Anomali Iran

Terbaru, YPTD22 Dilihat

Sabtu, 17 Januari 2026

Disway.id

Catatan Dahlan Iskan

 

Saya mati kutu: tujuh kenalan saya yang tinggal di Iran sulit dihubungi. Kiriman WA saya tidak terjawab: centang satu. Berarti benar: internet di sana sedang diblokade oleh pemerintahnya.

“Jangankan internet. Starlink-nya Elon Musk saja berhasil diblokade,” ujar Dr Muhsin Labib, tokoh nomor satu syiah di Indonesia.

Elon memang mengumumkan: untuk warga Iran bisa menggunakan Starlink. Semua warga Iran tidak usah bingung. Tidak dapat internet bisa langsung ke satelit. Pakai Starlink. Gratis.

Langkah Starlink seperti itulah yang memperjelas adanya campur tangan Amerika di Iran. Agar rakyat Iran berontak. Dan itu sudah terjadi. Demo besar-besaran meledak di Teheran. Juga di kota-kota besar lainnya.

Foto-foto yang dilansir media Barat menunjukkan besarnya demonstrasi itu. Bahkan seorang warga Iran di Jakarta –seperti Anda baca di medsos– memastikan yang terjadi bukan lagi demo. Itu sudah revolusi. Kalau saja internet tidak diblokade bisa jadi demo itu memang bisa meningkat: jadi revolusi.

Tapi pemerintah Iran ambil langkah keras. Seperti Tiongkok di Hong Kong. Setelah Iran tanpa internet kita tidak tahu lagi apa yang terjadi di sana.

Kemampuan Iran memblokade Starlink menandakan all out –yang pemerintah dalam menangani gerakan itu.

Yang jelas tidak ada kabar bahwa Iran sudah runtuh.

Memang setelah Amerika berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro negara-negara di seluruh dunia seperti tidak ada artinya. Dunia hanya bisa kagum dengan skenario penangkapan itu. Sampai tidak satu pun senjata anti serangan udara militer Venezuela punya waktu untuk meluncur ke udara. Semua sudah dibius oleh Amerika –pakai teknologi laser dan artificial intelligence.

Sampai-sampai tidak satu pun negara sekutu Venezuela sempat memberikan pembelaan. Rusia dan Tiongkok seperti dibuat tidak berkutik. Seperti dibuat terpana –dalam bahasa Jawa bisa digambarkan dengan istilah ketenggengen.

Activists take part in a rally supporting protesters in Iran at Lafayette Park, across from the White House, in Washington, Sunday, Jan. 11, 2026. (AP Photo/Jose Luis Magana)

Pun ketika kapal-kapal tanker raksasa Rusia ditangkap di sekitar Venezuela. Rusia tidak bisa apa-apa. Demikian juga kapal-kapal tanker raksasa Tiongkok.

Lalu apalah artinya Iran: apalagi setelah nuklirnya dilumpuhkan Amerika dalam satu serangan senyap tengah malam. Presiden Donald Trump sendiri yang mengatakan Iran pun akan di-Venezuela-kan.

“Iran bukan Venezuela,” ujar Dr Muhsin Labib. “Harusnya, dua tahun diblokade Iran sudah selesai. Nyatanya sudah puluhan tahun diisolasi masih bisa melawan,” tambahnya.

Saat saya hubungi kemarin sore, Muhsin sedang long weekend di Pandaan, Jatim. Rumahnya memang di Pandaan. Di Jakarta ia mengajar. Dulu ia mengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Kini Muhsin hanya mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat Sadra. Mengajar Filsafat.

Dr Muhsin Labib memang seorang doktor ilmu filsafat. S-3 nya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Disertasinya membahas soal pemikiran filsafat Muhammad Taqi Misbah Yazdi.

Anda sudah tahu siapa Misbah Yazdi: pemikir syiah modern. Baru meninggal tahun 2021. Ia ahli fikih, filsafat, dan seorang ayatullah. Dalam hal keilmuan ia penerus tokoh filsafat di sana: Mulla Sadra (Meninggal tahun 1600-an di Basra).

Sadra salah satu pemikir terbesar Islam pada zamanmya. Ia ahli tafsir Quran dan filsafat. Kitab filsafatnya menjadi kajian di seluruh dunia: Hikmah al-Muta‘aliyah. Sadra menggabungkan filsafat rasional dengan mistisisme dan ajaran Islam.

Nama besar Sadra dipakai untuk memberi nama PTIF Sadra di Jakarta. Itulah perguruan tinggi yang dibiayai pemerintah Iran. Di mana-mana. Di banyak negara. Saya pernah berkunjung yang di Inggris. Tidak jauh dari Oxford University.

Muhsin sendiri orang Jember. Ia keturunan Arab yang sudah tercampur dengan Madura. Apalagi istrinya –yang lahir di Pasuruan.

Muhsin menempuh SMA di pondok YAPI Bangil. Dekat Pasuruan. Pondok itu dikenal sebagai pondok syiah. Dari YAPI, Muhsin ke Iran. Kuliah di Qom, ”Makkahnya syiah. Di sana ia sampai memperoleh gelar master filsafat.

“Anda ketua syiah Indonesia?”

“Tidak ada istilah itu di syiah di Indonesia,” jawabnya.

“Apa posisi Anda di syiah?”

“Saya tokoh saja,” katanya.

“Tokoh nomor 1?”

“Hahaha … tidak tahu. Mungkin saya paling terkenal karena aktif di medsos. Juga karena sering menulis artikel,” jawabnya.

