
Komunitas Lansia Perjaka (Paguyuban Jalan Kaki) Kampong Dukuh Olahraga Buperta Cibubur dihari kerja
Saya Suka Hari Senin, Juga selasa rabu kamis jum’at sabtu dan ahad bersebab semua warna almanak merah
I Love Monday
Tulisan ini pertama kali saya unggah pada tahun 2010, tak lama setelah resmi pensiun dari dunia kerja. Tujuan sederhana : Memberikan semangat kepada teman-teman yang masih aktif bekerja agar tidak ikut-ikutan larut dalam ungkapan “I Hate Monday.”
Kini, lima belas tahun sudah saya menikmati masa pensiun. Banyak yang berubah, tentu saja—termasuk kegiatan saya sehari-hari. Tak lagi mengajar, tak lagi berkejaran dengan jadwal. Aktivitas saya sekarang lebih sederhana namun terasa bermakna: ibadah, olahraga, menulis, dan menjalin silaturahim.
Saya teringat candaan seorang teman sesama pensiunan yang pernah mengatakan,
“Almanak di rumah saya semua tanggalnya merah.”
Maksudnya, semua hari serasa hari Minggu. Tidak ada bedanya Senin atau Selasa, Rabu Kamis, Jumat atau Ahad. Smuanya terasa libur.
Namun, bagi mereka masih aktif bekerja, Senin tetaplah hari yang ‘menantang’. Apalagi jika akhir pekan sebelumnya panjang—libur sejak Kamis, misalnya, karena Imlek, lalu Jumat cuti bersama, disambung Sabtu-Minggu. Empat hari bebas, lalu… tiba-tiba Senin datang membawa alarm pagi, jalanan macet, absen ketat, dan setumpuk pekerjaan. Wajar kalau banyak yang mengeluh, “Kenapa sih Senin harus ada?”
Saya juga pernah merasakan suasana sepert itu. Selama lebih dari 30 tahun menjadi abdi negara, Senin adalah hari paling berat. Rasanya malas luar biasa untuk memulai Hari Senini si awal pekan. Namun mau tidak mau, tetap harus dijalani. Bangun pagi, ngedumel sebentar, lalu berangkat juga—karena ya, itulah tanggung jawab. Tetapi lama lama terbiasa. Bisa bersahabat dengan Senin.
Tapi sekarang? Setelah pensiun, justru saya bisa bilang dengan santai:
“Saya sangat suka hari Senin dan kawan kawannya.”
Kenapa? Karena saya bisa mengisinya dengan hal-hal yang saya pilih sendiri. Tanpa tekanan, tanpa atasan, tanpa absen. Pagi hari saya awali dengan ibadah, lalu dilanjutkan olahraga ringan. Kadang menulis, kadang bertemu teman lama, kadang hanya duduk menikmati kopi sambil membaca. Semua terasa ringan, dan… menyenangkan.
Satu hal membuat saya tetap semangat bukan lagi gaji, tapi rasa syukur. Bisa bangun pagi dalam keadaan sehat, bisa bergerak, bisa berpikir, dan bisa tetap bermanfaat meski tidak lagi “aktif” secara formal.
Ternyata, rasa cinta terhadap hidup itu bisa tumbuh lebih dalam justru setelah kita melepas banyak beban. Dan dari situ saya belajar, bahwa hari Senin tidak harus dibenci. Ia bisa jadi hari yang indah—asal kita melihatnya dari sudut yang tepat.
Jadi ya…
Kami tetap suka hari senin, selasa rabu kamis jumat sabtu dan ahad. Sampai sore pun tetap suka. Komunitas Pensiunan menikmati hidup dengan penuh syukur
- Kampong Dukuh 29 September 2025
- Salam Olahraga







