Ketika Gadget DiperTuhankan dan Hoax Merajalela

Terbaru781 Dilihat

Kecanduan Gadget, Awas Kena Risiko Carpal Tunnel Syndrome | Kanal Aceh

Gadget atau barang elektonik genggam ini sudah menjadi kebutuhan primer dan bukan barang mahal lagi, hampir semua orang memiliki barang canggih kecil ini. Begitu tergantungnya manusia akan gadget di dunia modern ini. Diibaratkan seperti bumi yang membutuhkan matahari dan bulan karena jika dipisahkan sekali saja akan ada efek mengerikan yang akan terjadi.

Perkembangan gadget juga sangat pesat bertransformasi dalam berbagai ukuran dan spesifikasi sesuai kebutuhan, bisa dilihat yang memiliki gadget dari semua kalangan, tingkatan usia bahkan anak umur dua tahun pun sudah sangat mahir mengoprasikannya dan hal ini merupakan hal yang miris.

Para orang tua tidaklah berpikir jika anaknya yang masih kecil sudah diberikan gadget akan berdampak pada perkembangan otaknya dan matanya juga bisa rusak dan masih kecil sudah memakai kaca mata, karena orang tua jaman sekarang hanya mementingkan yang penting anaknya anteng tidak berisik. Sebuah realita yang tidak dapat diprediksi dan dijumpai dalam beberapa dekade sebelumnya.

Sebenarnya, gadget juga memiliki banyak manfaat yang bisa diambil, contohnya seperti informasi-informasi terkait sosial budaya,ekonomi, dunia politik dan agama secara cepat dapat diakses tanpa batas dan seketika yang terjadi di dunia ada di dalam genggaman. Apalagi ketika jaman pandemi seperti ini, dunia pendidikan bisa melakukan aktivitas belajar mengajar tanpa tatap muka dan mudah menyampaikan pesan keseluruh dunia melalui media sosial. Tidak tertinggal penayangan realita dari sejarah bangsa bisa dikemas dan disajikan dalam bentuk cerita atau film sebagai wujud nasionalisme serta cinta tanah air.

Terlepas dari semua manfaat dan dampak positif yang diberikan teknologi di atas, teknologi juga membawa pengaruh buruk. Dengan kemajuan teknologi informasi, membuka platform media sosial. Generasi milenial dalam kegiatan sehari-hari tidak terlepas dari media sosial. Dalam bermedia sosial, semua ‘orang’ menjadi media. Setiap orang dapat mengunggah informasi pada akunnya. Hal tersebut  menyebabkan pengaruh buruk pada teknologi, yakni kurangnya kevalidasian informasi yang tersebar melalui media sosial. Informasi dapat saja disalahgunakan oleh sejumlah pihak untuk melakukan kegiatan yang merugikan, seperti penipuan, cyber bullying, hingga penyebaran hoaks.

Sebetulnya apa arti dari hoaks itu sendiri? ‘Hoaks’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah berita bohong. Dalam Oxford English Dictionary, ‘hoax‘ adalah kebohongan dengan tujuan jahat. Muhammad Alwi Dahlan seorang Ahli Komunikasi menjelaskan hoaks merupakan manipulasi berita yang sengaja dilakukan dan bertujuan untuk memberikan pengakuan atau pemahaman yang salah.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh DailySocial.id bekerja sama dengan Jakpat Mobile Survey Platform, terdapat tiga aplikasi media sosial yang paling banyak digunakan sebagai media penyebar hoaks, yaitu Facebook 82,25%, WhatsApp 56,55%, dan Instagram 29,48%.  Riset ini juga menghasilkan bahwa 44,19% responden mengaku tidak yakin mempunyai kepiawaian dalam mendeteksi berita hoaks. Sebesar 51,03%, memilih berdiam diri (dan tidak percaya) ketika menemui konten hoaks. Dalam riset ini mencatat terdapat 77% responden yang membaca seluruh informasi secara utuh tetapi hanya 55% yang selalu melakukan verifikasi atas keakuratan informasi yang dibaca.

Cara yang dapat kita lakukan untuk mencegah percaya pada berita hoax yaitu

  1. kita harus kembangkan rasa penasaran setiap saat , jangan langsung menyebarkan suatu berita tanpa mengetahui kebenaranya.
  2. Selalu waspada terhadap judul berita atau cerita yang provokatif
  3. Selalu cari tahu keaslian alamat situs laman
  4. Perhatikan keaslian foto
  5. Mengecek keaslian berita dengan mencari tahu asal sumbernya

 

Namun, di sisi yang tidak kita sadari kehadiran Gadget ini telah membutakan kita menjadi insan yang konsumtif, mudah tertipu dan menerima sesuatu tanpa difikirkan terlebih dahulu seperti cerita yang belum tentu kebenarannya (hoax). Bahkan kita akan menjadi orang yang panik, bingung jika sebentar saja terlepas dari gadget ini.

Tanpa sadar bahwa gadget telah membunuh interaksi sosial manusia. Gadget juga telah menyihir kita dalam suatu ruang, sehingga jutaan manusia terdiam, asik dengan aktifitas dunia maya menyita komunikasi dengan keluarga, teman, saudara dan bahkan dalam satu meja makan sekalipun.

Nama : Syifa Damayanti

Kelas  : 27 B

NIM   : 20078

 

Tinggalkan Balasan