Manisan Rindu

Hari-hari terasa begitu lama. Aku rindu akan hangatnya tubuh mungil bayiku. Sejak kelahiranya aku hanya sekali memeluk tubuh mungilnya. Tiap senja tampakkan jingganya, di situ hati makin terkoyak. Ingin aku lari dan meraih bayi kecil itu akan aku gendong dan aku belai lembut kulitnya. Tersenyum bahagia aku bayangkan sosok hadirmu dalam pangkuanku. Tiba-tiba suara terdengar dari balik pintu membuyarkan lamunanku.
“Ra,Rara,” Panggil ibu mertuaku.
Aku segera bangkit dan setengah berlari.
“Iya, Bu,” jawabku.
“Kamu ini bagaimana sih, seorang ibu itu harus benar-benar perhatikan keluarga, anakmu, suamimu. Jam berapa sekarang.” Ucapannya selalu buat aku tak sedikit pun berani menjawab lebih.
“Iya, Bu. Saya sudah siapkan semuanya,” jawabku lirih.
“Jika memang sudah siap, lalu sekarang di mana anakmu, jam segini harusnya sudah ada di rumah, bukannya dijagain malah di biarkan pergi,” ucapnya.
Aku diam saja, padahal anakku pergi bersama Ayahnya, dan smabil menunggu mereka. Aku di kamar sambil baca-baca buku. Ya.. aku ingin sedikit bisa terhibur dengan membaca buku cerpen atau majalah.
Ibu mertua berlalu meninggalkan ku dengan raut wajah yang tak mengenakkan.Huuuuf ku tarik nafas panjang ku keluarkan pelan.
Din din… suara klakson motor suamiku terdengar. Aku segera beranjak tuk melihat dan membukakan pintu untuknya. Setelah berucap salam dan aku pun menjawab. Anak cewekku yang berusia 7 tahun berada dalam gendongan suamiku.
“lho, Kak. Kok minta gendong sama Ayah,” tanyaku. Aku panggil anak pertamaku Kakak setelah kelahiran anak keduaku.
“Abis enak sih, Ma. Di gendong sama Ayah,” jawabnya polos
“Kakak, kan udah gede, udah punya Adek lhu, bentar lagi dia pulang, mosyok masih minta gendong,” ucapku.
“Ga pa-pa, Ma. Sekali-kali di gendong ini,” timpal suamiku.
“Ok, ayuk turun. Sebentar lagi maghrib kita siap-siap jamaah ya. Kita berdoa untuk Adek,” ajakku.
“Siaap, Ma.” Hampir bebarengan suami dan anakku menjawab permintaanku.
Kami tersenyuum bersama. Kami begitu bahagia, andai ibuku melihat tumbuh kembang anakku pastilah ia akan merasa bahagia juga. Sayang Ibuku sudah menghadap Ilahi satu tahun silam saat anakku masih sekolah Taman Kanan-kanak.
Saat anak pertamaku menginjak kelas 2 SD aku pun mengandung dan melahirkan. Sesuai keinginanku anak keduaku laki-laki. Namun keadaan berkata lain, lagi-lagi aku melahirkan bayi premature. Sesaat setelah melahirkan aku boleh pulang tapi anakku masih harus di rawat bahkan di rujuk ke rumah sakit yang perelengkapannya lebih lengkap. Selama satu bulan lebih bayiku di rawat selama itu pula aku selalu di rundung pilu. Bagaimana tidak, aku di rumah sedangkan bayiku di rumah sakit. Asi tak bisa langsung kuberikan. Setiap pagi dan sore Asi aku kirim kerumah sakit.
Seorang ibu mana yang hatinya tak kan pilu, bila harus berpisah denagn anaknya. Aku rindu tangisnya aku rindu semua tentang bayi mungilku.
Ya Rabb bimbing hamba tuk dapat berlaku sabar dalam mengahadapi segala ketentuan-Mu. Apa yang menimpaku semoga membuatku lebih dewasa, sabar dalam mengahdapi jalan hidup yang penuh liku. Tak mudah menyatukan dua hati hidup tinggal bersama mertua. Di butuhkan saling pengertian dan berfikir lebih dewasa agar semua berjalan baik-baik saja.
Selama ini banyak hal yang Ibu mertua nilai salah terhadapku. Saat mengandung dan melahirkan prematur akulah satu-satunya yang di salahkan. Padahal apa yang menimpa kita tak lepas dari skenario Tuhan. Tak seharusnya saling menyalahkan. Butuh waktu lama aku bisa pahamkan ke mertua tentang hal itu. Berdamai dengan kenyataan lambat laun seiring waktu berjalan dan kepulanagan bayiku menambah suasana di keluargaku membaik. Ibu mertuaku tak lagi selalu menyalahkan diriku.
Atas kesabaran dan kerja keras aku dna suami akhir kerinduan akan damainya suasana rumah pun dapat aku rasakan. Terimakasih Tuhan. Semua ada hikmahnya. Kini aku bisa merasakan hangat kasih sayang yang tulus dari orang-orang di sekitarku terutama Ibu mertuaku. Terimakasih bayi mungilku. Tetaplah sehat dan kelak jadilah anak yang selalu bisa beri kedamaian di mana kamu berada.
#KarenaMenulisAkuAda
#Day35KMAAYPTDChallenge
Gunungkidul, 26 Sepetember 2021







