Rati Kumari : Antara “Kersa” dan “Direksa” Ramadan

Rati Kumari

Author, Writerpreneur, Proofreader, Cultural Ambassador of The Alpha E-Magazine, Love arts, singing, and learning any language.

Pasa: Antara “Kersa” dan “Direksa”

Bagaimana jika yang paling perlu kita kendalikan di bulan Ramadan bukanlah perut, melainkan keinginan yang tak pernah merasa cukup?

Ramadan selalu datang dengan cara yang sama, tetapi setiap kali ia tiba, kitalah yang dituntut untuk berbeda. Dalam bahasa Jawa, ada ungkapan sederhana bermakna mendalam, yaitu pasa dudu napa-napa kersa, nanging napa-napa direksa. Puasa bukan apa-apa dituruti, melainkan apa-apa dijaga.

Selama ini, puasa terlihat dipersempit menjadi hanya urusan menahan lapar dan dahaga. Padahal, keduanya itu hanyalah pintu masuk. Sesungguhnya, yang sedang dilatih adalah kendali. Kita hidup di zaman ketika keinginan diperlakukan seperti raja. Bila ingin berbicara langsung bicara, ingin marah langsung meledak, ingin membeli langsung klik. Seolah-olah setiap dorongan harus segera dituruti.

Puasa hadir sebagai jeda. Ia seperti rem di tengah jalan menurun. Imam besar abad ke-5 Hijriah, Al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulumuddin, membagi puasa ke dalam beberapa tingkatan. Pertama, puasa orang awam yang sekadar menahan makan dan minum. Kedua, puasa khusus yang menjaga anggota tubuh dari perbuatan dosa. Ketiga, puasa yang lebih khusus lagi, yaitu puasa hati yang membersihkan batin dari selain Allah. Di sini, jelas bahwa inti puasa bukan pada “tidak makan”, tetapi pada “menjaga”.

Dalam pendapat lain dikatakan bahwa tujuan puasa untuk membentuk takwa, kesadaran yang membuat seseorang merasa diawasi dan karenanya berhati-hati dalam setiap langkah. Demikian penjelasan mufasir Indonesia, M. Quraish Shihab. Jadi, takwa itu bukan sekadar takut, melainkan sadar. Sadar bahwa setiap pilihan punya konsekuensi moral.

Berikutnya, sains modern pun berbicara tentang hal serupa. Psikolog Walter Mischel melalui eksperimen marshmallow test menunjukkan bahwa kemampuan menunda kepuasan berkaitan dengan keberhasilan jangka panjang. Anak-anak yang mampu menahan diri untuk tidak segera memakan marshmallow cenderung memiliki kontrol diri yang lebih baik di masa depan. Puasa dalam konteks spiritual, melatih prinsip yang sama, yaitu menunda demi nilai yang lebih tinggi.

Konsep direksa, dijaga, menjadi pusat dari semua ini. Menjaga lisan dari kata yang menyakiti. Menjaga mata dari pandangan yang merendahkan. Menjaga hati dari prasangka. Menjaga niat dari kepentingan tersembunyi. Sebab sesungguhnya, yang paling sulit dikendalikan bukanlah rasa lapar, melainkan ego. Dari fajar hingga magrib, kita berlatih berkata “tidak” pada diri sendiri. Di situlah karakter dibentuk. Jika puasa hanya berhenti pada lapar, ia akan selesai saat azan magrib berkumandang.

Namun, jika puasa dipahami sebagai napa-napa direksa, ia akan menjelma menjadi sikap hidup. Kita belajar menahan amarah di ruang publik, menahan komentar sinis di media sosial, menahan keinginan untuk selalu benar.

Nah, pada Ramadan 1447 H ini, mari kita naikkan level puasa kita.

Jangan sampai kita hanya menahan makan dan minum. Latihlah diri sendiri untuk menjaga lisan dari gosip dan caci, menjaga jari dari komentar yang melukai, menjaga hati dari iri dan dengki, serta menjaga integritas, bahkan ketika tiada yang melihat.

Mari jadikan Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi momentum pembentukan karakter. Jangan menunggu sempurna untuk memulai. Mulailah hari ini dengan satu komitmen kecil yang dijaga sungguh-sungguh. Karena pada akhirnya, pasa bukan tentang apa yang kita hentikan sementara, tetapi tentang siapa yang sedang kita bentuk selamanya.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan 1447 H. Mari bukan hanya berpuasa, tetapi benar-benar menjaga. Wallahua’lam. (RK)

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Pasa: Antara “Kersa” dan “Direksa””, Klik untuk baca:

https://www.kompasiana.com/ratikumari7753/69991aadc925c41f0f663282/pasa-antara-kersa-dan-direksa?page=all#goog_rewarded

Kreator: Rati Kumari

Ahad, 4 Ramadan 1447 Hijriah

Tinggalkan Balasan