Berbagi Rahasia Menulis, Spirit Literasi
Tulisan Isson Khairul
Tulisan “Rahasia Thamrin Dahlan 10 Tahun Berkarya di Kompasiana” pertama kali saya posting di Kompasiana pada Jumat, 21 Agustus 2020. Dua hari sebelumnya, Rabu 19 Agustus 2020, Thamrin Dahlan sengaja berbagi rahasia menulis kepada para Kompasianer di sebuah kafe sederhana di kawasan Depok. Pertemuan itu bukan sekadar diskusi, melainkan perjumpaan gagasan—tempat pengalaman diramu menjadi inspirasi.
Pergi ke Depok membeli pena,
Singgah sejenak di Margonda Raya.
Ilmu dibagi penuh makna,
Menulis jadi ladang pahala.
Momentum itu sekaligus menandai satu dekade perjalanan beliau di Kompasiana. Sejak tulisan perdana “Hari Jum’at Bapak-ku” pada 20 Agustus 2010, hingga 2020, tercatat ribuan tulisan telah dipublikasikan. Sebuah konsistensi yang tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari disiplin dan cinta terhadap dunia literasi. Bahkan pada kesempatan itu pula, beliau meluncurkan buku ke-30 berjudul “PSBB Jakarta”.
Sepuluh tahun menulis setia,
Tak lekang oleh waktu dan usia.
Tulisan tumbuh menjadi karya,
Menginspirasi sesama manusia.

Di balik produktivitas itu, tersimpan semangat berbagi yang luar biasa. Thamrin Dahlan tidak berhenti sebagai penulis, tetapi melangkah lebih jauh dengan mendirikan Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD). Melalui wadah ini, para penulis difasilitasi untuk menerbitkan buku secara gratis—sebuah langkah nyata membangun ekosistem literasi.
Menanam benih di tanah pertiwi,
Tumbuh subur menjadi taman.
Berbagi ilmu sepenuh hati,
Literasi hidup sepanjang zaman.
Gerakan literasi itu terus berkembang. Tidak hanya melalui komunitas, tetapi juga lewat platform digital terbitkanbukugratis.id. Dari penelusuran, ratusan buku telah terbit, lengkap dengan ISBN dan tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Para penulisnya datang dari berbagai daerah dan profesi, menunjukkan bahwa literasi tidak mengenal batas.
Dari desa hingga kota raya,
Tulisan lahir penuh cerita.
Beragam profesi satu cita,
Membangun bangsa lewat kata.
Apa yang dilakukan Thamrin Dahlan bukan sekadar aktivitas pribadi, melainkan gerakan kolektif. Dalam waktu relatif singkat, ratusan karya lahir dari tangan-tangan yang sebelumnya mungkin ragu untuk menulis. Ini adalah bukti bahwa semangat dapat menular, dan keteladanan mampu menggerakkan.
Api kecil jangan diremehkan,
Bila dijaga jadi nyala.
Gerakan kecil yang ditegakkan,
Mampu menerangi bangsa.
Menjelang usia 70 tahun pada 7 Juli 2022, perjalanan hidupnya menjadi refleksi panjang. Seorang purnawirawan Polri dengan pangkat Komisaris Besar, yang setelah pensiun justru menemukan dunia baru dalam menulis. Dunia yang menjauhkan dari kehampaan, sekaligus mendekatkan pada makna hidup.
Usia senja bukan penghalang,
Untuk terus berkarya nyata.
Langkah pasti terus melangkah,
Menulis jadi cahaya jiwa.

Sebagai sesama penulis di Kompasiana, kebersamaan dalam berbagai kegiatan, termasuk Kompasianival, memperkuat ikatan persaudaraan. Spirit literasi tidak hanya tumbuh dalam tulisan, tetapi juga dalam silaturahmi yang terjaga.
Bersua kawan hati pun senang,
Cerita lama kembali terurai.
Literasi bukan sekadar karang,
Tapi jalinan jiwa yang damai.
Dari Tempino di Jambi hingga Jakarta Timur, jejak perjalanan Thamrin Dahlan adalah kisah tentang pulang—pulang pada akar, pada pengabdian, dan pada makna hidup. Ia membuktikan bahwa menulis bukan hanya aktivitas, tetapi warisan.
Tempino jauh di tanah Jambi,
Jalan lintas jadi saksi.
Menulis bukan sekadar hobi,
Tapi jejak abadi generasi.
Jakarta, 22 Juni 2022
Salam Literasi
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Spirit Literasi Kompasianer Pensiunan Polri Thamrin Dahlan”, Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/issonkhairul4358/62b28db9790169721249a7b2/spirit-literasi-kompasianer-pensiunan-polri-thamrin-dahlan?page=all#section1
Kreator: Isson Khairul








