Silaturahim Menyentuh Langit

Boy Erlangga Erdwan

SILATURAHIM MENYENTUH LANGIT

Boy Erlangga Erdwan

Minggu, 29 Maret 2026, ba’da Dzuhur.
Seusai makan siang di kediaman Pak Etek Thamrin Dahlan di Bumi Harapan Permai, Jakarta, kami berangkat menuju Ciputat. Satu kendaraan, dikemudikan oleh Dr. Hakim, membawa kami bersilaturahim ke salah seorang orang tua kami di Perum Taman Kedaung.

Pergi ke Ciputat di sore hari,
Singgah sebentar di Taman Kedaung.
Silaturahim bukan sekadar bertemu diri,
Namun mengikat hati menuju nan  agung.

Perjalanan terasa biasa saja. Namun siapa sangka, siang menjelang sore itu menghadirkan peristiwa yang begitu dalam maknanya.

Saat hendak berpamitan pulang, Pak Etek Thamrin Dahlan menghampiri saudaranya, Syahrial Ibrahim—yang akrab kami panggil Pak Etek Ujang. Beliau merangkul erat, lalu berkata lirih namun menghunjam hati:

“Tinggal batigo kito, Da…”

Yang dimaksud tentu bertiga—bersama Tek Darna—sebagai generasi tersisa dari dua nenek kami, Almarhumah Daridam dan Kamsiah.

Pelukan itu tak sekadar pertemuan dua saudara. Ia berubah menjadi luapan rasa. Tangis pecah. Waktu seakan berhenti.

Burung terbang hinggap di dahan,
Senja datang langit meredup.
Selagi ada waktu dan kesempatan,
Jalin kasih sebelum panggilan menjemput.

Di sela isak, terdengar kalimat yang makin menggetarkan:

“Sekarang ini tinggal Simatupang…”
Lalu disambung dengan suara bergetar,
“Siang malam tunggu panggilan…”

Awak berdiri terpaku. Diam. Hati tersentuh dalam. Peristiwa itu begitu sederhana, namun sarat makna kehidupan—tentang usia, tentang kehilangan, tentang kesiapan kembali kepada Sang Pencipta.

Tak lama kemudian, Pak Etek Thamrin meminta Pak Etek Ujang memimpin doa. Kami pun mendekat. Suara doa mengalun pelan, bergetar. Mata beliau terpejam—seakan menatap langsung ke langit, memohon dengan sepenuh jiwa.

Kami mengamini dalam haru.

Dalam perjalanan pulang dari Ciputat, bayangan peristiwa itu terus terulang dalam benak. Hati ini berbisik:

Beginilah silaturahim itu…
Bukan sekadar kunjungan.
Melainkan pertemuan yang dipenuhi kasih sayang, kesadaran akan waktu, dan nuansa spiritual yang mendalam.

Silaturahim bukan hanya menyambung hubungan manusia, tetapi juga mengingatkan kita pada perjalanan menuju keabadian.

Semoga kisah singkat ini menjadi pelajaran berharga bagi generasi kita berikutnya.

Insya Allah.


 

  • Bogor, 29 Maret 2026
  • Boy Erlangga Erdwan

Tinggalkan Balasan