Seri Santet #5 – Korban Santet Selalu Jadi Sasaran Fitnah

Sosbud773 Dilihat

”Bang, saya diskor!”

Itulah pesan yang saya terima dari seorang teman, redaktur di sebuah harian yang terbit di salah satu kota di Sulawesi Selatan.

Astaga, ada apa?

”Ada yang menelepon ke kantor mengatakan bahwa kita menikah, Bang.”

Astaga lagi!!

Waktu itu saya sedang diskusi dengan wartawan dan aktivis HIV/AIDS di Makassar (2004).

Sebagai instruktur saya pemateri selama pelatihan penulisan berita HIV/AIDS selama empat hari.

Mendengar kabar itu sejenak pikiran saya kacau. Untunglah tidak lama kemudian rehat. Saya tenangkan diri.

Telepon dari mana? ”Dari Jakarta, Bang.”

Lagi-lagi Astaga!!!

Siapa pulalah yang menelepon ke kantor teman tadi hanya untuk menyebar fitnah (KBBI: perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang)?

Operator telepon di kantor redaksi teman itu menyebut bahwa telepon dari ’X’ yang mengaku istri saya dari Jakarta.

Karena pesan telepon itu tidak benar, saya pun mengirim surat pernyataan yang membantah telepon tsb. Tapi, surat tidak bisa membantu teman itu. Bahkan, untuk meringankan hukuman pun pihak manajemen tidak memberikannya karena dianggap perbuatan teman itu merusak citra citra perusahaan.

Bahkan, belakangan dia ditempatkan di bagian administrasi yang tidak dikuasainya.

Rupanya, cara itu dilakukan untuk membuat teman itu tidak betah. Maklumlah, intrik di perusahaan media massa sangat tajam. Sekecil apapun persoalan akan dimanfaatkan, terutama oleh kalangan yang ’berjaringan’ di sistem manajemen melalui KKN, untuk merebut posisi. Pada akhirnya kondisi itu membuat teman itu mengundurkan diri.

Kejadian itu belum saya ketahui kaitannya dengan kondisi fisik dan psikis saya yang ternyata ketika itu sudah kena santet.

Setelah berobat ke Banten barulah kejadian itu terkait dengan santet yang ada pada diri saya.

Korban santet selalu akan dihina, diejek, dicaci dan dikorbankan agar kondisi fisik dan psikis terus melemah. Langkah yang dilakukan oleh orang yang membayar dukun untuk menyantet al. adalah mendorong orang-orang di sekitar saya untuk melakukan hal-hal yang merusak saya.

Itu semua merupakan bagian dari upaya untuk menodai nama baik dan merugikan kehormatan saya agar kondisi psikis lemah sehingga penyakit dalam tubuh yang disebabkan santet kian parah.

Pada satu titik korban santet akan mengalami kondisi yang membuatnya memerlukan bantuan yang besar, terutama uang. Inilah pintu masuk orang-orang yang membayar dukun santet untuk memberikan bantuan. Soalnya, wadal atau tumbal untuk santet tidak bisa asal comot tapi melalui proses.

Wadal harus ’diumpani’ dulu. Artinya, diasuh bagaikan anak atau saudara. Tapi, karena kondisi kesehatan yang terus menurun yang didorong oleh benda-benda santet di dalam tubuh maka itulah jalan ke kematian.

Alhamdulillah, biarpun fitnah, hinaan, dll. terus-menerus menerpa diri saya Tuhan memberikan jalan untuk mengahadapinya, al. melalui orang-orang yang dengan setia mengobati saya biar pun hanya dengan imbalan terima kasih.

Dorongan bisa dilakukan tanpa harus berhadapan secara fisik, tapi bisa dengan perantaraan makhluk halus.

”Pak, mana istri barunya.”

Lagi-lagi dan lagi-lagi, Astaga!!!!

Itu pertanyaan seorang ibu di dekat rumah ketika saya menjenguk anak laki-laki yang tinggal dengan ibunya.

Rupanya, ibu anak  itu menebar isu bahwa saya pergi meninggalkan rumah karena kawin lagi.

Padahal, langkah yang saya lakukan adalah tetirah (KBBI: pergi ke tempat lain dan tinggal sementara waktu untuk memulihkan kesehatan, dsb.) karena jika tetap tinggal di rumah serangan santet sangat gencar. Ini terjadi karena di rumah itu sudah ada ’tanaman’ yang dijadikan sebagai terminal untuk menyebarkan benda-benda ke tubuh saya.

Biar pun sudah tetirah ternyata makhluk halus terus mengikuti saya. Setiap malam Selasa dan malam Sabtu loteng di rumah kontrakan gemuruh seperti suara pasir, kerikil dan batu disebar.

Tapi, kalau dicari tidak ada. Padahal, suara itu nyata dan loteng bergetar seakan mau jebol.

”Pak, tadi malam anak Bapak lewat.”

Itulah ’laporan’ yang saya terima dari tetangga di sekitar rumah kontrakan. Eh, di pintu masuk kantor ternyata ada kertas. ”Itu alat untuk jalan masuk bagi makhluk untuk membawa santet,” kata salah seorang yang mengobati saya.

Anak itu bersama temannya memarkir mobil kira-kira 20 meter, lalu mereka jalan ke pagar kantor kemudian kembali lagi ke mobil dan pergi.

Kalau dia memang mau ketemu saya mengapa tidak mengetuk pintu rumah kontrakan?

Tentu saja dia disuruh untuk melemparkan kertas tersebut ke pintu kantor.

Palem raja atau palem merah di depan kantor gosong, padahal selalu saya siram rutin. Rupanya, ‘kiriman’ yang akan masuk ke kantor menimpa pot palem itu. Ada juga kelapa gading yang mongering seperti terbakar (Kompasiana, 27 Juli 2013). *

Tinggalkan Balasan