CATATAN PERJALANAN KEPALA SEKOLAH DAERAH TERPENCIL ( Bagian 18)

Fiksiana392 Dilihat

8th Day’s Challenge

KEPAHITAN BERBUAH MANIS

Libur sekolah pun tiba. Libur panjang akhir tahun ajaran dan libur hari raya Idulfitri berbarengan. Saat itu memasuki minggu ke 3 bulan Juni, dana BOS belum kunjung cair. Padahal seharusnya dana cair pada awal tri wulan kedua. Namun yang terjadi kali ini luar biasa, menjelang 1 minggu habis tri wulan ke 2  pun masih belum juga cair.

Keterlambatan pencairan dana BOS sangat mengecewakan dan membuat bingung kami di lapangan. Terlebih aku sebagai kepala sekolah. Saat itu aku sudah kehabisan uang, karena sudah tiga bulan menanggulangi biaya operasional sekolah. Padahal aku harus memikirkan sekedar uang THR untuk guru-guru, mengingat tinggal seminggu lagi hari raya akan tiba.

Kasihan sekali guru-guru di gunung. Walaupun mungkin tidak seberapa yang mereka terima, namun setidaknya mereka mempunyai uang untuk angpau untuk anak dan saudaranya.Tidak ada jalan lain aku minta pengertian anak-anakku untuk meminjamkan uang kami untuk membagikan THR. Kemudian Dede berangkat ke rumah-rumah guru-guru untuk menyampaikan uang THR tersebut.

Mengapa Mereka Menolak Niat Baikku?

“Assalamualaikum,” seseorang mengetuk pintu, ternyata Dede sudah kembali dari gunung. Dia pun kupersilahkan masuk.

“ Gimana, De? Sudah semua disampaikan?” tanyaku.

“Sudah Bu. Tapi…,” Ia terlihat ragu. “ Tapi kenapa, De?” tanyaku penasaran. “ Dede bingung harus bilang apa sama Ibu,” katanya.

“Lho, ada apa De? Ngomong aja ga usah bingung,” tanyaku penasaran.

“ Ini Bu. Tadi kan ketemu sama Bu haji Een, dan Bu Teni. Setelah buka amplop, mereka malah ga mau nerima malah mau balikin uangnya sama Ibu besok, katanya mereka mau ke sini, besok,” jawab Dede.

“Lho? Kenapa ya, De? Apa kurang besaran THR segitu? Bukankah ga pernah ada THR sebelumnya?” tanyaku semakin penasaran.

“ Ga tahulah Bu. Dede juga gak ngerti sama jalan pikiran mereka. Bukannya terima kasih malah marah-marah,” kata Dede. Aku semakin heran mendengar penjelasan Dede. “ Aduh, maunya apa ini guru-guru?” kataku.

Setelah Dede pulang, aku mencoba menghubungi bu Een, tapi HP-nya tidak aktif.

Keesokan harinya, masih pagi ketika bu Een dan bu Teni datang ke rumahku. Mereka benar tidak mau menerima uang THR itu. Namun meminta dengan sangat agar aku membayarkan gaji bulan Juli lebih awal.  Aku bilang tidak bisa  menjanjikan, karena uangku habis. Itupun untuk uang THR memakai uag THR yang aku terima dari pemerintah.

Mungkin mereka mengira aku banyak uang terus, sehingga mereka mengira aku tidak kasihan kepada mereka, dan tega tidak mau membayarkan gaji bulan Juli lebih cepat sesuai permintaan mereka. Aku bilang aku sudah tidak pegang uang, selain yang dibagikan untuk THR. Tapi aku bilang akan menyampaikan jawabannya besoknya, bisa atau tidaknya.

Menjual Sepeda Motor Satu-Satunya

Di tengah kebingungan dengan situasi yang ada, aku merasa kasihan juga kepada guru-guru yang benar-benar hanya menggantungkan penghasilan dari sekolah. Walaupun sedikit,  tapi mereka sangat mengharapkan gajinya. Aku putuskan menjual sepeda motorku satu-satunya. Untungnya, suamiku sangat pengertian, mendukung keputusannku. Tidak sampai dua hari motor pun ada yang membelinya walaupun harganya kurang dari yang kami harapkan.

“ Biarlah Bu, untung laku segitu juga, kan sudah tua juga motornya,” kata suamiku. “ Benar, Bu. Ga apa-apa.  Nanti diganti kan dari uang sekolah?” sambung anakku. Aku memluk anakku sebagai ungkapan terima kasih karena mengijinkan  menjual motor kami satu-satunya itu. Aku merasa haru dan bersyukur, karena keluarga kecilku sangat memahami masalahku dan selalu memberi dukungan, baik materi maupun spirit.

( Bersambung)

Tinggalkan Balasan

1 komentar

  1. Jadi seorang kepala sekolah mesti tangguh juga ya bu. Tangguh perasaan karena berhadapan dengan pribadi yang beragam. Butuk kesabaran dan kecerdasan emosional tingkat tinggi. Tapi ibu sudah melewati semua. Selamat.