“Kapan terakhir ke Iran?”

“Setelah Covid. Tahun 2023”.

“Kapan ke Iran lagi?”

“Pertengahan bulan depan. Kalau jadi,” katanya.

“Tidak takut keadaan yang sedang panas?”

“Pertengahan Februari mungkin sudah reda”.

“Bukan justru lebih panas?”

“Amerika tidak akan menyerang Iran”.

“Kok begitu yakin?”

“Sekutu-sekutu Amerika sendiri kan sudah minta jangan menyerang Iran. Misalnya Arab Saudi, Qatar, sampai Oman”.

Maksudnya: mereka khawatir serangan ke Iran akan membuat timur tengah dalam keadaan perang. Negara-negara itu akan terimbas langsung.

“Bukankah ekonomi Iran memburuk dan mata uangnya hancur?”

“Hancur itu kan kalau pakai dolar. Di sana tidak pakai dolar,” ujar Muhsin.

“Tiga bulan lalu saya ke Lebanon. Hisbullah sudah sangat lemah di sana”.

“Dukungan untuk Iran yang terbesar sekarang ini justru datang dari Iraq,” jawabnya. “Membahas Iran tidak bisa pakai ukuran hegemoni global. Dalam politik internasional Iran itu anomali,” katanya.

“Kalau Anda ke Iran lagi saya boleh ikut?”

“Terbalik,” jawabnya. “Pak Dahlan yang ke Iran dan saya yang ikut”. (*)

  • Sabtu, 17 Januari 2026
  • Disway.id
  • Catatan Dahlan Iskan

Komentar Thamrin Dahlan

Anomali Iran

Iran adalah anomali geopolitik. Awak berpikir, Amerika Serikat tidak akan berani memperlakukan Iran seperti Venezuela. Bukan semata karena kekuatan militernya, tetapi karena Iran memiliki keberanian ideologis dan jejaring kawasan yang berbeda.

Ketika tekanan meningkat, Iran justru balik mengancam: serangan balasan terhadap Israel bukan sekadar gertak sambal. Pada saat yang sama, Kerajaan Arab Saudi dan sejumlah negara Timur Tengah mengingatkan Donald Trump agar berhati-hati mengambil langkah. Timur Tengah bukan papan catur kosong; satu langkah keliru bisa memantik api besar.

Demo-demo di Iran yang kerap diberitakan media internasional pun patut dibaca dengan kacamata kritis. Awak meyakini ada campur tangan asing. Dalam kondisi demikian, keputusan pemerintah Iran mematikan jalur media sosial adalah langkah strategis. Bukan anti-demokrasi, melainkan upaya mencegah eskalasi kerusuhan yang dikendalikan dari luar. Stabilitas nasional bagi Iran adalah harga mati.

Anomali Iran awak rasakan langsung ketika menjalankan tugas negara bersama BNN pada tahun 2008. Kami meninjau sistem rehabilitasi narkoba di negeri ini. Kesan pertama: Iran sangat serius menyelamatkan rakyatnya dari bahaya narkotika. Penjagaan perbatasan dengan negara tetangga dilakukan sangat ketat agar barang haram tidak masuk.Mereka paham betul, narkoba adalah senjata senyap yang dapat melumpuhkan generasi bangsa.

Setibanya di Teheran, kami diajak singgah ke maqam Ayatullah Khomeini. Ribuan peziarah dari berbagai negara hadir. Di sekitar maqam terlihat aneka mata uang asing diletakkan sebagai simbol doa dan harapan. Seorang sahabat awak—perwira tinggi berbintang satu—awak bisiki,

“Ndan, berdoa yuk di sini, semoga berkah.”

Alhamdulillah, takdir barokah doa : karier beliau berlanjut hingga bintang tiga. Sebuah pengalaman spiritual yang tak mudah dilupakan.

Iran memang Syiah, dan di situlah keunikannya. Tidak banyak masjid di pusat kota Teheran. Shalat Jumat hanya dilaksanakan di beberapa titik tertentu. Di televisi nasional Iran, kami menyaksikan shalat Isya langsung dilaksanakan setelah Maghrib, demikian pula Dhuhur dan Asar yang dijamak. Artinya, dalam sehari semalam hanya ada tiga waktu shalat berjamaah. Bagi Sunni, ini terasa ganjil; bagi Syiah, itulah tradisi fiqh yang mereka yakini.

Jamuan makan dari sahabat Tentara Iran pun meninggalkan kesan mendalam. Kami disuguhi sate—namun tusukannya luar biasa besar, hampir seperti pedang. Bumbunya khas Timur Tengah, sederhana namun berkarakter. Makan bersama tentara adalah bahasa persahabatan universal: tanpa banyak kata, penuh makna.
Kini, ketika Iran kembali berada di pusaran konflik global, awak hanya bisa berharap: semoga perang tidak terjadi.

Bagi Iran, perang bukan sekadar konflik politik, melainkan dimaknai sebagai Perang Sabilillah, sebagai jihad mempertahankan kehormatan bangsa dan keyakinan. Dan di situlah letak bahayanya: ketika ideologi, sejarah, dan harga diri bersatu, dunia harus ekstra hati-hati.

Iran bukan Venezuela. Iran adalah anomali—dan anomali tidak bisa diperlakukan dengan resep lama.

  • Salamsalaman
  • BHP, 18 Januari 2026
  • TD

 

Tinggalkan Balasan