Kebuli Betawi

Terbaru, YPTD5 Dilihat

Tradisi Maulid menghadirkan suasana religius sekaligus kultural yang begitu khas Betawi. Sosok almarhum Habib Umar bin Ahmad Al Hamid, ulama asal Makassar yang lama menuntut ilmu di Mekkah, menjadi simpul keteladanan. Beliau bukan sekadar penceramah, tetapi figur ruhani yang dirindukan jamaah.

Kehadiran beliau di Kelurahan Rambutan, Kramatjati, menjadi pusat cahaya ilmu dan shalawat.  Tradisi mencium tangan ulama dalam konteks ini bukan sekadar adat, melainkan simbol takzim—penghormatan kepada pewaris ilmu para nabi.

Ketika para ayah menggendong anaknya untuk diusap kepala dan didoakan, itu adalah simbol estafet keberkahan. Ada harapan agar anak-anak tumbuh dalam lindungan doa dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Membaca kitab sampai khatam,
Hadrah bertalu menyentuh kalbu.
Cinta Nabi janganlah padam,
Wariskan iman pada cucu-cucu.

Pembacaan shalawat yang diiringi hadrah selama hampir dua jam menunjukkan bahwa Maulid bukan acara seremonial, melainkan ekspresi cinta kolektif. Jamaah berdiri di akhir shalawat sebagai bentuk penghormatan. Dalam suasana itu, spiritualitas dan budaya menyatu.

Usai tausiyah singkat sekitar 15 menit—padat, berbobot, tidak berpanjang kata—jamaah menikmati nasi kebuli satu nampan berempat. Di situ terasa ukhuwah; makan bersama menjadi perekat persaudaraan.

Menarik bahwa Maulid di lingkungan Betawi dan para perantau tidak berhenti pada 12 Rabiul Awal. Ia berlangsung hingga menjelang Ramadhan, bahkan sampai bulan Sya’ban.

Dari rumah anda rencana kemana
Pergi ke Rambutan membeli kebuli,
Duduk bersila bersama jamaah.
Maulid dirayakan penuh harmoni,

Bergiliran dari rumah ke rumah, shahibul bayt menjadi tuan rumah sesuai kemampuan finansial. Tradisi ini menghidupkan rumah-rumah dengan dzikir dan shalawat, bukan sekadar memusatkan ibadah di masjid atau mushola.

Yang lebih penting lagi, tausiyah para habib—yang kini dilanjutkan oleh empat menantu beliau—tetap berpegang pada Kitab Kuning. Artinya, pengajian bukan ceramah bebas tanpa rujukan, melainkan kajian berbasis warisan klasik. Kitab dibaca hingga khatam, lalu dilanjutkan kitab lainnya.

Pendekatan ini menjaga kesinambungan sanad keilmuan sekaligus mengaitkan isi kitab dengan realitas sosial masyarakat.
Memang mungkin tidak persis seperti suasana di Yaman, tetapi ruhnya sama: cinta Rasul, penghormatan kepada ulama, dan pendidikan akhlak melalui tradisi.

Inilah wajah Islam Nusantara—berakar pada kitab, tumbuh dalam budaya, dan hidup dalam kebersamaan.
Salam-salaman di akhir acara bukan hanya formalitas, tetapi simbol saling memaafkan dan mempererat silaturahmi.

Dari Maulid kita belajar bahwa agama bukan hanya teks, tetapi praktik sosial yang menyejukkan.

Salam literasi dan salam shalawat.

  • BHP, 14 Fabruari 2026
  • TD

Tinggalkan Balasan