Hari masih pagi di Minsk dan saya sudah bersiap-siap untuk kembali menjelajah ibu kota Belarus dalam kunjungan singkat selama 4 hari tiga mala mini.
Saya buka dompet saya dan saya buka lembaran-lembaran Ruble Belarus yang ada. Kebanyakan terdiri dari lembaran dengan denominasi 20 Ruble yang setara sekitar 110 ribu Rupiah. Gambarnya ada lah sebuah istana yang ternyata bernama Gomel Palace. Istana ini pernah menjadi tempat tinggal Field Marshal Pyotr Rumyantsev dan Prince Paskevich.
Hendak ke mana saya hari ini, biarlah nanti ke mana saja kaki melangkah. Sebelumnya saya mengintip lewat jendela lantai 11 kamar hotel saya dan pemandangan Prospekte Puskhina yang lebar dengan salju yang tebal di tepi jalan kembali menyapa. Supaya perjalanan saya lebih aman dan tidak nyasar saya berniat untuk membeli SIM Card lokal Belarus sehingga memiliki akses internet dan dapat mengembara ke mana saja di kota ini.
Setelah bertanya ke concierge, ternyata kita dapat membeli SIM Card di sebuah kios persis di depan hotel di dekat pintu masuk Stasiun Pushkinkaya. Wah kebetulan sekali. Beli Sim Card, sesudah itu langsung memulai langlang dengan naik metro.
Sekitar pukul 10 kurang lima menit saya sampai di kios di dekat pintu masuk Stasiun. Ternyata kios ini belum buka. Untungnya saya melihat seorang gadis yang ternyata penjaga kios dan baru saja membuka gerainya. Sehingga saya kemudian bias masuk dan melihat-lihat sementara sang gadis menyiapkan barang-barang dagangannya.
Dengan Bahasa Inggris campur Rusia saya akhirnya saya bisa membeli sebuah SIM Card lengkap dengan akses internet 5 Giga yang cukup untuk perjalanan saya untuk beberapa hari. Harganya kalau tidak salah sekitar 15 Ruble atau sekitar 80 Ribu Rupiah Saja. Setelah itu saya sap menjelajah dan sebelum melihat-lihat tempat menarik yang akan saya tuju. Ada baiknya segera menuju ke Stasiun Metro dan seperti kemarin, mengapa Stasiun Nyamiha lagi yang saya tuju. Tujuan pertama memang ingin melihat kembali tempat yang sama di siang hari.
Tidak sampai 10 menit, saya sudah sampai di Stasiun Nyamiha dan kemudian naik ke permukaan tanah tepat di Upper Town kota Minsk.
Nah, ternyata sangat berbeda pemandangan di malam dan pagi atau siang hari. Kalau tadi malam saya mungkin tidak memperhatikan. Ternyata di dekat pintu masuk menuju lorong stasiun Metro, terdapat sebuah monumen atau memorial berbentuk prasasti dengan banyak sekali bunga warna-warni di kaki monumen tersebut.
Monumen atau lebih tepatnya prasasti ini tidak terlalu besar mungkin setinggi dua meter. Di bagian atasnya ada Ukiran Salib khas Kristen Ortodoks dan di bawahnya ada tulisan dalam aksara Kiril.
“30 Maya 1999 Hoda Proyzoshla tragediya ……………” walau tidak begitu mengerti Bahasa Belarus namun dengan sedikit mengerti Bahasa Rusia, saya bisa menafsirkan bahwa prasasti ini untuk memperingati suatu tragedi yang terjadi di tempat ini ada 30 Mei 1999. Pada prasasti itu kemudian saya membaca deretan nama-nama yang sekilas kebanyakan nama perempuan. Nama ini dimulai dengan Arekviktoriya Belitskaya, Kseniya Bels’kaya Anastasiya dan diakhiri dengan Anna Shkurdze Lyudmilayants.
Ada lebih dari lima puluh nama yang diukir di tempat itu. Pada awalnya saya belum tahu mengapa di tempat ini terjadi sebuah tragedi yang memakan lebih dari 50 jiwa. Setelah itu saya sempatkan menjelajah ke dunia maya dan menemukan bahwa prasasti ini memang dibuat untuk memperingati peristiwa tragis pada 30 Mei 1999.
Minggu malam, 30 Mei 1999, hari sudah kian larut. Namun festival minum bir dan musik rock berlangsung di dekat Istana Olah Raga di tepian Sungai Svislach. Acara ini untuk memperingati HUT dua tahun sebuah Stasiun radio yang disponsori sebuah perusahaan bir lokal. Malang tak dapat ditolak, tiba-tiba saja terjadi hujan badai. Akibatnya penonton dan peserta festival yang kebanyakan berusia remaja segera berlari menuju lorong pintu masuk ke Stasiun Metro Nyamiha. Namun karena lantai licin karena hujan, beberapa perempuan yang memaki sepatu hak tinggi terpeleset jatuh . Sementara ratusan orang di luar yang sebagian sedang mabuk terus mendorong masuk. Terjadilah tragedi di Stasiun Nyamiha yang memorialnya saya saksikan sekarang ini.
Akibatnya ada 53 orang, kebanyakan remaja perempuan seperti pada daftar nama yang saya baca di prasasti yang harus kehilangan nyawa pada peristiwa itu. Sementara lebih dari 160 orang harus menderita luka ringan sampai berat.
Selain prasasti, pada deretan tangga marmer berwarna merah tua, terdapat bunga dari perunggu yang berserakan. Konon ada 53 bunga mawar dari perunggu yang melambangkan setiap jiwa yang melayang pada hari naas 30 Mei itu. Uniknya juga , memorial dan bunga mawar perunggu ini diresmikan pada peringatan 40 hari kematian korban.
Apakah di Belarus juga ada kebiasaan memperingati 40 hari kematian seperti di tanah air?
Setidaknya rakyat Belarus memiliki kebiasaan untuk mendirikan monumen atau prasasti untuk memperingat peristiwa yang menyedihkan. Sementara peristiwa kerusuhan Mei di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia lebih ingin kita lupakan.
Minsk, Maret 2018








