang Sudah Terlupakan”, disana tertulis memotret atau si pengambil gambar bebas bereksperimen, bereksplorasi atau tidak ada batas imajinasi dan kreativitas.
Maka saya pun bebas memotret obyek mana yang menarik menurut saya, sejauh itu masih sesuai dengan batas norma yang ada.
Senang, pastinya. Memotret bagi saya bikin hidup makin bahagia. Terlebih sekarang maraknya perangkat yang telah dilengkapi dengan kamera, tentu saja membuat kegiatan memotret atau mengambil gambar menjadi lebih mudah.
Lihatlah, hanya dengan menggunakan Smartphone, dimana di era sekarang ini hampir semua smartphone sudah dibekali kamera, kita pun dapat mengabadikan setiap momen bahkan yang ada disekitar kita, termasuk mengabadikan diri sendiri, bahagia bukan?
Dan iya, sebuah penelitian dari University of Southern California, mengemukakan bahwa memotret bisa menimbulkan perasaan bahagia bagi pengambil gambar.
Penelitian tersebut merupakan penyelidikan ekstensif pertama yang meneliti bagaimana mengambil foto dapat memengaruhi kesenangan orang dari pengalaman mereka. Demikian ungkap Kristin Diehl, seorang peneliti dari University of Southern California, dilansir dari Mirror.
Artinya tanpa kita sadari memotret dapat memberikan dampak yang lebih positif dimana bikin hidup lebih bahagia.
Jadi ketika saya mengambil gambar baik atas perintah bos YPTD atau inisiatif sendiri, itu tidak menjadi beban bagi saya tapi sebaliknya, saya senang melakukannya, entah dengan kalian.
Anda ingin bahagia? Maka lakukan segala sesuatu itu tanpa dijadikan beban.
Salam Literasi
Karena Menulis Aku Ada
Sukma







