Bela Ayatollah Ali Khamenei

Ucapan Belasungkawa Megawati

Terbaru, YPTD6 Dilihat

Bela Ayatollah Ali Khamenei

Dahlan Iskan

Disway.id Kamis 05-03-2026 

Perlukah Presiden Indonesia mengucapkan duka cita atas meninggalnya pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Khamenei? Itulah yang sedang viral di medsos.

Utamanya setelah Megawati Soekarnoputri memublikasikan ucapan duka cita itu ke publik.

Bela sungkawa Mega begitu spesial: dua halaman. Isinya pun cukup emosional: menunjukkan solidaritas sebagai sesama anggota Nonblok, sesama negara Islam, dan sesama berjiwa nasionalistis.

Anda bisa membaca sendiri isinya: sampai menguraikan riwayat masa muda Ayatollah Khamenei yang ternyata mengagumi Bung  Karno.

Mega juga menceritakan pengalamannyi saat sebagai Presiden RI ke-5: berkunjung ke kediaman Ayatullah Khamenei di Teheran. Terkesan dengan hangatnya penyambutan.

Lalu Mega mengundangnya ke Indonesia. Baik untuk menghadiri musyawarah besar alim ulama sedunia maupun ulang tahun KTT Asia Afrika.


Surat ucapan duka cita dua halaman yang dikirim Megawati untuk Iran.–

Lalu ada yang bertanya di medsos: “apakah presiden Indonesia sudah mengucapkan duka cita?”

Saya juga belum pernah membaca ada ucapan duka cita itu. Mungkin karena saya tidak tahu –sedang di Shanghai. Yang sudah saya baca adalah dari perdana menteri Pakistan, Bangladesh, Irak, dan tetangga di utara Iran. Termasuk Presiden Turkiye Thayib Erdogan. Lalu Presiden Rusia Vladimir Putin.

Negara-negara barat juga belum ada yang mengucapkan duka cita. Bukan belum, mungkin memang tidak mau.

Malaysia juga tidak. Pun Mesir. Apalagi negara-negara Arab sekitarnya yang kini ikut jadi sasaran kemarahan Iran –karena ada pangkalan militer Amerika di negara-negara itu.

Saya bukan lulusan hubungan internasional. Saya tidak tahu seperti apa  tata krama internasional dalam menghadapi kejadian seperti itu.

Mungkin negara-negara Barat menganggap Ayatollah Khamenei adalah penjahat sehingga untuk apa memberi simpati kepadanya.

Megawati menganggap Ayatollah Khamenei sebagai teladan konsistensi seorang kepala negara dalam membela kedaulatan. Tapi Megawati bukan lagi kepala negara.

Di ucapan duka cita itu dia mewakili pribadi, presiden Indonesia ke-5, keluarga PDI-Perjuangan, dan keluarga besar Bung Karno.

Mega tidak perlu merasa takut akan konsekuensi ucapan duka cita itu. Beda dengan posisi kepala negara yang masih menjabat. Apalagi kepala negara itu baru saja menandatangani perjanjian dagang dengan Amerika –yang salah satu pasalnya mengatur sikap apa yang boleh dilakukan terhadap negara lain yang sedang dimusuhi Amerika.

Itu bisa menjadi isu sensitif di dalam negeri. Maka para jagoan diplomasi harus bisa menemukan kalimat khusus yang bisa ditafsirkan simpati oleh Iran tapi tidak bisa  ditafsirkan membela Iran oleh Amerika. Diplomat mestinya ahli dalam menemukan rumusan kalimat “penyelamat” yang diperlulan.

Ini baik juga untuk latihan bagi mahasiswa jurusan hubungan internasional: cobalah temukan kalimat itu lalu kirim ke dosen Anda. Siapa tahu Anda bisa langsung diwisuda jadi sarjana.

Presiden Donald Trump terbukti menyusahkan dunia. Termasuk menyusahkan Indonesia: pasar modal Indonesia kembali hancur. Kemarin. Lebih hancur dari situasi genting bulan lalu.

Indek Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia jatuh ke level di bawah kejatuhan yang lalu: kemarin sore ditutup dengan angka tinggal 7.548. Anjlok habis.

Saham-saham energi berguguran. GoTo kembali ke gocap. ELPI yang di krisis bulan lalu justru paling moncer kali ini tersungkur. Saham perusahaan logistik perkapalan offshore itu jadi “juara” jatuh yang terdalam. Padahal perusahaan itu baru saja dapat kredit dari Bank Mandiri Rp 395 miliar.

Semua bursa saham di Asia memang rontok. Bahkan di seluruh dunia. Serangan IsAm ke Iran telah begitu buruk akibatnya –tidak hanya bagi Iran. Rupiah pun ikut tersungkur. Kelihatannya orang berduit ramai-ramai cari selamat. Mereka lari ke emas dan dolar. Rupiah sudah melemah ke posisi Rp 16.872/dolar. Sedih.

