HUT ke – 3 GA 256 Meriah Mengesankan

Dendang Ria GA 256 Lomba Tarik Suara

Polri, Terbaru, YPTD145 Dilihat

Dendang Ria GA 256

Memperingati hari jadi Komunitas GA 256 ke-3, para sesepuh Lansia Kesehatan Polri memilih cara syukuran yang unik, murah senyum, dan tinggi tawa: lomba nyanyi. Jangan salah paham dulu—ini bukan ajang Indonesian Idol, apalagi X-Factor. Ini murni X-Tertawa, di mana nada boleh miring, asal silaturahmi tetap lurus.

Tiga tahun GA 256 berlalu tanpa terasa. Kata orang, cepat lambatnya waktu sangat tergantung padat tidaknya aktivitas. Dan GA 256 jelas padat manfaat. Dalam 36 bulan, lebih dari 25 kali kegiatan olahraga terlaksana. Artinya hampir 80 persen hidup kita diisi gerak badan, sisanya gerak hati dan… gerak pita suara . Luar biasa!

  • Pergi ke Cipete membeli ketupat,
  • Pulangnya mampir cari tekwan
  • Suara sumbang tak jadi soal sobat,
  • Penting bahagia tetap rukun kawan

Maka pada Rabu, 3 Desember 2025, bertempat di kediaman keluarga dr. Pamudji Santoso, Gang Asem 2 No. 46 Cipete, Jakarta Selatan, prosesi potong tumpeng pun berlangsung khidmat sekaligus hangat. Tumpeng pertama diberikan kepada Brigjen Pol (P) Drs. Sutrisno Untoro Apt, anggota kehormatan termuda GA 256—termuda secara status, bukan kalender kelahiran .

Pembina GA 256, dr. Soerjono SKM, Jenderal kelahiran 1932, menyampaikan kekaguman mendalam. Dari sekian banyak komunitas yang beliau ikuti, hanya GA 256 yang paling rajin silaturahmi tatap muka. Tepuk tangan pun menggema—bukan hanya karena pidato, tapi karena bangga pada diri sendiri.

 

Sejarah GA 256 dituturkan oleh dr. Pamudji Santoso dengan pesan sederhana tapi bermakna:

“Kita harus terus berkomunikasi intens, tatap muka, silaturahmi, agar spirit hidup tetap terjaga.”

Nama GA 256 pun bukan singkatan Garuda Indonesia. Ini murni historis dan penuh kenangan: Gang Asem 2 Nomor 56, lokasi kantor P2KP tempat ide, canda, dan persahabatan dirajut. Dari rekan kerja, kini jadi saudara kandung versi non-biologis.

Doa bersama dipanjatkan sebagai wujud syukur atas nikmat iman dan kesehatan, sekaligus mendoakan rekan-rekan yang telah mendahului:  Dr. Bambang Ibnu Soeparto, dr. Edi Saparwoko, dr. Slamet Pernomo, Drs. Seno. Semoga amal ibadah mereka diterima dan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Amin.

Usai makan siang dan Shalat Zuhur, tibalah acara puncak yang ditunggu-tunggu: lomba tarik suara. Bu Nani Alaydrus dan Mbak Irawati sigap mencatat peserta. Tercatat 15 orang, baik solo maupun duet. Ada yang latihan serius, ada pula yang mengandalkan jurus sakti: “Bismillah dan nekat.”

Juri lomba bukan kaleng-kaleng:

  1. Irjen Pol (P) dr. Arthur Tampi
  2. BJPP Drs Sutrisno Untoro , Apt
  3. KBPP Drs. Wignyo

Dr Musyafak dan Istri bertindak sebagai pengamat. Demikian pula Mas Suwondo, Bang Hans dan Mas Herry sibuk mengabadikan dokumentasi foto. Ya kita semua hadir sesuai peran masing masing.  Kebersamaan itulah penyebab utama kenapa kita selalu merindukan  antar sesama anggota GA 256.

Pemain organ pun siaga penuh. Prinsipnya jelas: penyanyi bebas memilih nada, organ yang wajib menyesuaikan. Kalau tak ketemu, ya kita ketawakan bersama.

Kami sadar, semua peserta adalah penyanyi amatir bersuara pas-pasan. Tapi justru di situlah nikmatnya. Tepuk tangan bercampur gelak tawa mengiringi setiap penampilan. Antara berani, grogi, dan lupa lirik—semua melebur jadi hiburan kolektif.

  • Ayam den lapeh terbang ke seberang,
  • Organ bingung cari cari nada.
  • Walau nyanyi bikin telinga berperang,
  • Hati senang itu yang utama.

Awak dan istri tampil duet membawakan “Ayam Den Lapeh” lalu disambung “Fatwa Pujangga”. Berdasarkan observasi objektif (versi penonton), kami masuk kategori: penonton stress karena nada dan organ jalan sendiri-sendiri

Dari pengamatan panggung hiburan GA 256, teridentifikasi 5 tipe stress dalam lomba nyanyi:

  1. Orang stress kalau disuruh nyanyi
  2. Orang stress kalau tidak disuruh nyanyi
  3. Penonton stress karena ada penyanyi maksa tampil
  4. Pemain organ stress karena lagunya belum terbit
  5. Panitia stress karena penyanyi tidak mau berhenti (satu album!)

Puncak hiburan terjadi saat Bu Ahmaysani dan Ibu Aminah tampil terakhir dengan lagu legendaris “Mati 3 Kali”. Sontak hadirin tergelak. Biasanya lagu ini langganan Bapak-bapak Polisi, kini dibawakan duo emak-emak penuh percaya diri. Soal mereka masuk kategori stress nomor berapa—biarlah sejarah yang mencatat .

Akhirnya dr. Arthur Tampi Ketua Tim Juri tampil mengumumkan hasil lomba. Gaya serius tapi bikin peserta loma tegang. Dan inilah para juara:

Juara 1: Ibu Suzi Soeryono

Juara 2: Ibu Lina Bambang Ibnu Soeparto

Juara 3: Ibu Yuyun Kurniasih

 

Peserta lain dinobatkan sebagai Juara Harapan 1–12.

  • Ibu Nani Alaydrus
  • Dr Djoko Ismoyo
  • Ibu dr Pamudji Santoso
  • Ibu Irawati
  • Dr Pamudji Santoso
  • Ibu Wignyo
  • Dr Soeryono
  • Ibu Kistu dan Ibu Wisye
  • Dr Lukman Hakim
  • Drg Shinta
  • Thamrin Dahlan / Enida Busri
  • Ibu Ahmaysani dan Ibu Aminah

Artinya, semua menang, karena hadiah utamanya bukan piala, melainkan kegembiraan tak terhingga.

Inilah resep sehat panjang umur versi GA 256: silaturahmi, tawa lepas, nyanyi tanpa beban. Semoga GA 256 tetap langgeng dan terus mendawamkan kebersamaan.

  • Gang Asem dua penuh cerita,
  • Lansia bernyanyi lupa usia.
  • Kalau hidup mau sehat dan ceria,
  • Seringlah kumpul, tertawa, dan bersuara.

Salamsalaman

TD

Tinggalkan Balasan