Pesta Rakyat Lomba Mancing

Terbaru, YPTD91 Dilihat

 

Pesta Rakyat Lomba Mancing

Sebagian orang  menjadikan memancing sebagai hobi. Hobi ini berbeda dengan para nelayan yang memang profesinya seperti itu untuk menafkahi keluarga. Pas weekend, ada yang memanfaatkan waktu untuk menyalurkan hobi ini. Ada pula yang menjadikan hobi ini tanpa mengenal waktu bahkan melalaikan kewajiban.

Awak bukan seorang pemancing ikan.  Namun sangat suka menikmati lauk ikan bawal yang disayur tauco. Memancing hobi sebagian rakyat yang memiliki kesabaran luar biasa. Disitulah awak tak betah duduk berlama lama menunggu umpan disambar ikan.

Bukan untuk berdemo, bukan untuk berpesta glamor.
Tapi untuk memancing. Untuk tertawa. Untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu.

Sebuah pesta rakyat.

Tanggal 20 September 2025, Sabtu pagi itu, langit Jakarta cerah seperti memberi restu. Di Waduk Kelurahan Dukuh, RW 03, Jakarta Timur, ratusan orang telah berkumpul. Saya datang bukan sebagai peserta, tapi sebagai saksi dari apa yang sebetulnya lebih dari sekadar perlombaan.

Tepat pukul 08.00, setelah 3 ton ikan gabus dilepaskan ke dalam waduk, lomba memancing pun dimulai. Ada 200 peserta yang ikut serta, masing-masing membayar Rp.35.000 sebagai biaya pendaftaran. Tapi lebih dari biaya, mereka datang membawa semangat.

Lebih dari Sekadar Lomba

Di tengah semangat memancing, terdengar sorak-sorai dan tawa. Hadiah untuk pemancing yang berhasil mengail ikan bertanda pita merah putih adalah Rp. 50.000. Jumlah itu mungkin tidak besar di mata dunia bisnis atau birokrasi, tapi menjadi kebanggaan tersendiri di tengah warga.

Di pinggir waduk, di bawah tenda-tenda sederhana yang disewa panitia seharga Rp. 75.000, para penjual makanan dan minuman berjejer: ada gorengan panas, teh manis, kopi hitam, dan mi instan berkuah. Para ibu, bapak, dan anak-anak berseliweran. Ini bukan sekadar keramaian — ini kehidupan.

Panggung Hiburan Rakyat

Tak hanya lomba memancing. Di ujung waduk, sebuah panggung hiburan disiapkan. Musik dangdut dan lagu-lagu nostalgia dinyanyikan dengan iringan organ tunggal. Beberapa warga naik ke panggung, menyanyi dengan percaya diri dan tawa lepas.

Acara berlanjut hingga sore hari, tanpa kegaduhan, tanpa konflik. Hanya warga yang ingin berbagi ruang dan waktu untuk tertawa bersama, menyapa tetangga, dan mengisi akhir pekan dengan makna yang sederhana tapi dalam.

Makna Humaniora dari Pesta Rakyat

Lomba memancing ini bukan sekadar kegiatan akhir pekan — ini adalah miniatur masyarakat. Di sana ada gotong royong, kesetaraan, ekspresi seni, dan kebersamaan tanpa pretensi.

Tanpa perlu panggung politik atau kata-kata besar, pesta rakyat seperti ini menjadi ruang yang sangat manusiawi — di mana kita tak diukur dari jabatan, bukan dari status sosial, tapi dari tawa yang kita bagi dan momen kecil yang kita rayakan bersama.

Pesta seperti ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak harus mahal, dan kebersamaan tidak harus formal. Kadang, cukup dengan memancing, makan bersama, dan menyanyi di panggung kecil.

Saya pulang dari Waduk Kelurahan Dukuh bukan hanya membawa cerita tentang ikan atau hadiah lomba. Tapi membawa kesan bahwa pesta rakyat bukan soal megahnya acara, tapi soal dalamnya makna. Tentang manusia yang berkumpul, bukan untuk saling menyaingi, tetapi untuk saling menemani.

Semoga pesta-pesta seperti ini terus tumbuh — bukan hanya di tepi waduk, tapi di tepi-tepi hati yang sering sepi karena kesibukan.

 

  • Salam Sejahtera
  • BHP, 22 September 2025
  • TD

 

Tinggalkan Balasan