Nikmati, Batasi, Imbangi: Rahasia Sehat ala Sunah Rasul
Rekor kambing! Begitulah saya berseloroh setiap kali menikmati sajian daging kambing. Mau bagaimana lagi—di beberapa daerah di Indonesia pilihan makanan halal lumayan banyak.
Masakan daging kambing menjadi bintang utama di meja makan. Dari sate, tongseng, gulai, sampai kambing guling, semuanya terasa nikmat, apalagi bila disantap bersama teman seperjuanga.

Namun, di balik kenikmatan itu, ada kisah lain yang patut saya bagi. Saya dulu dikenal sebagai “pecinta porsi besar”. Berat badan sempat mencapai 90 kilogram dengan tinggi badan hanya 1,67 meter—angka yang membuat dokter menggeleng pelan.
Di usia kepala tujuh, kondisi itu tentu berisiko tinggi bagi kesehatan. Maka, dua setengah tahun lalu saya memutuskan untuk berubah pola makan, perlahan namun pasti.
Makan sate di tepi kali,
Sambal kecap menambah rasa.
Nikmat itu cukup hanya sekali,
Semakin terasa makan bersama
Langkah pertama saya sederhana: mengurangi takaran nasi menjadi tiga sendok setiap kali makan. Awalnya terasa berat, tapi lambat laun tubuh belajar beradaptasi.
Tanpa obat pelangsing, tanpa diet ekstrem, berat badan turun bertahap hingga stabil di kisaran 73–75 kilogram. Perjuangan dua tahun yang terbayar lunas ketika napas mulai ringan dan langkah terasa lebih luwes.
Saya teringat momen tiga tahun lalu ketika ikut senam olahraga di Gathering Perusuh Jilid 1 di Agrinex, Banten. Baru beberapa lagu, saya sudah terengah-engah.
Kini, saat acara serupa diadakan di Property Kang Yana Bandung, saya sudah bisa mengikuti irama joget Abah Dahlan Iskan dan Mbak Pipit sampai sneam usai tuntsa.n napas. Alhamdulillah, tubuh memberi balasan manis bagi disiplin terjaga.
Pergi ke pasar membeli serabi
Jangan lupa membawa wadah.
Pola diet sehat nikmati batasi imbangi
Tapi karena tekad ingin berubah
Rahasia kecil saya ternyata dirangkum dalam tiga kata ajaib: Nikmati, Batasi, Imbangi (NBI).
Prinsip ini sederhana namun sarat makna.
Nikmati—selama makanan itu halalan thayyiban, nikmatilah tanpa rasa berpantang pantangan makan . Tidak perlu menolak kambing atau durian.
Batasi—ikuti adab makan Rasulullah ﷺ yang mengajarkan keseimbangan. Beliau bersabda:
“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus makan lebih dari itu, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napas.
(HR. At-Tirmidzi no. 2380)
Imbangi mari disiplin lengkapi dengan olahraga serta silaturahmi. Tubuh perlu digerakkan, hati perlu dirawat dengan kebersamaan. Sehat bukan sekadar angka di timbangan, tapi keseimbangan antara raga dan jiwa.
Mentari pagi menebar cahaya,
Menyapa bumi penuh pesona.
Jaga badan sehat bugar terjaga
Hidup seimbang InshaAllah bahagia
Kini saya memahami, kunci hidup sehat bukan menolak nikmat, tapi mengelolanya dengan bijak. Nikmati makanan dengan syukur, batasi sesuai sunah, dan imbangi dengan gerak serta silaturahmi. Dari situlah lahir keseimbangan yang menenteramkan.
- Salam Nikmati Batasi Imbangi
- BHP, 3 November 2025
- TD






