
Disarikan dari WAG Ikatan Keluarga Lubuk Jantan
Suatu ketika seorang guru dan muridnya berperahu di lautan luas, tiba-tiba seekor burung hinggap di kepala perahu sedang dari paruhnya menetes setetes air pertanda burung itu baru saja habis minum. Hal demikian tidak luput dari perhatian guru dan murid tersebut.
Melihat itu, si guru bertanya kepada muridnya,
“wahai muridku, coba kamu perhatikan, dari paruh burung itu menetes setetes air, menurutmu apa hikmahnya?”.
Lalu si murid berfikir sebentar dan menjawab,
“itu berarti, rezki burung itu hanya sebanyak yang dia minum saja sedang yang menetes dari paruhnya itu bukanlah rezkinya”.
“Ya, betul juga”
Tapi ada lagi hikmah yang lebih dalam dari itu,”
sambung gurunya.
Si murid mengerinyitkan keningnya dan balik bertanya,
“apa itu guru?”.
Si murid ingin tahu.
“Baiklah”,
Sang guru mulai menjelaskan.
“Ibaratnya, setetes air yang jatuh dari paruh burung itu, itulah “ilmu manusia”. Sedangkan air laut yang luas ini adalah “ilmu Allah”.
Murid terdiam sebentar dan berucap,
“oh, betul-betul-betul, :
sahutnya seraya tersenyum ceria karena seketika pola pikirnya terbuka mendengar wejangan gurunya.
Menilik kepada pendapat guru dan murid itu saya mengerti bahwa dalam memandang suatu masalah bisa menimbulkan bermacam penafsiran, sebab, ilmu itu tidak banyak diberikan kepada manusia dan tidak semua manusia menguasai semua cabang ilmu.
Untuk ini saya teringat sepotong ayat al-Qur’an dalam surat al-Isra’ ayat 85:
…………. “Wa maa uutitum minal ‘ilmi illaa qoliilaa”.
Artinya: ……… “Dan kamu diberikan ilmu pengetahuan itu hanya sedikit”.
Salam Literasi
BHP 050321
YPTD