Duka cita rupanya tidak hanya untuk Ayatollah Khamenei. Tapi juga untuk harga saham dan kurs mata uang di Indonesia. Untung tadi pagi matahari masih tetap terbit. Masih dari timur. Pun di langit  Shanghai ini.(Dahlan Iskan)

 

https://pdiperjuangan-jatim.com/sampaikan-belasungkawa-untuk-iran-megawati-kirim-surat-duka-atas-wafatnya-ayatollah-ali-khamenei/

JAKARTA – Presiden ke-5 Republik Indonesia Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri menyampaikan surat duka cita atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan gugur dalam serangan militer Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari 2026.

Surat tersebut diserahkan oleh Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bersama Ketua DPP Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah kepada Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi di Kedutaan Besar Iran, Jakarta, Selasa (3/3/2026) sore.

Dalam suratnya, Megawati menyatakan rasa terkejut dan duka mendalam atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Ia menyampaikan belasungkawa atas nama pribadi, keluarga besar Bung Karno, serta sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan.

Megawati juga menegaskan solidaritas kepada keluarga, pemerintah, dan rakyat Iran. Ia menilai Ayatollah Ali Khamenei sebagai ulama dan negarawan yang selama lebih dari tiga dekade memimpin Iran di tengah tekanan geopolitik, sanksi ekonomi, dan ancaman militer, dengan tetap mempertahankan kedaulatan negaranya.

Baca juga: Megawati Soekarnoputri Sampaikan Duka Cita Mendalam atas Wafatnya Try Sutrisno

Dalam surat tersebut, Megawati turut menyinggung kedekatan historis dan ideologis antara Indonesia dan Iran. Ia menyebut adanya kesamaan semangat anti-kolonialisme, solidaritas dunia ketiga, serta penolakan terhadap imperialisme yang menjadi fondasi hubungan kedua bangsa.

Sebagai putri Proklamator RI Ir. Soekarno, Megawati juga mengenang pertemuannya dengan Ayatollah Ali Khamenei saat kunjungan resmi ke Teheran pada 2004 dalam kapasitas sebagai Presiden RI untuk menghadiri Konferensi D-8.

Ia menyampaikan bahwa saat itu dirinya merasakan sambutan hangat serta komitmen persahabatan antara kedua negara.

Dalam bagian lain suratnya, Megawati menegaskan sikap bahwa penyelesaian konflik internasional harus ditempuh melalui dialog dan penghormatan terhadap hukum internasional, bukan melalui kekuatan militer.

Ia juga menyampaikan doa agar rakyat Iran diberikan kekuatan dan persatuan dalam menghadapi masa sulit, serta berharap hubungan persahabatan Indonesia dan Iran tetap terjaga dan semakin erat di masa mendatang.

Sementara itu, penyerahan surat oleh Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto kepada Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi di Kedutaan Besar Iran berlangsung dalam suasana khidmat.

Dalam keterangannya, Hasto mengatakan, PDI Perjuangan berpikir, bersikap dan bertindak dengan menjalankan ideologi Pancasila baik bagi rakyat Indonesia maupun dunia.

“Sikap itulah yang disampaikan Ibu Megawati Soekarnoputri ketika menyampaikan surat duka cita atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei,” jelas Hasto .

Ia menegaskan kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Menurutnya, hal itu menjadi doktrin politik luar negeri yang bebas dan aktif diemban oleh RI.

“Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Sikap itulah yang menjadi doktrin Politik LN bebas aktif,” katanya. (goek)

 

Komentar Thamrin Dahlan

Bela kepada Ayatollah Ali Khamenei diwujudkan dengan doa tulus agar almarhum memperoleh husnul khatimah. Doa adalah bahasa langit yang paling sederhana, namun paling dalam maknanya. Dalam setiap perbedaan sikap politik dan pandangan dunia, kemanusiaan tetap harus berdiri di barisan terdepan.

Megawati Soekarnoputri, Presiden Republik Indonesia ke-5, bersegera menyampaikan bela sungkawa. Ia mewakili pribadi, keluarga, dan segenap anggota Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Sikap itu adalah bentuk empati, sebuah tradisi luhur bangsa yang menjunjung tata krama dalam pergaulan antarbangsa.

Majelis Ulama Indonesia pun telah menyampaikan ungkapan bela sungkawa sedalam-dalamnya. Pernyataan tersebut bisa jadi mewakili suara hati umat Islam Indonesia, umat terbesar di dunia. Dalam konteks ukhuwah, duka seorang pemimpin adalah duka bersama.

Keberpihakan adalah sebuah keniscayaan. Ia merupakan hak asasi manusia, bukti kebebasan dalam berpikir dan kemudian menyatakan pendapat. Setiap insan memiliki ruang batin yang membentuk keyakinan atas nilai kebenaran yang diyakininya.

Namun persoalannya, ukuran kebenaran menurut seseorang tidak selalu sama dan sebangun dengan kehendak orang lain. Di sinilah sering muncul gesekan, bahkan perdebatan yang tak terhindarkan. Perbedaan menjadi ujian kedewasaan dalam berbangsa dan bernegara.

Karena itu, demokrasi menemukan relevansinya. Demokrasi bukan sekadar sistem politik, melainkan etika hidup bersama. Ia menuntut marwah sikap saling menghormati dan saling menghargai agar tetap terpatri pada diri yang beradab.

  • Salam salaman.
  • BHP 15 Ramadan 1447 H
  • TD

Tinggalkan Balasan