Menulis Harus Segera Dimulai (2)

Terbaru607 Dilihat
Sumber Gambar: Liputan6.com

Masih Takut Untuk Memulai

Betul bila ingin menulis tidak perlu ragu, tapi… keinginan ini harus disertai kekayaan pengetahuan yg luas mengenai berbagai hal. Karenanya aku belum berani untuk menulis. Kalau sekedar ulasan, kayaknya memungkinkan. Kalau menulis, harus menunggu…”

Petikan kalimat di atas merupakan respon dari salah seorang teman saat saya share link tulisan dengan judul serupa pada bagian (1). Rupanya, beliautakut untuk menulis karena merasa kurang dalam pengetahuan tentang kepenulisan. Bila masalahnya merasa kurang pengetahuan maka solusinya jelas, yaitu berusah mencari ilmu. Itu pun bila ingin giat menulis. Pasalnya, menunda untuk menulis gegara mau menumpuk ilmu, bukanlah sikap yang tak tepat.

Quote salah seorang guru kepenulisan berikut, agaknya tepat. “Menulislah dari yang sederhana, lalu sempurnakan!”  Membuat tulisan tak harus  langsung bagus dan sempurna. Ada kesempatan yang luas untuk memperbaikinya. Buang bimbang dan ragu dan mulailah menulis. Anda bisa memilih aneka genre tulisan, dari yang fiksi maupun non fiksi.

Sumber Gagasan Yang Melimpah

Bisa jadi anda mengalami kebuntuan dalam hal ide atau gagasan yang hendak ditulis. Hal itu wajar adanya. Namun menunggu hadirnya gagasan, baru mau menulis merupakan buang-buang waktu. Karena, bisa jadi ide tidak muncul meski sangat diharap. Sebel bukan?

Adalah penting untuk menghadirkan ide, bukan menunggunya. Sebenarnya sumber ide itu bersliweran di sekitar kita. Kita musti peka untuk menangkapnya, sehingga muncul gagasan buat menorehkan pena. Tidak jauh, ide itu adanya. Ambil seputar pengalaman keseharian yang kita alami.

Bagi seorang guru, bisa menulis tentang pengalaman saat mengatasi siswa bermasalah atau pengalaman menaklukkan materi yang sulit untuk dibelajarkan pada siswa. Baik karena materinya yang bersifat abstrak atau karena kurangnya sarana belajar mengajar di saat terjadi Pandemi seperti saat ini.

Seorang guru bisa saja bikin tulisan tentang galaunya hati ketika hasil ulangan yang tak mencapai Ketuntusan Minimal (KKM). Bisa pula tentang pengalaman menyelesaikan konflik antar siswa, kala menjadi walikelas.

Pengalaman tentang rumitnya menapaki jalan menuju kenaikan pangkat, tak kalah menarik untuk ditulis. Utamanya bagi guru yang berhasil menapaki kenaikan pangkat secara alami, tanpa  harus bayar mahar, tanpa beli karya tulis.

Bagi seorang guru, pengalaman yang berkait dengan sekolah dan pendidikan juga merupakan sumber ide yang melimpah untuk ditulis. Semua tidaklah sulit, karena hal itu merupakan pengalaman empiris, yang benar-benar dialami oleh oleh seorang guru.

Penulis pernah mempublikasikan tulisan dengan judul “Kurikulum 2013, Kendala dan Upaya Mengatasinya”.  Artikel tersebut  tayang di majalah skala Provinsi, dalam tempo kurang dari satu bulan sejak artikel dikirim. Artikel tayang, kredit poin meningkat, coin pun masuk ke dompet. Gurih rasanya!

Gagasan untuk menuliskan pengalaman ini muncul saat penulis mengalami kesulitan untuk menerapkan kurikulum baru itu di lapangan, meski telah mengikuti diklat sebelumnya. Adanya kesulitan ini merupakan konflik yang bisa diungkap dalam sebuah tulisan.

Nah, sumber gagasan ternyata ada di sekitar kita, berupa pengalaman diri. Kalau kita sedemikian mudah untuk bercerita, menggapa tidak menuliskannya  saja biar bisa berbagi pengalaman kepada orang lebih banyak lagi? Jangan tunda lagi, menulis memang harus segera dimulai.

B e r s a m b u n g ke KMAA-3

Tulungagung, 25 Agustus 2021.

AAKM-2. Direpro dari tulisan penulis yang tayang di gurusiana.id

Tinggalkan Balasan

3 komentar