”Ahok: Ibu Rumah Tangga Lebih Rentan Kena HIV/AIDS daripada PSK“ Ini judul berita di liputan6.com, 6 Desember 2013.
Pernyataan Wagub Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, yang akrab disapa Ahok, membuktikan mengapa ibu rumah tangga lebih banyak yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS daripada PSK (pekerja seks komersial).
Kalau saja wartawan membawa fakta ini ke realitas sosial tentu saja akan menunjukkan perilaku laki-laki yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS, seperti di tempat-tempat yang terjadi transaksi seks. Sekarang lebih banyak melalui transaksi daring karena lokasi dan lokalisasi pelacuran sudah tidak ada lagi.
Ibu rumah tangga lebih banyak berisiko tertular HIV daripada PSK karena seorang PSK melayani tiga sampai lima laki-laki setiap malam (Lihat Gambar 1).
Jika laki-laki yang melakukan hubungan seksual berisiko dengan PSK mempunyai istri, itu artinya ada 3 – 5 ibu rumah tangga yang berisiko tertular HIV/AIDS.
Kalau ada di antara 3 – 6 laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK itu tanpa memakai kondom, maka laki-laki itu berisiko tertular HIV/AIDS. Laki-laki yang tertular HIV/AIDS akan menularkan HIV/AIDS kepada istrinya atau pasangan seks mereka. Bisa juga mereka tularkan ke PSK lain.
Itu artinya seorang PSK berisiko menularkan HIV kepada tiga sampai lima laki-laki setiap malam. Kita tinggal menghitung-hitung saja. Misalnya, kalau di Jakarta ada 1.000 PSK (PSK langsung dan PSK tidak langsung), maka setiap malam ada 3.000 – 5.000 laki-laki yang berisiko tertular HIV. Jika separuh dari laki-laki itu beristri, maka ada 1.500 – 2.500 istri yang berisiko tertular HIV dari suaminya.
Disebutkan oleh Ahok: “Ibu rumah tangga 5 kali lebih sering terjangkit virus HIV/AIDS daripada PSK sendiri.”
Hal itu terjadi karena seorang istri melayani seorang suami yang sering melakukan hubungan seksual dengan PSK.
Masih menurut Ahok, untuk mencegah penyebaran penyakit HIV/AIDS agar tidak berlanjut. Semua warga DKI Jakarta, harus bersedia ikut dalam tes untuk mengetahui apakah warga tersebut terjangkit HIV atau tidak.
Nah, ini Pak Ahok. Tes HIV itu ada di hilir. Artinya, Anda menunggu dulu ada warga Jakarta yang tertular HIV (di hulu). Ini merupakan pembiaran terhadap warga Jakarta.

Yang perlu Anda lakukan adalah menutup ’pintu masuk’ HIV/AIDS ke Jakarta, antara lain mencegah agar tidak ada laki-laki dewasa yang tertular HIV melalui hubungan seksual dengan PSK.
Persoalannya adalah: pelacuran di Jakarta tidak ada yang diregulasi berupa lokalisasi sehingga tidak bisa dilakukan intervensi berupa program yang mengikat secara hukum.
Selain itu pelacuran tidak langsung dan di luar Jakarta pun jelas tidak bisa dijangkau (Lihat Gambar 2).
Untuk itulah Pemprov DKI Jakarta harus menjalankan intervensi berupa program tes HIV kepada perempuan hamil karena ada kemungkinan suami mereka mengidap HIV/AIDS, al. melalui kegiatan pada Gambar 2. Jika perempuan hamil terdeteksi mengidap HIV/AIDS, maka dijalankan program pencegahan dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya.

Yang bisa dilakukan Pemprov DKI Jakarta adalah menurunkan insiden infeksi HIV baru, terutama pada laki-laki melalui program kondom di pelacuran. Itu artinya pelacuran harus diregulasi melalui lokalisasi agar intervensi bisa dijalankan secara efektif (Lihat Gambar 3).
Persoalaannya adalah tidak ada kemungkinan (lagi) melokalisir pelacuran. Maka, yang terjadi adalah kejadian pada Gambar 2.
Jika penyebaran HIV/AIDS yang terjadi di Jakarta adalah kejadian seperti pada Gambar 2, maka Pemprov DKI Jakarta tinggal menunggu waktu saja untuk menghadapi ’ledakan AIDS’ (AIDS Watch Indonesia – 7 Desember 2013). *








