Di Amerika, Banyak Juga Etnis Tionghoa yang Menjadi Tentara

Wisata827 Dilihat

Pengembaraan saya di kota berangin Chicago terus berlanjut. Di stasiun CTA (Chicago Transit Authority) red line Jackson saya menunggu kereta bawah tanah yang akan membawa saya ke arah selatan yaitu Stasiun Cermak-China Town.Selama menunggu ini, ternyata suasana ramai sekali karena banyaknya rombongan remaja berkulit hitam yang bermain musik dengan nada-nada yang riang .

Akhirnya setelah kereta berjalan selama sekitar sepuluh menit ke arah 95/Dan Ryan dan melalui tiga stasiun, kereta pun tiba di stasiun Cermak-China Town yang rupanya terletak di jalur layang. Tidak susah mencari lokasi China Town, karena dari atas stasiun dalam jarak kurang lebih 200 meter sudah kelihatan kompleks bangunan yang cukup luas dengan arsitektur Cina yang khas seperti pagoda dan pintu gerbang berwarna merah dengan hiasan-hiasan lampion.

 

Saya berjalan mengikuti rombongan penumpang yang cukup bervariasi. Namun cukup banyak yang berwajah oriental yang turun di stasiun ini. Mungkin mereka penduduk China Town, mungkin juga wisatawan dari kota atau negara lain. Tetapi banyak juga yang berkulit putih, atau pun hitam. Pendek kata semua manusia ada di daerah ini.

Sebuah petunjuk bertuliskan China Town Food Court dan tanda panah menyambut saya, sehingga saya pun mengikuti tanda panah tersebut dan sampai di sebuah koridor dengan deretan rumah toko berlantai dua dengan arsitektur khas Cina. Di sini deretan restoran dan tempat makan menunggu para pembeli. Tentu saja kebanyakan menjual masakan dari berbagai provinsi di daratan Cina.

Tidak jauh dari food court in terdapat sebuah plaza atau lapangan terbuka yang dihiasi patung logam dengan dua belas hewan dalam mitologi Cina. Di tempat ini juga ada sebuah panggung dengan tulisan “Live from Chicago China Town Summer Concert Series. ”Sayangnya siang itu sedang tidak ada pertunjukan.

 

Kompleks China Town yang cukup luas ini memiliki beberapa pintu gerbang yang diberi nama yang unik, di antaranya Dragon Gate, West Gate, dan juga Wisdom Gate. Dan di sana juga terdapat sebuah prasasti yang ditulis dalam aksara Cina dan Inggris yang menerangkan bahwa tempat ini merupakan salah satu China Town terluas di benua Amerika .Pada prasasti berhias gambar penemuan mesin cetak oleh bangsa Cina itu tertulis Grand Opening China Town Square pada tanggal 5 September 1993.

Tidak jauh dari prasasti ini juga terdapat sebuah lukisan tembok atau mural yang unik. Mural ini terdiri dari pecahan mosaik warna-warni yang terdiri lebih dari 100 ribu keping kaca yang dilukis dengan tangan di Cina dan kemudian disatukan di dinding di Chicago ini. Di mural ini digambarkan sekilas sejarah para imigran Cina yang datang ke Amerika di abad ke 19 . Selain itu digambarkan juga sedikit tentang falsafah bangsa Cina

Pada prasasti di bawah mural itu tertulis dalam bahasa Inggris dan Cina yang menjelaskan mengenai betapa orang Cina Amerika yang leluhurnya datang ke benua baru ini pada awal abad ke 19 telah ikut serta memberikan sumbangan yang besar bagi kemajuan negeri Amerika. Mereka bekerja keras dalam kondisi alam yang tidak bersahabat untuk membangun rel kereta api yang menghubungkan timur dan barat negeri ini. Walaupun mereka kerap diejek dan sering mendapatkan perlakuan diskriminasi yang keras, namun ketabahan, kegigihan dan kerja keras para leluhur orang Cina Amerika ini terbukti telah ikut serta memperkaya Amerika dengan etos kerja, kebudayaan, makanan, ilmu pertanian dan ilmu-ilmu bangsa timur yang sebelumnya belum dikenal di bumi Amerika. Dan berkat kerja keras itu pulalah etnis Cina di Amerika sekarang menikmati tingkat kehidupan yang sangat baik, mereka menjadi pengusaha, pemilik restoran, pedagang, dokter, insinyur, dan bahkan politisi terkemuka. Etnis Cina juga mendapat status yang sama seperti warga negara lain di negeri Amerika yang besar ini.

Di China Town ini, saya pun dapat belajar mengenai diaspora bangsa Cina yang menyebar ke seluruh dunia dan pada umumnya dapat hidup jauh lebih baik dari pada di tanah leluhurnya.

Saya terus berjalan menyusuri kompleks ini. Bukan hanya restoran, di sini juga terdapat toko-toko yang menjual produk dari Cina, toko obat Cina, suvenir, dan bahkan juga bank , museum, gereja, Vihara, dan juga sebuah taman yang dinamakan Sun Yat Sen Park, Pendek kata, semua ada di China Town yang menjadi rumah dan juga tempat berkejai dari sekitar 70 ribu etnis Cina yang ada di Chicago.

 

Namun, di sebuah plaza terbuka di China Town ini, saya juga menemukan perpaduan yang sangat harmonis. Seorang gadis cantik berkulit putih dan berambut pirang dengan santainya sedang memainkan sebuah biola yang diletaknya di bahu kirinya. Gadis ini pun membawakan lagu-lagu klasik bernada oriental yang mendayu merdu. Di dekat kakinya, kotak biola dibiarkan terbuka dan puluhan keping uang receh tampak memenuhi kotak biola itu.

Setelah sempat mampir menikmati minuman segar di sebuah restoran kecil di China Town ini, saya pun berjalan pelan kembali menuju stasiun CTA red line. Namun melewati arah memutar dan kali ini sempat melihat sebuah monumen yang dinamakan Chinese American Veteran Memorial. Di bawahnya tertulis kata-kata “Honor Duty Family Community Nation”. Monumen ini didirikan pada 2005 untuk menghormati para veteran dari etnis Cina yang pernah bertugas di Angkatan Bersenjata Amerika.

Wah, ternyata orang etnis Cina pun banyak yang menjadi tentara di Amerika! Demikian kesimpulan saya sambil kembali menaiki tangga menuju stasiun Cermak-China Town yang akan membawa saya menuju ke pengembaraan berikut di kota Presiden Barack Obama ini.

 

Tinggalkan Balasan