Tidak Pantang Makan Daging Kambing

Terbaru, YPTD202 Dilihat

Rekor Kambing

 

Saya pegang rekor diri sendiri: 10 hari tidak berhenti makan kambing. Maksud saya: daging kambing. Siang kambing. Malam kambing.

Tebakan Anda benar: itu karena saya harus makan masakan halal selama di Beijing awal September tadi. Semua restoran halal menu utamanya kambing. Buku menunya tebal, tapi tiap halamannya selalu ada kambing.

Selingannya: la mian –mie tarik. Kuahnya juga terasa kuah kambing. Selingan lain: daging ayam. Aromanya juga kambing. Tentu masih ada sayur-sayuran. Bumbunya terasa kambingnya.

Untung sarapan paginya di hotel. Lebih banyak sayur, roti, bakbao (tujuh jenis bakbao), mie, jagung, telo, kentang, labu, telur direbus air teh, salad, bubur xiao mi, bubur delapan jenis kacang-kacangan, dan susu kedelai. Hampir tidak ada daging.

Begitu menjelang siang mulailah berpikir: ke resto yang mana siang nanti. Ada enam resto halal di sekitar hotel saya. Namanya beda-beda menunya hampir sama.

Papan nama resto halal umumnya berwarna hijau. Ada tulisan 清真 kecil di sebelah nama resto yang ditulis besar. Kadang ada juga tulisan Arab amat kecil yang bunyinya ”halal”. Di restoran yang sangat besar kadang ada tulisan Arab ukuran kecil yang bunyinya bismillahirrahmanirrohim.

Yang di sekitar hotel semua tulisannya Mandarin. Tidak ada tulisan Arabnya. Memang kelas resto ini kelas sederhana. Hotel ini berlokasi di pinggiran timur Beijing. Hotelnya juga kecil. Di ruko. Tapi dibuat modern. Minimalis tapi ditata dengan sangat apik –mirip hotel kecil di Jepang.

Menjelang senja kesibukan kembali sama: soal di mana makan malam. Pilihan pertama pasti sate kambing. Di resto mana pun daging kambingnya pasti empuk. Gurihnya amat-amat.

Satenya bisa lima jenis: sate campur lemak, sate iga yang masih ada tulangnya, sate campur tulang muda, sate ukuran jumbo dengan tusuk dari besi panjang, sate jerohan kambing.


Yang tidak ada: gule kambing. Lain kali, kalau pergi lama begini, perlu sangu bumbu gule. Lalu merayu pelayan resto untuk membikinkan gule. Pasti mau. Kan hampir tiap hari makan di situ. Mau mereka modifikasi juga boleh: dicampur bumbu sate.

Semua resto itu milik orang suku Hui. Disebut huiming. Mereka juga menyebut kami ”huiming”. “Apakah kalian juga huiming?” tanya mereka kepada kami.

Maksudnya: apakah kami juga memeluk agama Islam. Tentu suku saya bukan Hui tapi tidak mengapa disebut begitu. Ibarat semua sepeda motor disebut Honda –apa pun mereknya.

Di salah satu resto saya menemukan menu baru. Senengnya bukan main. Ada yang beda. Seperti kue dipotong kecil-kecil lalu ditaburi wijen sangat rapat.

Akhirnya kami menemukan menu menarik yang bukan kambing. Saya pun bertanya apa yang dibungkus wijen yang amat rapat itu. Jawabnya bikin saya tersenyum sendiri: itu daging kambing yang dibungkus wijen!


Suku Hui di Beijing itu umumnya perantau. Mereka berasal dari provinsi Gansu –dengan ibu kotanya Lanzhou. Jauh di bagian barat Tiongkok. Gansu berbatasan dengan provinsi Xinjiang.

Tentu ada juga yang bilang datang dari Ningxia atau Qinghai –dua provinsi tetangga yang mayoritas penduduknya juga Muslim. Di Tiongkok terdapat 40.000 masjid, terbanyak di empat provinsi itu.

Sepuluh hari nonstop makan kambing saya pun punya dendam yang kuat: begitu tiba di rumah kelak akan langsung makan soto Banjar made in Galuh Banjar.

Akhirnya saya tiba di Indonesia kembali. Begitu masuk rumah saya buka tudung makanan di meja: istri saya menyajikan gule iga kambing!

Alhamdulillah. Puji Tuhan. (Dahlan Iskan)

Komentar Thamrin Dahlan

Thamrin Dahlan YPTD

 

Thamrin Dahlan YPTD

Rekor Kambing.

Hebat Abah (setengah terpaksa) menikmati daging kambing besebab pilihan makanan halal lain tidak terlalu banyak di China.

Disamping nikmat daging kambing bisa diolah jadi sate, tongseng, kambing guling dan segala macam varian menu. Dijamin tetap enak. .

Perihal rekor, awak tidak terlalu berani banyak (banyak) menikmati olahan daging kambing bandot.. Lain halnya turunan sejenis kambing dialah domba atawa biri-biri.

Sejak dua setengah tahun lalu awak mengubah pola makan. Pasalnya berat badan sudah di posisi over weigh. Berat badan 90 Kg untuk tinggi 1.67 meter di usia kepala 7 termasuk resiko tinggi. .

Alhamdulillah berkat mengurangi takaran nasi hanya 3 sendok sekali makan berat badan beransur turun. Peerjuangan 2 tahun .kini Berat Badan bergerak antara 73 – 75 kg.

3 tahun lalu ketika ikut senam dansa di Gathering Perusuh jilid 1 di Agrinex Banten terus terang awak ter engah – engah .. Alhamdulillah di Property Kang Yana Bandung sudah bisa mengikuti irama joget Abah dan Mbak Pipit .

Terima kasih sobat memberikan resep Diet : Nikmati, Batasi Imbangi (NBI).

NIKMATI :Selama makanan itu halalan thoyiban silahkan nikmati, Tak boleh ber pantang pantang misalnya daging kambing juga duren.

BATASIi : Ya sesuai pula Sunah Rasulullah Nabi Muhammad SAW adab makan /minum batasi makanan. Makan ketika lapar, Makan sepertiga dan berhenti sebelum kenyang.

IMBANGI : Giat Olahraga dan Silaturahmi dalam porsi sama dengan porsi makan

  • Salam Sehat
  •  BHP, 23 sEPTEMBER 2025
  • TD

Tinggalkan Balasan