
Komunikasi Berdasarkan Fiqh Islam:
Menjaga Lisan, Merawat Persaudaraan
Dr. H.M. Tata Taufik ini.
Di negara-negara muslim, pondasi epitemologi dan etis pelaksanaan praktik media masih berakar pada ideologi dan filosofi Barat. Praktik dan prosesnya berdasarkan pada niali jual dan mekanisme pasar .
Meskipun menurut Islam, komunikasi hendaknya dalam rangka mewujudkan keadilan, kejujuran, kesederhanan, keberanian, kedamaian, etos kerja, amanah,kritis (prinsip tawashau bilhaq dan taqashau bis as-sabr), amar ma’ruf dan nahi munkar . Dengan demikian, media masa Islam harus mewujudkan transfer of knowledge untuk terciptanya kebijaksanaan dan kesejahteraan masyarakat.
Sumber Figh Islam
Tak terasa tiba hari ke 28 bulan Ramadan
Membawa pesan bermakna penuh hikmah.
Berkata baik baiklah dalam setiap pergaulan
Itulah jalan hikmah puasa nan penuh berkah.
Dalam Islam Komunikasi adalah tabligh, yang merupakan konsep dakwah sebagi aktifitas penyampaian pesan0pesan Allah SWT. dan Rasullullah SAW.
Tabligh disampaikan dengan cara
- hikmah (bijaksana dan filosofis),
- mauizhah hasanah (nasihat yang baik),
- mujadalah ahsan (diskusi yang baik),
- ya’muruna bil ma’ruf wayanhawna’anil mungkar (mengajak kepada kebajikan dan melarang berbuat kemunkaran).
- qula li an-nasi husna ( berbicara kepada manusia dengan cara yang baik),
- qaulan sadidian (berbicara dengan tegas).
Komunikasi dalam perspektif fiqh Islam bukan sekadar menyampaikan pesan, melainkan bagian dari ibadah yang mencerminkan akhlak seorang Muslim.
Setiap kata yang terucap akan dipertanggungjawabkan, sehingga prinsip utama komunikasi adalah berlandaskan akhlak mulia, kejujuran (ṣiddiq), serta kemaslahatan.
Islam mengajarkan agar lisan dijaga dari fitnah, ghibah, dan perkataan sia-sia. Sebaliknya, setiap ucapan hendaknya menjadi jembatan kebaikan yang mempererat ukhuwah, menjaga kehormatan sesama, serta menghadirkan ketenangan dalam kehidupan bermasyarakat.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (qaulan sadida).”
(QS. Al-Ahzab: 70)
Ayat ini menegaskan bahwa kejujuran dalam berbicara adalah fondasi utama komunikasi. Kebenaran bukan hanya pada isi, tetapi juga pada niat dan cara penyampaiannya.
Prinsip Komunikasi Qur’ani
Al-Qur’an memberikan pedoman yang sangat indah tentang bagaimana seharusnya manusia berkomunikasi:
1. Qaulan Sadida (Perkataan Benar dan Jujur)
Ucapan harus didasarkan pada fakta, bebas dari dusta dan hoaks. Kejujuran adalah cahaya yang menerangi hati dan pikiran.
2. Qaulan Baligha (Perkataan Efektif dan Tepat Sasaran)
Bahasa yang digunakan hendaknya jelas, ringkas, dan mudah dipahami. Tidak bertele-tele, namun tetap menyentuh makna.
3. Qaulan Layyina (Perkataan Lemah Lembut)
Bahkan kepada pihak yang berbeda, Islam mengajarkan kelembutan. Allah memerintahkan Nabi Musa berbicara lembut kepada Fir’aun (QS. Thaha: 44).
4. Qaulan Ma’rufa (Perkataan Baik dan Pantas)
Ucapan harus sesuai norma, sopan, dan tidak menyakiti hati orang lain.
5. Qaulan Karima (Perkataan Mulia)
Terutama kepada orang tua, Allah berfirman:
“Maka janganlah engkau mengatakan ‘ah’ kepada keduanya dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
(QS. Al-Isra: 23)
6. Qaulan Maysura (Perkataan yang Menyenangkan dan Mudah Diterima)
Bahasa yang ringan, menenangkan, serta tidak memojokkan akan lebih mudah diterima dan membawa kedamaian.
Adab Komunikasi dalam Sunnah
Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat jelas dalam menjaga lisan. Beliau bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi kompas moral: tidak semua yang benar harus diucapkan, tetapi semua yang diucapkan harus benar dan baik.
Islam juga melarang keras ghibah dan fitnah:
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain…”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Selain itu, prinsip tabayyun menjadi benteng dari penyebaran informasi yang salah:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Komunikasi di Era Modern
Di era media sosial, adab komunikasi semakin relevan. Tulisan, komentar, dan unggahan adalah cerminan diri. Seorang Muslim dituntut menjaga martabatnya, tidak menyebar kebencian, serta menghindari kemudaratan digital.
Komunikasi bukan lagi hanya lisan, tetapi juga jejak digital yang abadi. Maka berhati-hatilah, sebab jari-jemari pun akan dimintai pertanggungjawaban.
Penutup: Menjaga Lisan, Menjaga Iman
Lisan adalah cermin iman. Ia bisa menjadi jalan menuju surga atau sebaliknya. Maka bijaklah dalam berkata, atau memilih diam ketika kata tak membawa manfaat.
-
- Pergi ke ladang memetik kapas,
- Singgah sebentar di tepi telaga
- Lisan dijaga niatkan penuh ikhlas,
- Agar selamat dunia akhirat kita.
Semoga di penghujung Ramadan ini, kita semakin mampu menjaga lisan, menata kata, dan menjadikan komunikasi sebagai ladang amal shalih.
Salam Literasi.
- Ramadan 1447 H – Hari ke-28
BHP, 18 Maret 2026
Thamrin Dahlan YPTD








