Waduk Trisoko Tabebuya

 

Waduk Trisoko & Tabebuya

Pagi Ahad itu, langkah kaki kami arahkan ke Waduk Trisoko, kawasan yang belum terlalu sering kami jelajahi. Memang baik jika aktivitas jalan kaki tidak terpaku di satu tempat saja. Ada suasana baru yang disambut semangat, terlebih di akhir pekan saat warga cenderung mencari lokasi yang ramai dan menyenangkan.

Kali ini, jarak dari rumah ke lokasi kurang lebih 1.500 meter. Cukup lumayan untuk memacu detak jantung. Sejak pagi, kami sudah bersiap, membawa bekal spesial: rendang, masakan istri tercinta yang rasanya tak perlu diragukan lagi. Makanan itu kami titipkan ke rumah sahabat yang sedang dalam perjalanan menuju Kota Bogor, juga untuk berolahraga.

Oh ya, seperti biasa, kami pun membawa makanan kucing. Cukup tujuh genggam. Baru berjalan sebentar, sudah tujuh ekor kucing liar mendapat jatah sarapan. Beberapa melintasi jalan raya yang mulai ramai. Kendaraan umum dan sepeda motor melaju cepat—mungkin semua terburu-buru menuju tujuan masing-masing. Kami pun tetap waspada.

Pukul tujuh pagi kami tiba di Waduk Trisoko. Lokasinya berada di RW 01, Kelurahan Dukuh, Kramatjati, Jakarta Timur. Alhamdulillah, cuaca bersahabat. Tidak terlalu panas, angin berhembus lembut. Di bagian depan waduk, ibu-ibu tengah bersemangat senam pagi, mengikuti hentakan musik dangdut dari pengeras suara. Suasana penuh semangat dan tawa.

  • Berjalan pagi menyusuri waduk,
    Tabebuya mekar menyapa mata.
    Silaturahmi, sehat, penuh semangat,
    Itulah berkah kehidupan sederhana.

Kami mulai mengelilingi waduk. Area jogging tidak terlalu luas, mungkin hanya seperempat dari luas Waduk Kabapin yang biasa kami kunjungi di RW 03. Meski begitu, kawasan ini tertata rapi dan bersih. Tidak tampak sampah mengambang di air. Pinggirannya telah diturap dengan baik. Airnya pun tenang, tidak terlalu tinggi. Beberapa warga tampak memancing di tepi waduk.

Semakin banyak warga yang berdatangan, namun suasananya tetap lebih tenang dibanding tempat-tempat populer lainnya. Ketika melewati sisi timur, istri menunjuk ke arah pepohonan rindang.

“Eh, pohon Tabebuya-nya sudah mulai berbunga.”

Tabebuya—pohon yang aslinya berasal dari Jepang, bunganya berwarna-warni, indah menawan. Meskipun belum semuanya berbunga, kehadiran bunga-bunga pertama ini cukup membuat hati berbunga juga. Saya langsung teringat, di Perumahan Bumi Harapan Permai juga ada pohon serupa, tapi belum berbunga. Mudah-mudahan, ‘tertular’ dari pohon yang ini.

“Siap, Komandan. Semangat olahraga!” seru seseorang dari kejauhan.

Ah, itu Bang Rustam. Purnawirawan Polri yang juga kawan main tenis meja di Dukuh 5. Beliau tengah jogging kecil bersama beberapa teman. Kami sempat menyapa, lalu sampai di ujung waduk, di mana ada lapangan pingpong terbuka. Beberapa warga sedang bermain di sana.

Bang Rustam kembali menghampiri,

“Sip, Ndan. Kapan kita latihan pingpong bareng?”

Ah, semoga bisa segera terlaksana. Kata orang tua-tua: olahraga itu nomor tiga. Nomor satu adalah silaturahim, dan nomor dua… makan-makan. Kami pun tertawa kecil mengingat candaan yang ternyata cukup mengena.

Dalam perjalanan pulang, kami menyeberangi Kali Cipinang—sumber air yang juga melintasi depang rumah kami. Keringat mulai bercucuran. Kami melewati gang-gang sempit perkampungan padat, akhirnya sampai di belakang Gedung PLN. Jalan Raya Bogor agak lengang karena libur. Beberapa warga bersepeda dalam rombongan kecil.

 

Langkah terus berlanjut, melewati SMP 49—tempat anak-anak kami dulu bersekolah. Hingga tiba di simpang Hek, kami mampir membeli lontong sayur khas Padang. Dua bungkus, untuk kami nikmati di rumah. Sambil menunggu, kami meneguk air mineral, menyegarkan kembali tubuh yang mulai letih.

Alhamdulillah, latihan pagi ini terasa pas. Keringat membasahi kaos, tanda kerja jantung dan otot telah sesuai target. Kami naik angkot nomor 06. Sepi, hanya kami penumpangnya. Tapi sang sopir tetap tenang dan tersenyum. Di dashboard terpajang tulisan: “I Love Islam” dan sepotong ayat dari Surah Al-Insyirah. Sebuah pengingat: rezeki itu dijamin, tinggal kita menjemputnya dengan ikhtiar.

Saat turun, istri menyerahkan uang ongkos.

“Ini kembaliannya, Bu.”

“Untuk Abang sopir saja, semoga barokah, ya.”

Sesampainya di rumah, kami langsung cuci muka, lalu duduk berdua menikmati seporsi lontong sayur yang dibagi dua. MasyaAllah… nikmat mana lagi yang engkau dustakan?

  • Salam Olahraga
    Ahad, 5 Oktober 2025
    TD

 

Tinggalkan Balasan